Syiah Menjerumuskan Orang-orang Awam

 HAKIKAT-HAKIKAT SYI’AH  MELIBATKAN DAN MENJERUMUSKAN ORANG-ORANG AWAM

Salah satu cara menjebak orang-orang yang tidak mengetahui hakikat Syi’ah, yakni orang-orang yang terburu-buru larut dalam masalah-masalah sulit yang terkait antara mazhab Syi’ah dan mazhab Ahli Sunnah wal Jama’ah supaya mereka bisa menulis atau membuat statemen demi kepentingan Syi’ah, ialah seperti yang dilakukan oleh guru Syi’ah, Murtadha Al-Radhwi dalam kitabnya Ma’a Rijal Al-Fikri fi Al-Qahirah. Seorang syaikh yang biasa dipanggil Murtadha Al-Hukmi menulis untuknya mukadimah kitab tersebut. Ia memuji kitab ini berikut penulisnya apda halaman 21, cetakan pertama, tahun 1974. Ia mengatakan sebagai berikut:
“Sesungguhnya Ustadz Ar-Radhwi sering mengamati beberapa masalah akidah dan sejarah dengan pola-pola lain bersama bersama banyak tokoh intelektual dan budaya. Akhirnya ia sampai pada suatu sikap untuk memahami pentingnya kerukunan. Ia benar-benar menyatu dengan tokoh-tokoh budayawan yang eksklusif.35[Kelompok yang eksklusif, karena mereka adalah orang-orang miskin yang tidak mengetahui sama sekali tentang taqiyah, dan tidak pernah melihat isi kitab-kitab Syi’ah, seperti: Al-Kafi, Bihar Al-Anwar, Tafasir Al-Qummi, Al-Iyasyi Al-Kufi, Basha’ir Ad-Darajat, Madinat Al-Ma’ajiz, dan kitab-kitab Syi’ah lainnya. Mereka begitu lugu, karena mereka tidak mengerti hal-hal yang disembunyikan oleh Syi’ah.] Ia berdialog dengan mereka dan melontarkan beberapa masalah penting yang membuat mereka teperdaya di dalamnya,36[Dengar, wahai saudaraku sesama Muslim, kalimat “… yang membuat mereka teperdaya di dalamnya …” Itulah tujuan mereka, yakni memperdaya orang-orang miskin yang mengaku pintar dan enggan mengenali siapa Syi’ah yang ingin terus membuat pertanyaan dan menulis untuk kepentingan mereka.] sampai pada pernyataan-pernyataan dan ucapan-ucapan yang hanya berharga bagi fiqih Syi’ah.”37[Lihat, bagaimana tujuan mereka yang ingin menjerat orang-orang lugu itu lewat ucapan-ucapan dan pernyataan-pernyataan yang digunakan untuk kepentingan Syi’ah. Jadi tegasnya, tujuan mereka bukan untuk persatuan kaum Muslimin, melainkan untuk menyebarkan dan membela Syi’ah.]
Sebagai contoh, Syaikh Murtadha Ar-Radhwi dalam kitabnya Ma’a Rijal Al-Fikri fi Al-Qahirat, hal. 201-202 menceritakan dialog antara dirinya dan salah seorang tokoh pemikir di Mesri. Berikut ini yang berhasil ia kutip. Kata Ar-Radhwi,

“Beberapa tahun yang lalu akau berkunjung ke Kairo pada bulan Ramadhan yang penuh berkah. Pada suatu pagi aku mengetuk pintu rumah seorang ustadz. Seperti biasa ia menyambutku dan mempersilahkan aku masuk ke sebuah kamar untuk beristirahat. Ketika aku hendak pamit pulang, ia berkata, ‘Maukah malam ini Anda berbuka di rumah kami.’ Aku penuhi permintaannya. Aku lalu diajak masuk ke rumahnya yang cukup megah. Aku masuk ke rumahnya bertepatan dengan waktu maghrib. Setelah mengucapkan salam aku lalu masuk dan duduk di ruangan yang telah disediakan untuk tamu. Setelah beramah-tamah denganku, ia segera menghilang dariku selama beberapa menit. Selanjutnya ia muncul kembali dengan membawa sebuah piring kecil berisi korma yang diisi dengan pisang. Ia mulai mengambil makanan tersebut sepotong lalu dimasukkan ke dalam mulutnya. Ia mengambil sepotong lagi makanan tersebut dan menyodorkan piring itu kepadaku seraya berkata, ‘Silahkah.’ Aku segera mengambil makanan itu. Tetapi aku membiarkannya di depanku. Ia berkata, ‘Aku sudah berbuka. Kenapa Anda tidak ikut berbuka?’ Aku menjawab seraya mengutip firman Allah Ta’ala surat Al-Baqarah ayat 187, ‘Kemudian sempurnakanlah puasa itu samai (datang) malam.’ Kemudian aku bertanya, ‘Apakah sekarang sudah bisa disebut waktu malam?’ Ia menjawab, ‘Tidak.’ Aku bertanya, ‘Kalau begitu kenapa aku harus berbuka? Wahai ustadz, lihat mega di arah timur itu masih tampak jelas. Dan kami orang-orang Syi’ah Imamiyah tidak boleh berbuka pada saat sekarang ini. Sebaiknya Anda menunggu beberapa menit lagi sampai warna merah di langit itu benar-benar hilang. Saat itulah kita baru boleh berbuka. Kami sangat menyayangkan sikap saudara-saudara kami orang Sunni.’ Akhirnya ia berkata, ‘Kalau begitu sekarang aku bersama kalian…’.”

Kami ingin mengatakan, sesungguhnya waktu shalat maghrib dan waktu berbuka bagi roang yang berpuasa ialah ketika matahari terbenam. Terdapat beberapa hadits shahih dari jalur-jalur sanad Ahli Sunnah yang menerangkan hal itu. Apa yang dilakukan oleh Ar-Radhwi itu benar. Tetapi kenapa ia tidak teguh dengan keyakinannya ketika sedang menghadapi orang Syi’ah tersebut? Hal itu disebabkan karena ketidaktahuannya. Jika apa yang ia katakan tadi benar. Sesungguhnya terdapat beberapa riwayat Syi’ah yang membenarkan waktu yang digunakan berbuka oleh orang-orang Ahli Sunnah dan sudah tiba saatnya waktu mghrib menurut mereka.

• Diriwayatkan oleh Syaikh Muhammad Ali bin Babawaih Al-Qummi ynag diberi julukan Ash-Shaduq dalam kitabnya yang dibuat pegangan oleh orang-orang Syi’ah, Faqih Man la Yahdhuruhu Al-Faqih, jilid I, hal. 142, Daar Al-Kutub Al-Islmiyat-Teheran, dari Ash-Shadiq Alaihissalam, ia berkata, “Jika matahari telah terbenam, maka boleh berbuka dan wajib shalat.”
• Riwayat ini juga diketengahkan oleh Al-Hurru Al-Amili dalam kitab Wasa’il Asy-Syi’ah, jilid VII, hal. 90, Daar Al-Ihya’, At-Turats Al-Arabi-Beirut.

• Diriwayatkan oleh Al-Hurru Al-Amili dalam kitab Wasa’il Asy-Syi’ah, jilid VII, hal. 87, dari Zurarah, ia berkata, “Abu Ja’far Alaihissalam berkata, ‘Waktu maghrib ialah ketika bulatan matahari telah lenyap’.”
Diriwayatkan dari Abu Usamah Asy-Syahham, ia berkata,

“Seseorang bertanya kepada Abu Abdullah, “Apakah aku boleh menangguhkan shalat maghrib sampai bintang-bintang tampak jelas?” Ia menjawab, “Tidak. Sesungguhnya Jibril turun kepada Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam berikut keluarganya ketika bulatan matahari tenggelam.”

Riwayat ini diketengahkan oleh seorang guru Syi’ah bernama Al-Muhajir Al-Amili Habib Ali Ibrahim dalam kitabnya Al-Haqa’iq fi Al-Jawami’ wa Al-Fawariq, jilid II, hal. 383, Al-Muassasah Al-Islamiyyah Lin-Nasyr-Beirut 1407 Hijriyah.

Jadi, yang dianggap ialah hilangnya matahari. Dan itulah yang dilakukan oleh orang yang dikunjungi Ar-Radhwi yang tidak mengetahui sama sekali apa yang ada di kitab-kitab kaum Ahli Sunnah dan kaum Syi’ah.

• Diriwayatkan oleh Ash-Shaduq dalam kitab Faqih Man la Yahdhuruhu Al-Faqih, jilid I, hal. 142, dari Abu Abdullah Alaihissalam, ia berkata,

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berikut keluarganya shalat maghrib, dan ikut shalat pula bersama beliau keluarga besar Bani Salamah, salah satu suku kaum Anshar yang jarak kediaman mereka sejauh setengah mil. Setelah shalat bersama beliau, mereka lalu pulang ke rumah mereka dalam keadaan masih bisa melihat tempat jatuhnya anak-anak panah mereka.”

Lihat, bagaimana ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selesai shalat, lalu orang-orang dari keluarga besar Bani Salamah yang menjadi makmumnya sama pulang ke tempat kediaman mereka dalam keadaan masih bisa melihat tempat jatuhnya anak-anak panah mereka?

• Diriwayatkan oleh Ash-Shaduq dalam kitab Faqih Man la Yahdhuruhu Al-Faqih, jilid I, hal. 142, dari Zaid Asy-Syahham, ia berkata,

“Pada suatu ketika aku naik ke atas Gunung Abu Qubais ketika orang-orang sudah sama selesai shalat maghrib. Aku melihat matahari ternyata belum tenggelam. Ia hanya tersembunyi dari penglihatan manusia di balik gunung. Lalu aku bertemu Abu Abdullah Alaihissalam. Ketika aku ceritakan hal itu kepadanya, ia berkata, ‘Kenapa kamu melakukan hal itu? Buruk sekali apa yang telah kamu lakukan. Kamu baru shalat maghrib jika kamu sudah tidak melihat matahari berada di balik gunung. Baik sudah tenggelam atau tergelincir selama ia tidak tertutup oleh awan atau kegelapan. Pada saat itu kamu harus berpedoman pada arah timur dan arah baratmu, dan manusia tidak boleh mencari-cari’.”

• Diriwayatkan oleh Al-Muhajir Al-Amili dalam kitabnya Al-Amili dalam kitabnya Al-Haqa’iq fi Al-Jawami’ wa Al-Fawariq, jilid 2, hal. 373, dari Al-Fadhal bin Syazan, dari Ar-Ridha Alaihissalam, ia berkata,

“Sesungguhnya shalat itu diperintahkan pada waktu-waktu seperti ini, tanpa boleh dimajukan maupun diundur. Soalnya waktu-waktu yang sudah terkenal dan sudah diketahui secara umum oleh penghuni bumi, baik yang bodoh maupun yang pintar itu ada empat. Pertama, tenggelamnya matahari adalah waktu yang sudah terkenal, dan pada saat itu diwajibkan shalat maghrib ….”
Apakah orang-orang Ahli Sunnah melakukan selain itu?

Dan apakah Ar-Radhawi melakukan selain itu?

• Syaikh Al-Barujardi dalam kitabnya Jami’ Ahadits Asy-Syi’ah, jilid IX, hal. 165, mengutip ucapan dari penulis kitab Al-Da’im. Ia mengatakan,

“Kami mendapatkan riwayat tentang Ahlul bait Shalawatullah Alaihim berdasarkan kesepakatan soal apa yang kami ketahui dari para perawi, bahwasanya masuknya waktu malam yang memperbolehkan berbuka bagi orang yang berpuasa, ialah hilangnya matahari di ufuk barat tanpa ada penghalang yang menutupinya, baik berupa gunung, atau dinding, dan lain sebagainya. Jika bundar matahari telah lenyap di ufuk, berarti waktu malam telah masuk dan boleh berbuka.”

• Disebutkan dalam Wasa’il Asy-Syi’ah, jilid VII, hal. 91, sebuah riwayat dari Husain bin Abu Al-Arandas, ia berkata,
“Aku pernah melihat Abul Hasan Musa Alaihissalam di Masjidil Haram pada bulan Ramadhan. Ia didatangai oleh seorang anak remaja berkulit hitam yang mengenakan dua pakaian serba putih dengan membawa sebuah teko dan gelas. Ketika mendengar seorang muazin mengumandangkan azan, anak itu segera menuangkan isi teko ke gelas. Abul Hasan menerima kemudian meminumnya.”

• Riwayat ini juga diketengahkan oleh Al-Barujardi dalam Jami’ Ahadits Asy-Syi’ah, jilid IX/166.
Coba Anda perhatikan, bagaimana Imam Musa Al-Kazhim Rahumahullah biasa berbuka puasa seperti yang lazim dilakukan oleh orang-orang Ahli Sunnah. Ia tidak menunggu seperti yang dilakukan oleh Ar-Radhwi yang begitu pandai menipu dan mengaburkan masalah terhadap orang-orang Sunni yang sangat lugu dan perlu dikasihani. Bahkan ia biasa berbuka puasa dengan azan orang-orang Ahli Sunnah di Masjidil Haram.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.