Wanita Dalam Pandangan Syiah (Bagian 2)

Wanita Dalam Pandangan Syiah (Bagian 2)

Hubungan Badan Melalui Dubur (Analseks)

Orang yang fitrahnya masih suci akan merasa risih dengan hal ini. Orang yang jiwanya masih bersih akan merasa jijik dengan pendapat ini. Meskipun bisa jadi mereka belum mengenal dalilnya. Bagaimana jika mereka tahu dalilnya? Perasaan risih dan jijik itu akan semakin kuat.

Dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma, terkait ayat:

نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُواْ حَرْثَكُمْ أَنَّي شِئْتُمْ

Istri kalian adalah ladang kalian, karena itu datangi ladang kalian dengan cara yang kalian kehendaki.

Ketika turun ayat ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada sahabatnya:

أقبل وأدبر واتق الدبر والحيضة

“Datangi dari depan atau dari belakang, tapi hindari dubur dan ketika keluar haid” [HR. Nasa’i dan Turmudzi. Ibnu Hajar mengatakan: Diriwayatkan Ahmad dan Turmudzi dengan jalur yang shahih (Fathul Bari, 8/191)]

Dalam riwayat lain, dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا ينظر الله إلى رجل أتى رجل أو امرأة في الدبر

“Allah tidak akan melihat seorang laki-laki yang melakukan hubungan dengan laki-laki lain atau dengan istrinya melalui dubur” [HR. Turmudzi 1165 dan dihasankan Al-Albani]

Demikian keterangan dari Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bagaimana ulama syiah berbicara?

Pertama, Ayatolah Khumaini dalam kitab Tahrir al-Wasilah mengatakan

والأقوى والأظهر جواز وطئ الزوجة مع الدبر

“Pendapat yang paling kuat adalah bolehnya menyetubuhi istri di dubur” [Tahrir al-Wasilah, 2/241]

Kedua, Hojatolah As-Sistani mengatakan:

أما وطئها في الدبر ففيه إشكال وإن كان الأظهر جوازه مطلقا مع رضاها وأما مع عدمه فالأحوط تركه. الأحوط الأولى أن يكفر عن وطء زوجته حال الحيض مع علمه بذلك فهي على الاحوط لاعلى اللزوم.

Adapun menyetubuhi wanita di dubur, dalam hal ini ada perselisihan, meskipun yang kuat adalah boleh secara mutlak, dengan ridha sang wanita. Namun jika dia tidak ridha, yang lebih hati-hati adalah ditinggalkan. Yang lebih hati-hati, dan lebih utama, dilarang menyetubuhi istri ketika haid, jika dia mengetahui hal itu. Ketentutan ini hanya sebagai kehati-hatian, dan bukan wajib.

[As-Sistani, Al-Masail Al-Muntakhabah, 9:35 – 36 , Dar Al-Muarrikh Al-Arabi, 1416]

Ketiga, Riwayat dari Syaikhut Thaifah, Abu Ja’far At-Thusi, dan mungkin inilah sumbernya:

a. Dari Abu Ya’fur, dia mengatakan:

سألت أبا عبدالله (ع) عن الرجل يأتي المرأة في دبرها ؟

Aku bertanya kepada Abu Abdillah ‘alaihis salam tentang orang yang menyetubuhi wanita dari belakang.

Abu Abdillah menjawab:

لا بأس إذا رضيت

Tidak mengapa, jika si wanita ridha.

b. Dari Abu Ya’fur, dia mengatakan:

سألت أبا الحسن الرضا (ع) عن إتيان الرجل المرأة من خلفها في دبرها ؟

Aku bertanya kepada Abul Hasan Ar-Ridha ‘alaihis salam tentang hukum seorang laki-laki yang menyetubuhi wanita dari belakang di duburnya? Abul Hasan mengatakan:

أحلتها آية من كتاب الله تعالى قول لوط (ع) (هؤلاء بناتي هن أطهر لكم)هود 78وقد علم أنهم لا يريدون إلا الدبر

Praktek ini dihalalkan oleh ayat Al-Quran, melalui perkataan Nabi Luth ‘alaihis salam:

[هؤلاء بناتي هن أطهر لكم ]

Ini putri-putriku, mereka lebih suci untuk kalian jadikan istri. (QS. Hud, 78), padahal Nabi Luth sudah tahu bahwa tidaklah kaumnya menginginkan kecuali bagian dubur.

Selanjutnya At-Thusi memberikan catatan untuk dua riwayat yang melarang bersetubuh melalui dubur. Salah satunya, riwayat dari Sadir, dia mengatakan

سمعت أبا عبدالله (ع) يقول : قال رسول الله (ص) (محاش النساء على أمتي حرام)

Saya mendengar Abu Abdillah (Imam Ja’far) ‘alahis salam bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Mahasyun Nisa’ (berhubungan melalui dubur) haram untuk umatku.

At-Thusi berkomentar:

Makna yang tepat untuk dua riwayat ini adalah menunjukkan makruh, karena yang paling utama adalah meninggalkan hal itu (anal seks), meskipun tidak terlarang. Yang menunjukkan hal ini adalah riwayat yang disebutkan oleh Ahmad bin Muhammad bin Isa dari Al-Barqi, dia marfu’kan dari Abu Ya’fur, Al-Barqi mengatakan: Saya bertanya kepadanya (Abu Ya’fur) tentang hukum menggauli wanita dari pantatnya (anal seks)? Dia menjawab:

ليس به بأس وما أحب أن تفعله

Tidak mengapa, dan saya ingin agar kamu tidak melakukannya.

At-Thusi melanjutkan: Bisa jadi dua riwayat di atas, disampaikan dalam konsteks taqiyah.

(Al-Istibshar, karya At-Thusi, 3/242. cet. Thahran, 1390)

***
Artikel muslimah.or.id
Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber: http://muslimah.or.id/keluarga/wanita-dalam-pandangan-syiah-bagian-2.html

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.