Ajaran Syiah: Taqiyah (Bagian 2)

Taqiyah Ajaran Syiah

Kita lanjutkan pembahasan tentang Aliran Syiah ini pada masalah ajaran Taqiyahnya. Anda bisa membaca tulisan sebelumnya Ajaran Syiah: Taqiyah (Bagian 1)

• Imam Al-Khomaeni dalam kitab Al-Rasa’il (II/96), mengatakan,

“Perlu diketahui bahwa yang bisa disimpulan dari riwayat-riwayat tersebut ialah keabsahan amal yang dilakukan karena taqiyah, disebabkan adanya perbedaan antara kita dan mereka soal hukum. Contohnya seperti hukum mengusap sepasang khuf dan berbuka bagi orang yang sedang uzur, atau dalam soal menetapkan masalah yang bersifat eksternal. Contohnya seperti melakukan wuquf pada tanggal delapan Dzulhijjah, karena menurut mereka bulan sabit sudah tetap.”

Perhatikan, bagaimana Al-Khomeini membaur dengan kaum Ahli Sunnah seperti seekor bunglon untuk merekatkan para pengikutnya dengan mereka, sehingga rahasia mereka tidak terbongkar. Bukannya menganjurkan dan menunjukkan para pengikutnya bahwa kita ini adalah sauara-saudaranya seagama, ia malah merekayasa taqiyah, mengajarkan jenis-jenisnya kepada mereka, dan tata cara melakukannya terhadap kita.

Selanjutnya Al-Khomeini berusaha membuka apa yang disembunyikannya, yakni bahwa taqiyah yang dilakukan terhadap kita adalah demi kepentingan-kepentingan tertentu. Ia tidak mensyaratkan hal itu demi mengkhawatirkan keselamatan nyawa.

• Dalam kitab Al-Rasa’il (II/201), Al-Khomeini mengatakan,

“Sesungguhnya kebolehan bahkan kewajiban melakukan taqiyah itu tidak tergantung pada kekhawatiran atas keselamatan nyawa atau sejenisnya. Bahkan yang jelas, kepentingan-kepentingan tertentu merupakan seabb diwajibkannya melakukan taqiyah kepada orang-orang Ahli Sunnah. Jadi, taqiyah dan menyimpan rahasia itu hukumnya wajib, jikalau dalam keadaan aman dan tidak khawatir atas keselamatan nyawanya.”

• Al-Khomeini dalam kitab Mishbah Al-Hidayah, hal. 154, cetakan pertama, Muassasah Al-Wafa’ –Beirut Libanon, mengatakan,

“Waspadalah wahai teman spiritualku kemudian waspadalah –semoga Allah selalu menolong Anda di dunia dan di akhirat- jangan sampai rahasia-rahasia ini terbongkar oleh orang luar, atau kamu ceritakan tidak pada tempatnya. Sesungguhnya ilmu batin syariat berupa hukum-hukum Ilahi dan rahasia-rahasia Tuhan harus tetap terjaga dari tangan-tangan orang lain dan dari pandangan-pandangan mata mereka, karena ilmu ini jauh dari jangkauannya dari ketajaman pikrian-pikiran mereka. Jangan sampai kamu memikirkan hal ini sebelum melakukan penelitian yang sempurna tentang kalimat-kalimat orang-orang ang memiliki cita rasa tinggi, dan mempelajari pengetahuan-pengetahuan dari para ahlinya, yakni guru-guru besar yang arif dan mulia. Kalau tidak, maka hanya dengan meruju’ kepada pengetahuan-pengetahuan seperti itu saja akan menambah kerugian dan tidak menghasilkan apa-apa.”

Saudara kami sesama Muslim, statemen Al-Khomeini tadi sama dengan statemen para ulama Syi’ah sebelumnya, yakni bahwa orang-orang Syi’ah tidak berani menyatakan terus terang keyakinan-keyakinan mereka yang bernada kufur dan syirik. Perhatikan, bagaimana Al-Khomeini tidak menuntut taqiyah harus ditutupi dari orang kebanyakan. Tetapi ia menuntut supaya taqiyah ditutupi dari orang-orang lain yang tidak seideologi dengannya. Tentunya yang ia maksudkan ialah orang-orang Ahli Sunnah.

Al-Khomeini tidak ingin ilmu ini hanya diketahui oleh para ulama saja. Ia juga tidak mengkhawatirkan atas orang awam. Tetapi atas orang-orang lain.

• Penyembunyian inilah yang diisyaratkan oleh seorang doktor Syi’ah terkini bernama Muhammad At-Tijani As-Samawi dalam kitabnya yang berjudul I’rif Al-Haqqa, hal. 13, cetakan pertama, Daar Al-Mutjaba-Beirut tahun 1995 Masehi. Ia mengatakan,
“Sikap ini penting sekali. Terkadang perlu sedikit keterusterangan, meskipun tetap harus disembunyikan demi kepentingan-kepentingan yang bersifat kondisional. Seperti yang telah diketahui oleh sebagian kalian, terkadang yang menjadi kendala ialah faktor situasi.”

• Kita kembali kepada Al-Khomeini dalam pembicaraan tentang taqiyah. Kita lihat ia mengatakan,

“Di antara taqiyah ada yang secara otomatis wajib dilakukan, yaitu untuk menandingi publikasi. Dan itulah makna menjaga untuk tidak mempublikasikan mazhab dan tidak menyiarkan rahasia Ahlul bait. Dari keterangan beberapa riwayat tampak jelas bahwa sesungguhnya taqiyah yang mendapat perhatian besar para imam Alaihimussalam ialah taqiyah yang satu ini. Sikap menyembunyikan kebenaran di negeri yang zalim adalah suatu kewajiban, dan kepentingannya ialah aspek-aspek politik agama. Sebab, tanpa taqiyah tentu mazhab akan terancam musnah dan bangkrut.” Lihat, Al-Rasa’il, (II/185).

Menurut kami, hal ini dan yang sebelumnya tadi merupakan statemen dari Al-Khomeini bahwa mazhab atau aliran Syi’ah berdiri berdasarkan ketertutupan, kesembunyian, dan rahasia-rahasia. Semua itu adalah cabang-cabang dari taqiyah yang seandainya tidak ada maka praktis mazhab akan terancam musnah dan bangkrut.

Apakah Muhammad Al-Ghazali Rahimahullah (ulama sunni) dan para simpatisan Syi’ah yang lain menyadari bahwa mereka sedang berpihak dengan orang-orang Syi’ah dalam statemen ini?

Ulama-ulama Syi’ah biasa pergi merantau ke negara-negara Sunni. Di sana mereka mengamalkan taqiyah dan berdusta kepada orang-orang Ahli Sunnah wal Jama’ah, yakni dengan berpura-pura memperlihatkan kalau mereka termasuk golongan Ahli Sunnah wal Jama’ah. Hal itu bertujuan demi kepentingan mencari-cari kesalahan orang-orang Ahli Sunnah wal Jama’ah. Di antara mereka yang melakukan misi culas tersebut ialah guru Syi’ah bernama, Muhammad bin Al-Husain Ibnu Abdush Shomad yang dikenal dengan nama Syaikh Al-Baha’i yang wafat pada tahun 1031 Hijriyah. Ia mengatakan, “Aku berada di Syiria dengan berpura-pura memperlihatkan seolah-olah aku adalah penganut mazhab Syafi’i…” Taqiyah dan kisahnya ini diceritakan sendiri oleh guru Syi’ah bernama Muhammad Muhammadi Al-Asytaharadi dalam kitabnya Ajwad Al-Mumazharat, hal. 188, cetakan pertama tahun 1416 Hijriyah, Daar Ats-Tsaqalan-Libanon.

Saudara kami sesama Muslim, coba Anda perhatikan bahwa ternyata taqiyah yang diagung-agungkan oleh imam-imam kaum Syi’ah, adalah taqiyah yang menganjurkan mereka untuk menjaga diri jangan sampai mazhab dan kebohongan yang mereka sembunyikan tersiar di kalangan orang-orang Ahli Sunnah.

Syaikh Muhammad Al-Ghazali Rahimahullah (ulama sunni) dengan gigih membela fatwa Syaikh Syaltut tentang diperbolehkannya beribadah berdasarkan mazhab Syi’ah Itsna Asyar. Kami sangat yakin bahwa Al-Ghazali dan Syaltut Rahimahullah tidak memahami ucapan-ucapan yang sangat berbahaya dan riwayat-riwayat yang menanggap kafir kaum Ahli Sunnah tersebut.

• Seorang ulama Syi’ah terkemuka bernama Syahrastani dalam catatan pinggir halaman 138 kitab Awa’il Al-Maqalat, yang terbit di Beirut tahun 1403 Hijriyah, surat edaran Maktabah At-Turats Al-Islami, mengatakan sebagai berikut, “oleh karena itulah, golongan para imam dari Alul Bait seringkali merasa sangat perlu untuk menyembunyikan tradisi, atau akidah, atau fatwa, atau tulisan, dan lain sebagainya yang hanya khusus bagi mereka. Demi tujuan yang sakral inilah orang-orang Syi’ah memanfaatkan taqiyah untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian secara lahiriah1 [1 Lihat, bagaimana Allah membuat orang aliran Rafidhah ini berbicara dengan terus terang bahwa pergaulan orang-orang Syi’ah dengan kita selama ini hanya sekedar basa-basi saja, bukan yang sebenarnya. Apakah orang-orang Ahli Sunnah wal Jama’ah menyadari hal itu?] dengan kelompok lain, karena mereka mengikuti jejak langkah para imam dari keluarga Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam serta keputusan-keputusan penting mereka sekitar kewajiban melakukan taqiyah, berdasarkan prinsip salah seorang ulama terkemuka Syi’ah, ‘Taqiyah adalah agamaku dan agama nenek moyangku. Barangsiapa yang tidak melakukan taqiyah, ia tidak punya agama sama sekali.’ Jadi kalau demikian, agama Allah itu berjalan di atas sunnah taqiyah.”

Menurut saya, taqiyah yang buruk ini telah memakan korban Syaltut, Muhammad Al-Ghazali Rahu Rahimahumallah, dan selainnya oleh niat baik mereka sendiri. Tetapi kami ingin mengomentarinya sebagai berikut:

Pertama, sesungguhnya menurut kaum Syi’ah, taqiyah itu bukan demi menjaga keselamatan nyawa, seperti anggaan beberapa orang dari kaum Ahli Sunnah yang selalu mengandalkan niat yang baik. Tetapi secara mendasar, taqiyah adalah untuk menutupi kenistaan-kenistaan mazhab Syi’ah dan sikap permusuhannya terhadap orang-orang Ahli Sunnah.

Kedua, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya tentang target statemen. Al-Khomeini bahwa taqiyah bukan hanya untuk menjaga jiwa dan harta. Melainkan juga untuk kepentingan yang lain. Contohnya untuk melakukan shalat dengan versi mereka. Diriwayatkan oleh Al-Hurru Al-Amili dalam Wasa’il Asy-Syi’ah (XI/466), dari Ali bin Muhammad, ia berkata, “Wahai Daud, jika kamu katakan, sesungguhnya orang yang meninggalkan taqiyah itu seperti orang yang meninggalkan shalat, berarti kamu benar.”

Bersambung..

Sumber: Al-Mushili, Abdullah. Mengungkap Hakikat Syi’ah. Jakarta: Darul Falah

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.