Syiah Mengkafirkan Para Sahabat

ORANG-ORANG Syi’ah MENCACI-MAKI DAN MENGANGGAP KAFIR PARA SHAHABAT RADHIYALLAHU ANHUM

Sesungguhnya para ulama Syi’ah menakwili ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebut tentang orang-orang kafir dan orang-orang munafik sebagai para shahabat terbaik Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Alihi. Dan disebabkan taqiyah, mereka membuat kode tersendiri bagi ketiga orang khalifah, yakni: Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Contohnya seperti kode Al-Fashil berarti Abu Bakar, Rama’ berarti Umar, dan Na’tsal berarti Utsman. Mereka juga memiliki kode-kode lain. Contohnya seperti Fulan, Fulan, dan Fulan. Maksudnya ialah, Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Atau kode Yang Pertama, Yang Kedua, dan Yang Ketiga. Yang dimaksudkan juga Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Atau kode Habtar dan Dallam, yang berarti Abu Bakar dan Umar. Atau bisa berarti Umar dan Abu Bakar. Selain semua itu mereka juga memiliki kode lain, yaitu Dua Berhala Quraisy, yang berarti Abu Bakar dan Umar. Atau Fir’aun dan Hamman, atau Ijlu Al-Ummat dan As-Samiri, yang berarti Abu Bakar dan Umar.
Sementara di lingkungan pemerintahan Shafwiyah, mereka jarang menggunakan taqiyah. Yang mereka berlakukan ialah menganggap kafir shahabat-shahabat terbaik Muhammad Shallallahu Alaihi wa Alihi secara tegas dan terbuka.
Coba anda simak beberapa takwil berikut ini:

• Diriwayatkan oleh Al-Kulaini dalam Al-Kafi, jilid VIII, riwayat nomor 523, dari Abu Abdullah tentang firman Allah Ta’ala surat Fushshilat ayat 29, “Ya Rabb kami, perlihatkanlah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami (yaitu) sebagian dari jin dan manusia agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina.” Ia mengatakan, “Yaitu mereka berdua.” Kemudian ia mengatakan, “Si Fulan ialah syetan.”

• Al-Majelisi dalam kitabnya Mir’at Al-Uqul, jilid (XVI/488) dalam syarah atau ulasannya terhadap kitab Al-Kafi, soal penjelasan yang dimaksudkan oleh penulis kitab Al-Kafi, dengan kalimat mereka. Katanya, mereka adalah Abu Bakar dan Utsman. Dan yang dimaksud dengan kalimat Fulan adalah Umar. Atau yang dimaksud dengan kalimat jin dalam ayat tersebut ialah Umar. Disebut seperti itu, karena ia adalah syetan, mungkin disebabkan karena ia sekutu syetan lantaran ia dituduh sebagai anak zina, atau mungkin karena dianggap seperti syetan yang suka berbuat makar dan menipu. Dan terakhir mungkin sebaliknya, yakni bahwa yang dimaksud dengan Fulan ialah Abu Bakar.

• Dalam Tafsir Al-Iyasyi (I/121), Al-Burhan (II/208), dan Ash-Shafi (I/242), beberapa ulama Syi’ah meriwayatkan dari Abdullah, sesungguhnya ia mengatakan tentang firman Allah Ta’ala surat Al-Baqarah ayat 168, “Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan.” Ia mengatakan, “Demi Allah, yang dimaksud dengan langkah-langkah syetan ialah kekuasaan Fulan dan Fulan”, yakni Abu Bakar dan Umar.

• Dalam Tafsir Al-Iyasyi (II/355), Al-Burhan (II/471), dan Al-Shafi (III/246), mereka meriwayatkan dari Abu Ja’far tentang firman Allah Ta’ala surat Al-Kahfi ayat 51, “Dan tidaklah Aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.” Katanya, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Alihi berdoa, “Ya Allah, jayakanlah agama lewat jasa Umar bin Khaththab, atau lewat jasa Abu Jahal bin Hisyam.” Lalu Allah menurunkan ayat, “dan tidaklah Aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.”

• Dalam Tafsir Al-Iyasyi (I/307), Ash-Shafi (I/511), dan Al-Burhan (I/422), mereka meriwayatkan dari Abu Abdullah tentang firman Allah Ta’ala surat An-Nisa’ ayat 137, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kemudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya.” Katanya, ayat ini turun menyinggung tentang si Fulan dan si Fulan (Abu Bakar dan Umar). Semula mereka beriman kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Alihi, kemudian mereka menjadi kafir setelah mereka disodori Al-Wilayah oleh Ali yang menjadi tuannya.” Selanjutnya mereka beriman lagi dengan membai’at Amirul Mukminin Alaihissalam. Sebelum membai’at beliau, mereka mengatakan, “Ini karena perintah Allah dan Rasul-Nya.” Tetapi begitu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Alihi berlalu, mereka kembali kafir dan tidak mengakui bai’at. Selanjutnya mereka bertambah kafir dengan memusuhi orang yang mereka bai’at. Terakhir, di dalam diri mereka tidak ada iman sedikit pun.

• Dalam Tafsir Al-Iyasyi (II/240), Al-Burhan (II/309), mereka meriwayatkan dari Abu Ja’far tentang firman Allah Ta’ala surat Ibrahim ayat 22, “Dan berkatalah syetan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan.” Katanya, itu adalah Yang Kedua. Dan yang mereka maksud dengan Yang Kedua ialah Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu.

Dalam Al-Wafi, kitab Al-Hujjah, bab tentang ayat yang diturunkan kepada mereka Alaihimussalam dan tentang musuh-musuh mereka, jilid II, hal. 920, mereka meriwayatkan dari Zurarah, dari Abu Ja’far tentang firman Allah surat Al-Insyiqaq ayat 19, “Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).” Ia mengatakan, “wahai Zurarah, apakah umat ini sepeninggalan Nabinya tidak melalui tingkat demi tingkat dalam urusan si Fulan, si Fulan, dan si Fulan?” Yang mereka maksudkan ialah Abu Bakar, Umar, dan Utsman Radhiyallahu Anhum.

• Al-Allamah Syi’ah, Al-Faidh Al-Kasyani mengatakan, melalui tingkatan Abu bakar, Umar, dan Utsman adalah istilah lain dari menjadikan mereka satu demi satu sebagai khalifah.

• Tentang firman Allah Ta’ala surat At-Taubah ayat 12, “Maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu”, mereka meriwayatkan dalam Tafsir Al-Iyasyi (II/82), Al-Burhan (II/107), dan Ash-Shafi (II/324), dari Hanah bin Sudair, dari Abu Abdullah Alaihissalam, ia berkata,

“Aku pernah mendengar ia mengatakan, ‘Beberapa orang dari penduduk Bashrah menemuiku. Mereka bertanya kepadaku tentang Thalhah dan Az-Zubair. Aku katakan kepada mereka, ‘Mereka adalah dua pemimpin di antara pemimpin-pemimpin orang kafir’.”

• Tentang kalimat jibt dan thaghut yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala surat An-Nisa’ ayat 51, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al-Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut”, para ulama ahli tafsir Syi’ah menafsirkan, bahwa keduanya adalah dua orang shahabat, pembantu dekat, mertua, dan sekaligus wakil Rasulullah, yakni Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu Anhuma.15[Lihat, Tafsir Al-Iyasyi (I/273), Al-Shafi (I/459), dan Al-Burhan (I/377).]

• Tentang firman Allah surat Al-Hijr ayat 44, “Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka”, Al-Iyasyi dalam Tafsir Al-Iyasyi (II/263), dan Al-Bahrani dalam Al-Burhan (II/364), meriwayatkan dari Abu Bashir, dari Ja’far bin Muhammad Alaihissalam, ia berkata,

“Tujuh pintu dipasang pada Jahannam. Pintu pertama untuk orang yang zalim, yakni Zuraiq. Pintu kedua untuk Habtar. Pintu ketiga untuk Yang Ketiga. Pintu keempat untuk Mu’awiyah. Pintu kelima untuk Abdul Malik. Pintu keenam untuk Askar bin Hausar, dan pintu ketujuh untuk Abu Salamah. Dan mereka memiliki beberapa pintu untuk para pengikut masing-masing.”

• Menafsiri hal itu, Al-Majelisi dalam kitab Bihar Al-Anwar (VIII/308), mengatakan,

“Zuraiq ialah si mata hijau. Ini nama lain dari Yang Pertama alias Abu Bakarm karena orang-orang Arab merasa sial dengan matanya yang berwarna hijau. Habtar ialah pelanduk. Ini adalah nama lain dari Yang Kedua alias Umar. Disebut seperti barangkali karena ia pintar membuat rekayasa dan makar. Menurut keterangan riwayat-riwayat yang lain, dan inilah yang dominan, fakta yang justru sebaliknya. Nama Habtar itu lebih cocok bagi Yang pertama, dan mungkin itu pula yang dimaksudkan. Kalau Yang Kedua lebih didahulukan, karena ia terkenal lebih kejam, kasar, dan keras. Askar bin Hausar adalah nama lain dari beberapa khalifah Dinasti Bani Umayyah atau Bani Abbas. Demikian Abu Salamah adalah nama lain dari Abu Ja’far Ad-Dawaniqi. Atau mungkin Askar adalah nama lain dari Ausyah dan para pasukan Perang Jamal, karena unta yang dipakai oleh Aisyah dalam Perang Jamal bernama Askar. Tetapi ada yang meriwayatkan, bahwasanya ia adalah syetan.”

Tentang firman Allah Ta’ala surat An-Nisa’ ayat 108, “Ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai”, terdapat riwayat dari Abu Ja’far, bahwasanya ia mengatakan, “Yang dimaksud ialah si Fulan, si Fulan, dan si Fulan, yakni Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.” Riwayat tadi disebutkan oleh Al-Iyasyi dalam Tafsir Al-Iysasyi (I/301), dan oleh Al-Bahrani dalam Al-Burhan (I/414).

Disebutkan dalam riwayat lain dari Abul Hasan, ia berkata, “Mereka adalah Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Dalam sumber yang sama, Al-Iyasyi mengatakan, “Mereka adalah Abu Bakar dan Umar.” Dalam riwayat lain dari Abul Hasan, ia berkata, “Mereka adalah Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Dalam sumber yang sama, Al-Iyasyi mengatakan, “Mereka adalah Abu Bakar dan Umar.”

Dalam riwayat yang lain lagi disebutkan, “Mereka adalah Yang Pertama, Yang Kedua, dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.” Yang dimaksud dengan Yang Pertama ialah Abu Bakar, dan yang dimaksud dengan Yang Kedua ialah Umar.

• Tentang kalimat perbuatan keji dan kemungkaran dalam firman Allah Ta’ala suart An-Nahl ayat 90, “Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan”, mereka menafsirinya dengan kepemimpinan Abu Bakar, Umar, dan Utsman.

• Mereka meriwayatkan dalam Tafsir Al-Iyasyi II/289, Al-Burhan (II/381), dan Ash-Shafi (III/151), dari Abu Ja’far Alaihissalam, bahwasanya ia berkata, “Allah melarang dari yang keji (Yang Pertama), yang mungkar (Yang Kedua), dan permusuhan (Yang Ketiga).”
Disebutkan dalam Bihar Al-Anwar, jilid XXVII/58, si perawi berkata, aku bertanya kepada seorang imam Syi’ah,

“Siapa musuh-musuh Allah itu, semoga Allah memperbaikimu?” Ia menjawab, “Yaitu, keempat berhala.” Aku bertanya, “Siapa mereka?” Ia menjawab, “Abul Al-Fashil, Rama’, Na’tsal, dan Mu’awiyah berikut para pengikutnya. Siapa yang memusuhi mereka berarti ia memusuhi musuh-musuh Allah.”

Guru-guru Syi’ah, Al-Majelisi dalam Bihar Al-Anwar (XXVII/58) ketika menjelaskan istilah-istilah ini mengatakan,
“Abul Fashil adalah Abu Bakar, karena kalimat Al-Fashil dan Al-Bakar itu memiliki kemiripan makna. Kalimat Rama’ adalah kebalikan kalimat Umar, dan yang dimaksud dengan Na’tsal ialah Utsman.”

Tentang firman Allah Ta’ala surat An-Nuur ayat 40, “Atau seperti gelap gulita.” Kata mereka, si Fulan dan si Fulan “di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak”, yaitu Na’tsal “yang di atasnya ombak (pula)”, yakni Thalhah dan Az-Zubair “di atasnya (lagi) awan gelap gulita yang tindih-bertindih”, yakni Mu’awiyah.

Kata Al-Majelisi dalam Bihar Al-Anwar (XXIII/306), yang dimaksud dengan si Fulan, dan si Fulan, ialah Abu Bakar dan Umar. Dan yang dimaksud dengan Na’tsal ialah Utsman.

Di antara istilah-istilah kaum Syi’ah yang juga mereka gunakan untuk memberikan kode Abu Bakar dan Umar ialah penakwilan mereka terhadap surat Asy-Syams ayat 3 “Dan siang apabila menampakkannya”, yaitu munculnya Al-Qa’im, “dan malam apabila menutupinya”, yaitu Habtar. Habtar dan Dallam adalah orang yang suka menutupi kebenaran. Demikian yang dituturkan oleh Al-Majelisi dalam Bihar Al-Anwar (XXIV/72-73), dan Tafsir Al-Qummi (II/457).

Guru Syi’ah, Al-Majelisi dalam Bihar Al-Anwar, (XXIV?73) juga mengatakan, “Habtar dan Dallam adalah Abu Bakar dan Umar.”

A. Pernyataan-Pernyataan yang Menganggap Kafir dan Menghujat Shahabat

• Seorang ulama Syi’ah, Ni’matullah Al-Jazairi dalam kitabnya Al-Anwar An-Nu’maniyah, jilid II, hal. 244, Mansyurat Al-A’lami-Beirut, mengatakan sebagai berikut,

“Imamiyah atau Syi’ah Itsna Asyar mengatakan berdasarkan nash yang jelas atas imamah ‘kepemimpinan’ Ali. Mereka menganggap kafir dan menghujat para shahabat. Mereka mengkhususkan imamah kepada Ja’far Ash-Shadiq. Alaihissalam sampai kepada putra-putranya yang ma’shum Alaihimussalam. Penulis kitab ini, insya Allah termasuk golongan yang selamat tersebut.”

• Al-Allamah Syi’ah, Muhammad Baqir Al-Majelisi dalam kitabnya Mir’at Al-Uqul, jilid XXVI, hal. 213, menganggap shahih riwayat atas kemurtadan para shahabat, seperti yang dituduhkan oleh Syi’ah. Al-Kulaini dalam Ar-Raudhah min Al-Kafi mengetengahkan suatu riwayat nomor 341, dari Abu Ja’far Alaihissalam, ia berkata,

“Sepeninggalan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, semua manusia menjadi murtad. Kecuali hanya tiga orang, yakni Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi Rahimahullah.”

• As-Sayid Murtadha Muhammad Al-Husaini An-Najfi dalam kitabnya As-Sab’ah Minassalaf, hal. 7, mengatakan sebagai berikut,
“Sesungguhnya Rasul diuji oleh beberapa orang shahabat yang murtad atau keluar dari agama, kecuali hanya sedikit saja.”
• Al-Allamah Syi’ah, Ni’matullah Al-Jazairi dalam kitabnya Al-Anwar An-Nu’maniyah, jilid I, bab I, hal. 53, mengatakan sebagai berikut,

“Sesungguhnya Abu Bakar shalat di belakang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan mengenakan berhala yang bergambar dan bergantung di lehernya. Ia bersujud kepada berhala itu.”

• Al-Allamah Zainuddin An-Nabathi dalam kitabnya Ash-Shirath Al-Mustaqim, jilid III, hal. 129, mengatakan sebagai berikut,

“Umar bin Khaththab adalah orang kafir yang menyembunyikan kekafirannya, dan pura-pura memperlihatkan keislamannya.”

• Al-Allamah Zainuddin An-Nabathi dalam kitabnya Ash-Shirath Al-Mustaqim, jilid III, hal. 161-167, membuat dua pasal tersendiri. Pasal pertama ia namakan, Pasal tentang Ibu Kejahatan Aisyah Ummul Mukminin; dan pasal kedua secara khusus membahas tentang kecaman terhadap hafshah Radhiyallahu Anha. Yang ia beri nama. Pasal Tentang Saudara Perempuannya Hafshah.”

• Al-Allamah Al-Majelisi dalam Mir’at Al-Uqul, jilid XXV, hal. 151 mengomentari riwayat cukup panjang yang terdapat dalam Al-Kafi, jilid VIII, riwayat nomor 23. Antara lain dikatakan, “Allah membunuh para diktator dengan keadaan baik-baik, mematikan Haman, dan membinasakan Fir’aun.”

Kata Al-Majelisi, riwayat ini shahih. Yang dimaksud dengan kalimat mematikan Haman ialah mematikan Umar, dan yang dimaksud dengan kalimat membinasakan Fir’aun ialah membinasakan Abu Bakar. Mungkin sebaliknya. Namun yang jelas, yang dimaksud ialah kedua orang celaka tersebut.

• Al-Majelisi dalam Mir’at Al-Uqul, jilid XXVI, ha. 167 menilai shahih riwayat Al-Kulaini yang diriwayatkannya dalam Ar-Raudhah, hal. 187, riwayat nomor 301. Riwayat ini bersumber dari Ajlan Abu Shalih, ia berkata,

“Pada suatu hari seseorang menemui Abu Abdullah Alaihissalam. Ia berkata, ‘Aku menjadi tebusan Anda. Inilah kubah Adam Alaihissalam.’ Abu Abdullah berkata, ‘Benar. Demi Allah, kubah seperti itu banyak. Ingat, sesungguhnya di belakang tempat pengasingan yang tanahnya berwarna putih dan dihuni oleh banyak makhluk. Mereka tampak bersinar karena cahayanya. Mereka tidak pernah durhaka kepada Allah Azza wa Jalla barang sekejap mata pun. Mereka tidak tahu, apakah Adam diciptakan atau tidak. Mereka terbebas dari si Fulan dan si Fulan.’

Kata Al-Majelisi, riwayat ini shahih. Yang dimaksud dengan Fulan dan Fulan ialah Abu Bakar dan Umar.

• Al-Khomeini dalam kitabnya Kasyfu Al-Asrar, hal. 126, mengatakan,

“Sesungguhnya kami di sini tidak ada urusan sama sekali dengan kedua orang tua itu berikut perbuatan mereka yang menyalahi Al-Qur’an, mempermainkan hukum-hukum Tuhan, menghalalkan maupun mengharamkan seenaknya sendiri, melakukan kezaliman terhadap Fatimah putri Nabi dan anak-anaknya. Tetapi kami hanya ingin mengatakan bahwa mereka itu tidak mengerti hukum-hukum Tuhan dan agama.”

• Dalam kitab yang sama halaman 137, ia juga mengatakan,

“Sesungguhnya orang-orang bodoh, dugu, dan pandir tersebut tidak patut memegang jabatan imam maupun menjadi waliyul amri.”

• Dalam kitab yang sama halaman 137, ia juga mengatakan,

“Faktanya mereka memang telah menghargai Rasul yang telah berjuang, bersungguh-sungguh, dan mengalami berbagai cobaan demi membimbing mereka. Beliau harus memejamkan mata karena telinganya selalu mendengar kalimat-kalimat Umar bin Khaththab yang mengada-ada, dan muncul dari perbuatan-perbuatan kufur serta zindiq.”

• Seorang ulama ahli tafsir Syi’ah, Al-Iyasyi dalam kitabnya Tafsir Al-Iyasyi; Al-Kasyani dalam kitabnya Ash-Shafi; dan Al-Bahrani dalam kitabnya Al-Burhan, menyebutkan bahwa Aisyah dan Hafshah Radhiyallahu Anhuma pernah mencoba meracuni Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yaitu ketika turun ayat 144 dari surat Ali Imran, “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul, Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?”

• Seorang ulama yang oleh kaum Syi’ah dijuluki Umdah Al-Ulama wa Al-Muhaqqiqi, Muhammad Nabi At Tusirakani dalam kitabnya La ‘ali Al-Akhbar, Maktabah Al-Alamat-Qumm, jilid iV. Hal. 92, mengatakan sebagai berikut,

“Ketahuilah, bahwasanya tempat, waktu, dan keadaan yang paling baik dan paling pantas untuk mengutuk mereka, ialah ketika kamu sedang sendirian berada di tempat buang air kecil yang sedang sepi dan kosong, maka berdoalah mengutuk mereka, ‘Ya Allah, kutuklah Umar, kemudian Abu bakar, dan Umar, kemudian Utsman dan Umar, kemudian Mu’awiyah dan Umar, kemudian Yazid dan Umar, kemudian Ibnu Ziyad dan Umar, kemudian Ibnu Sa’ad dan Umar, kemudian Syamr dan Umar, kemudian pasukan mereka dan Umar. Ya Allah, kutuklah Aisyah, Hafshah, Hindun, Ummul Hakam. Kutuklah orang yang merestui perbuatan-perbuatan mereka sampai hari Kiamat.”

• Ulama yang oleh Syi’ah disebut sebagai mujtahid terakhir, Muhammad Baqir Al-Majelisi, membuat suatu bab yang ia beri nama bab

“Kekufuran, Kemunafikan, Kebusukan Perbuatan, dan Kejelekan Jejak Peninggalan Tiga Orang, serta Keutamaan Melepaskan Diri dari Mereka dan Mengutuk Mereka” dalam kitab Bihar Al-Anwar, jilid XXX, hal. 79, Dzawi Al-Qurba. Yang dimaksud dengan tiga orang tersebut, ialah Abu Bakar, Umar, dan Utsman Radhiyallahu Anhum.

• Kata Al-Majelisi dalam kitab Bihar Al-Anwar, jilid XXX, hal. 230,

“Riwayat-riwayat yang menunjukkan atas kekafiran Abu Bakar dan Umar berikut shahabat-shahabatnya, pahala mengutuk mereka, dan berlepas diri dari mereka adalah perbuatan bid’ah mereka lebih banyak dari jilid ini, atau terdiri dari berjilid-jilid kitab yang bermacam-macam.”

B. Kutukan terhadap Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar Al-Faruq, dan Para Pemimpin Umat

• Diriwayatkan oleh guru Syi’ah, Taqiyuddin alias Ibrahim bin Ali bin Al-Husain bin Muhammad bin Shalih Al-Amili, atau yang lebih dikenal dengan nama Al-Kaf’ami16 [Kata seorang ulama Syi’ah ahli hadits, Abbas Al-Qummi, dalam buku Al-Kuna wa Al-Alqab (3/95), Shaida), “Ia adalah seorang ulama ahli hadits yang jujur dan mulia, sekaligus seorang penyir atau sastrawan yang zuhud dan wira’i. Ia telah menulis beberapa kitab. Di antaranya ialah Al-mishbah, dan Al-Jannatu Al-Wafiyatu wa Al-Jannatu Al-Baqiyatu, buku tersebut besar dan banyak faidahnya.] dalam kitab Al-Mishbah, hal. 552-553, cetakan kedua, 1975 Masehi, Muassasah Al-A’lami-Beirut, Libanon; dan cetakan tahun 1994 Masehi, hal. 732, Al-Mula Muhammad Baqir Al-Majelisi dalam Bihar Al-Anwar (LXXXV/260-261); As-Sayid urullah Al-Husaini Al-Mar’asyi At-Tastari atau yang oleh orang-orang Syi’ah diberi gelar Juru Bicara Syi’ah dalam Ihqaq Al-Haqqi (I/337), Maktabah Ayatullah Al-Mar’asyi-Qumm, Iran; Abdullah Muhammad Az-Zahid dalam Aksir A-Da’awati, hal. 62; dan Kazhim Ahmad Al-Ihsa’i An-Najfi dalam kitabnya Fawa’id Al-Du’a, hal. 301.

Berikut doa jahat yang mereka kait-kaitkan kepada Ali bin Abu Thalib17 [Ada doa lain yang disebut dengan Doa Ziarah Asyura yang berisi kutukan terhadap Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Mu’awiyah. Mereka memberikan kode dengan istilah yang pertama, yang kedua, yang ketiga, dan keempat. Lihat, Mafatih Al-Jinan, oleh Abbas Al-Qummi.],

“Ya Allah, bacakanlah shalawat kepada Muhammad berikut keluarganya, kutuklah dua berhala dan thaghut Quraisy berikut kedua putrinya18[Yang dimaksud ialah Aisyah dan Hafshah Radhiyallahu Anhuma.] yang melanggar perintah-Mu, mengingkari wahyu-Mu, mengkufuri nikmat-Mu, mendurhakai Rasul-Mu, mengubah agama-Mu, menyelewengkan Kitab-Mu, mencintai musuh-musuh-Mu, mengabaikan hukum-hukum-Mu, merusak kewajiban-kewajiban-Mu, tidak mempercayai tanda-tanda kekuasaan-Mu, memusuhi kekasih-kekasih-Mu, loyal terhadap musuh-musuh-Mu, merobohkan negeri-Mu, dan merusak hamba-hamba-Mu. Ya Allah, kutuklah mereka berikut para pengikut, para pendukung, para pembela, para simpatisan, dan para penolong mereka. Mereka telah merobohkan rumah nubuwat, merusak pintunya, menjebol atapnya, mempertemukan langit dan buminya, bagian atas dan bagian bawahnya, luar dan dalamnya, menumpas penghuninya, membinasakan para pendukungnya, membunuh anak-anak kecilnya, mengosongkan mimbarnya dari washinya serta pewaris ilmunya, dan menentang imamahnya. Mereka telah berani mempersekutukan Tuhan, dan melakukan dosa besar. Abadikan mereka di neraka Saqar. Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. Ya Allah, kutuklah mereka sebanyak kemungkaran yang pernah mereka lakukan, sebanyak kebenaran yang pernah mereka sembunyikan, sebanyak mimbar yang pernah mereka naiki, sebanyak orang Mukmin yang pernah mereka zalimi, sebanyak orang munafik yang pernah mereka sayangi, sebanyak wali yang pernah mereka sakiti, sebanyak penjahat yang pernah mereka lindungi, sebanyak orang jujur yang pernah mereka usir, sebanyak orang kafir yang pernah mereka tolong, sebanyak imam yang pernah mereka paksa, sebanyak kewajiban yang pernah mereka langgar, sebanyak kebenaran yang pernah mereka ingkari, sebanyak kejahatan yang pernah mereka bela, sebanyak darah yang mereka alirkan, sebanyak berita yang pernah mereka palsukan, sebanyak kekufuran yang pernah mereka tegakkan, sebanyak harta warisan yang pernah mereka rampas, sebanyak harta fai’ yang pernah mereka korupsi, sebanyak riba yang pernah mereka makan, sebanyak khumus atau bagian seperlima yang pernah mereka halalkan, sebanyak kebathilan yang pernah mereka tegakkan, sebanyak kesewenang-wenangan yang pernah mereka lancarkan, sebanyak kemunafikan yang pernah mereka sembunyikan, sebanyak kecurangan yang pernah mereka rahasiakan, sebanyak kezaliman yang pernah mereka sebarkan, sebanyak janji yang pernah mereka salahi, sebanyak amanat yang pernah mereka khianati, sebanyak yang pernah mereka langgar, sebanyak perkara halal yang pernah mereka haramkan, sebanyak perkara haram yang pernah mereka halalkan, sebanyak perut yang pernah mereka bedah, sebanyak janin yang pernah mereka gugurkan, sebanyak tulang rusuk yang pernah mereka mereka pecahkan, sebanyak persatuan yang pernah mereka cerai beraikan, sebanyak orang mulia yang pernah mereka hinakan, sebanyak orang hina yang pernah mereka muliakan, sebanyak kebenaran yang pernah mereka hambat, sebanyak kebohongan yang pernah mereka gelapkan. Sebanyak hukum yang pernah mereka rubah, dan sebanyak pemimpin yang pernah mereka tentang. Ya Allah, kutuklah mereka berdua dengan setiap ayat yang pernah mereka selewengkan, setiap kewajiban yang pernah mereka tinggalkan, setiap kesunatan yang pernah mereka rubah, setiap keutamaan-keutamaan yang pernah mereka halangi, setiap ketetapan-ketetapan yang pernah mereka terlantarkan, setiap bai’at yang pernah mereka langgar, setiap tuduhan yang pernah mereka mentahkan, setiap bukti yang pernah mereka ingkari, setiap rekayasa yang pernah mereka adakan, setiap pengkhianatan yang pernah mereka lakukan, setiap rintangan yang pernah mereka pasang, setiap orang lemah yang pernah mereka tindas, setiap kepalsuan yang pernah mereka upayakan, setiap kesaksian yang pernah mereka sembunyikan, dan setiap wasiat yang pernah mereka acuhkan. Ya Allah, kutuklah mereka atas kemunafikannya dengan kutukan yang banyak, terus-menerus, dan abadi tanpa pernah terputus. Kutuklah mereka berdua berikuta para pembantu, para pendukung, dan para pembela mereka, dan kaum Muslimin yang condong kepada mereka, yang memegangi argumen-argumen mereka, yang menuruti ucapan mereka, dan yang percaya pada keputusan-keputusan mereka. Ya Allah, azablah mereka dengan azab yang membuat para penghuni neraka sama memohon pertolongan daripadanya. Kabulkanlah, wahai Tuhan seru semesta alam.”

C. Rujukan-Rujukan Utama Syi’ah yang Memfatwakan Doa Tadi (Kutukan)

Doa ini terdapat dalam kitab mereka dengan bahasa Urdu berjudul Tuhfat Al-Awam Maqbulun Jadidun, oleh Manzhur Husain, hal. 422 dan seterusnya. Ia menyatakan, doa ini sesuai dengan fatwa keenam orang ulama yang menjadi rujukan Syi’ah. Mereka adalah:

  1. Sayid Muhsin Al-Hakim
  2. Sayid Abul Qasim Al-Khau’i.
  3. Sayid Ruhullah Al-Khomeini.
  4. Al-Haj Sayid Mahmud Al-Husaini Asy-Syaharwadi.
  5. Al-Haj Sayid Muhammad Kazhim Syarya’tamadari.
  6. Al-Allamah Sayid Ali Naqi An-Naqwi.

Doa tadi juga terdapat dalam kitabnya berjudul Tuhaft Al-Awam Mu’tabar wa Mukmal, hal. 303. Disebutkan di sana bahwa doa ini sesuai dengan fatwa sembilan orang ulama besar yang menjadi rujukan kaum Syi’ah. Mereka adalah:

  1. Ayatullah Sayid Abul Qasim Al-Khau’i.
  2. Sayid Husain Barwajardi.
  3. Sayid Muhsin Al-Hakim.
  4. Sayid Abul-Hasan Al-Ashfahani.
  5. Sayid Muhammad Baqir Shahih Qablah.
  6. Sayid Muhammad Mawi Shahib Qablah.
  7. Sayid Zhuhur Husain Shahih,
  8. Sayid Muhammad Shahih Qablah.
  9. Sayid Husain Shahih Qablah.

• Al-Allamah Syi’ah sekarang, Ayatullah Al-Uzhma Sayid Syihabuddin Al-Husaini Al-Mar’asyi dalam catatan pinggirnya terhadap kitab Ihqaq Al-Haqqa, oleh Nurullah Al-Husaini Al-Mar’asyi (catatan kaki I/337), mengatakan,

“Selanjutnya ketahuilah, bahwa sahabat-sahabat kami memiliki beberapa kitab syarah yang mengulas doa ini. Di antaranya, syarah yang sudah disebutkan tadi. Di antaranya kitab Dhiya’ Al-Khafiqin, yang ditulis oleh beberapa ulama murid Al-Fadhil AL-Qzwini penulis kitab lisan Al-Khawwash. Di antaranya lagi Syarah Masyhun bil-Fawai’id oleh Al-Maula Isa bin Ali Al-Ardabili, salah seorang ulama sufi yang cukup ternama. Semuanya dalam bentuk manuskrip. Secara global, doa ini cukup meyakinkan karena dikutip oleh beberapa ulama besar Syi’ah dalam kitab-kitab mereka dan dijadikan sebagai pegangan.”

Setelah kami mengajak Anda untuk mencermati doa yang ditulis dan dipanjatkan oleh orang-orang Syi’ah tersebut, selanjutnya Anda perlu tahu bahwa yang dimaksud dengan dua berhala Quraisy oleh mereka ialah Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu Anhuma.

• Guru dan ulama terkemuka Syi’ah, Abu As-Sa’adat As’ad bin Abdul Qahir dalam kitabnya Al-Mishbah, oleh Kaf’ami, catatan kaki, hal. 552; dan Bihar Al-Anwar, oleh Al-Majelisi (LXXXV/263), mengatakan,

“Tindakan mereka yang mengubah agama mengisyaratkan bahwa ia telah berani mengubah agama Allah. Contohnya seperti yang dilakukan oleh Umar yang mengharamkan nikah mut’ah19 [Barangsiapa yang mengatakan kalau Umar bin Al-Khattab yang mengharamkan nikah mut’ah, mungkin ia orang bodoh atau pendusta. Jika ingin melihat sikap Ahli Sunnah wal Jama’ah tentang nikah mut’ah, silahkan baca kitab Tahrim Al-Muth’ah fi Al-Kitab wa Al-Sunnat, oleh Yusuf AL-Muhammadi.] dan contoh-contoh lain yang tidak bisa kami sebutkan di sini.”

• Guru sekaligus ulama ahli sejarah Syi’ah, Muhammad Muhsin atau yang terkenal dengan nama Ba’gha Bazrak Ath-Thahrani dalam kitab Az-Dzari’ah Ila Tashanif Asy-Syi’ah (X/9), terbitan Najf, mengatakan,

“Simpanan seluruh alam ada pada doa buat kecelakaan bagi sepasang berhala, yaitu dua berhala Quraisy yang disebutkan dalam kitab tadi jilid VIII, hal. 192, yakni lata dan Uzza alias Abu Bakar dan Umar, yang ditulis oleh orang berkebangsaan Persia Al-Maula Ali Ashgar bin Muhammad Yusuf Al-Qazwini dengan nama samaran Syah Sulthan Husain Ash-Shafwi.”

• Al-Mula Muhammad Muhsin bin Syah Murtadha yang bergelar Al-Faidh Al-Kasyani dalam Qurratu Al-Uyun, hal. 326, cetakan kedua 1979, Daar Al-Kitab Al-Lubnani, mengatakan,

“Kemudian mereka berusaha mengubah hukum-hukum syariat, dan menciptakan bid’ah-bid’ah di dalamnya. Mereka melakukan perubahan karena tidak tahu. Mereka melakukan penggantian karena sesuai dengan tujuan-tujuannya. Dan mereka mengadakan bid’ah karena mereka memang suka. Amirul Mukminin Alaihissalam telah mengisyaratkan sebagian kemungkaran mereka dalam doa Shanami Quraisy. Dan Abu Bakar pernah mengatakan, ‘Sesungguhnya aku memiliki syetan yang selalu menggodaku…’.”

• Selanjutnya mujtahid terakhir Syi’ah, Al-Mula Muhammad Baqir Al-majelisi, sebagaimana yang dikutip oleh salah seorang guru Syi’ah, Ahmad Al-Ahsa’i atau yang diberi julukan Syaikh Al-Auhad dalam Syarah Az-Ziyarah Al-Jami’at Al-Kabir (III/189), mengatakan,
“Si tukang sihir ialah Abu Bakar, si thaghut ialah Umar, dan syetan-syetan ialah Bani Umayyah dan Bani Al-Abbas. Golongan mereka ialah para pengikut mereka dan orang-orang yang telah merampas warisan kalian berupa imamah, fai’, tanah di Fadak, bagian seperlima, dan lainnya.”

• Al-Mula Muhammad Baqir Al-Majelisi yang oleh kaum Syi’ah diberi julukan Syaikh Al-Islam dalam Bihar Al-Anwar (LXXXV/268), mengatakan,

“Kemudian kami telah menguraikan lebih lanjut pembicaraan kami yang mengecam Abu Bakar dan Umar dalam kitab Al-Fitan. Kami harus mengemukakan apa yang pernah dikatakan oleh Al-Kafami untuk mengingatkan orang yang membaca doa ini akan keserakahan orang-orang seperti mereka. Mudah-mudahan kutukan allah atas mereka dan siapa saja yang mendukung mereka.”20[Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Sungguh suatu bencana besar kalau di tengah-tengah kita ada orang yang menyerukan kerukunan dengan Syi’ah dan menganggap mereka sebagai saudara seagama. Mereka suka meniru sikap hakiki orang-orang Ahli Sunnah. Biarkan saja apa kata orang-orang yang menjilat mereka, baik sengaja maupun tidak sengaja.]

• Di sini ada satu lelucon, bahwa Abdul Husain Syarafuddin Al-Musawi yang pernah dikunjungi oleh Syaikh Musthafa As-Siba’i di kediamannya meriwayatkan dalam kitabnya Al-Majalis Al-Fakhirah fi Ma’atm Al-‘Itrah Ath-Thahirah, hal. 31, Muassasah Al-Wafa’ –Beirut tahun 1400 Hijriyah, dari Al-Imam Ash-Shadiq yang berlepas diri darinya dan orang-orang sepertinya, pada suatu hari ia berdiri di depan kubur kakeknya Al-Husain Alaihissalam, lalu ia berkata,

“Aku bersaksi bahwa Anda menjalankan shalat, menunaikan zakat, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, taat kepada Allah serta Rasul-Nya, beribadah kepada-Nya dengan murni, dan berjuang di jalan-Nya dengan sabar dan tabah hingga kematian datang kepadamua. Semoga Allah mengutuk umat yang telah emmbunuh Anda. Semoga Allah mengutuk umat yang telah menzalimi Anda. Dan semoga Allah mengutuk umat yang mendengar hal itu tetapi mereka merestuinya.”

Saudara kami sesama Muslim, tahukah Anda apa yang dimaksud oleh orang sesat ini dengan umat yang ia kutuk? Sesungguhnya umat yang membunuh Al-Husain dan umat yang mendengar peristiwa itu tetapi mereka diam saja sesuai dengan keyakinan mereka, ialah Ahli Sunnah wal Jama’ah. Hal ini diungkapkan oleh seorang doktor Syi’ah bernama Muhammad At-Tijani As-Samawi dalam kitabnya Asy-Syi’ah Hum Ahlu As-Sunnah, hal. 300. Ia mengatakan sebagai berikut,

“Jika kita menginginkan bukti lain, mau tidak mau kita harus menganalisa sikap kaum Ahli Sunnah wal Jama’ah terhadap peringatan hari Asyura’. Pertama, coba perhatikan, bagaimana sikap mereka yang diam saja bahkan terkesan merestui dan mendukung atas peristiwa pembunuhan Al-Husain…”

Dengan demikian jelas bagi Anda bahwa Abdul Husain Syarafuddin telah menggunakan taqiyah terhadap Syaikh Musthafa As-Siba’i ketika ia berkunjung ke rumahnya untuk menyerukan kerukukan antara Syi’ah dan Ahli Sunnah. Dengan penuh semangat orang penganut Rafidhah yang licik dan culas ini menawarkan ide krukunan. Dalam batik ia yakin bahwa Musthafa As-Siba’i32[Dialah orang yang pergi mengunjungi orang diyakini kafir dan dikutuknya. Inilah salah satu virus pandangan negatif ikhwanul Muslimin terhadap masalah kerukunan antara Syi’ah dan Ahli Sunnah. Tokoh organisasi ini, Hasan Al-Banna selalu menyerukan hal itu. Sebaliknya ia melarang melakukan penelitian dan kajian terhadap masalah ini, seperti yang diceritakan olah Al-Tilmisani. Akibatnya, Doktor At-Tijani harus pergi mengunjungi orang yang ia yakini kafir, seperti yang akan diceritakan oleh Doktor Musthafa As-Siba’i nanti.] adalah termasuk bagian dari umat yang merestui peristiwa pembantaian Al-Husain Radhiyallahu Anhu, dan menurutnya balasan ialah kutukan. Sementara bukti yang ada bertentangan dengan riwayat Abdul husain. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyimpan syafaatnya untuk orang-orang yang melaukan dosa besar dari umatnya berdasarkan riwayat para ulama Syi’ah sendiri.

Diriwayatkan oleh guru Syi’ah, Ibnu Babawaih Al-Qummi Ash-Shaduq dalam Uyun Al-Akhbar (I/130), terbitan Teheran, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya syafaatku adalah bagi umatku yang melakukan dosa besar. Kitabullah Azza wa Jalla mengabarkan kepada kita, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang ditampilkan kepada manusia…” (QS. Ali Imran: 194) Allah juga berfirman, “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia.” (QS. Al-Baqarah: 143)

Bagaimana mungking umat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah umat yang dikutuk, wahai musuh Allah?

• Sesungguhnya Al-Husain Radhiyallahu Anhu dibunuh karena pengkhianatan orang-orang Syi’ah terhadapnya. Hal itu berdasarkan riwayat mereka sendiri, sebagaimana yang telah kami kemukakan dalam pasal Para Penentang Menurut Keyakinan Syi’ah Adalah Kaum Ahli Sunnah wal Jama’ah. Coba Anda tengok lagi.

• Tentang ucapan At-Tijani dalam kitabnya Asy-Syi’ah Hum Ahlu –As-Sunnah, hal.301-302, “Sesungguhnya orang-orang Ahli Sunnah suka mengadakan upacara Hari Asyura’ menjadikan hari itu sebagai hari raya, dan membuat hadits maudhu’ tentang keutamaan hari tersebut”, maka jawabannya ialah:

Bahwasanya yang dilakukan oleh orang-orang Ahli Sunnah pada Hari Asyura’ ialah berpuasa demi mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla. Dan sekarang giliran kami yang ingin mengajukan pertanyaan kepadamu:
Apakah hari yang di dalamnya Allah Azza wa Jalla melebur dosa-dosa ini disebut hari kesedihan atau hari kegembiraan?
Jika kamu menjawab, “Sesungguhnya itu hari kesedihan”, berarti kamu telah mendekatkan diri dengan dirimu sendiri.
Jika kamu menjawab, “Sesungguhnya itu hari kegembiraan”, maka itulah yang dikehendaki Hari Asyura’.
Dan jika kamu bertanya, apa dalilnya?

Kami jawab, dalil yang menjadi dasarnya ialah beberapa hadits shahih yang juga diriwayatkan oleh kitab-kitab pegangan kalian. Misalnya saja ulama kalian, Abu Ja’far Ath-Thusi dalam Al-Istibshar (II/134), dan ulama ahli hadits kalian, Muhammad bin Al-Hasan Al-Hurru Al-Amili dalam Wasa’il Asy-Syi’ah (VII/337), mengetengahkan tiga riwayat tentang keutamaan Hari Asyu’ra’ sebagai berikut:

1. Diriwayatkan dari Abu Abdullah Alaihissalam dari ayahnya, bahwasanya Ali Alaihissalam berkata,

“Berpuasalah Asyura’, yakni pada tanggal kesembilan dan kesepuluh, karena sesungguhnya hal itu dapat melebur dosa selama setahun.”

2. Diriwayatkan dari Abul Hasan Alaihissalam, ia berkata,

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan keluarganya biasa berpuasa pada Hari Asyura’.”

3. Diriwayatkan dari Ja’far dari ayahnya Alaihissalam, ia berkata,

“Puasa Asyura’ itu dapat melebur dosa setahun.”

Itulah sebabnya orang-orang Ahli Sunnah sama berpuasa pada Hari Asyura’ demi mengikuti petunjuk Nabi terpilih Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sementara kamu dan para pengikutmu tanpa peduli justru saa meratap di hari itu. Padahal Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Meratap adalah termasuk perbuatan ala jahiliyah.” Hadits ini juga diketengahkan oleh tokoh ulama ahli hadits kalian, Muhammad bin Ali bin Al-Husain bin Babawaih Al-Qummi Ash-Shaduq dalam kitab Faqih Man La Yahdhuruhu Al-Faqih, jilid II, hal. 271-272.

• Disebutkan dalam riwayat Al-Allamah kalian Al-Majelisi dalam kitab Bihar Al-Anwar, hal. 82-103, “Meratap adalah perbuatan orang-orang jahiliyah.” Selamat untukmu yang biasa melakukan perbuatan-perbuatan ala jahiliyah.

Dan selamat untuk para penganut Ahli Sunnah wal Jama’ah yang biasa berpuasa pada hari di mana Allah melebur dosa-dosa selama setahun, berdasarkan riwayat kalian sendiri.22[Untuk lebih detailnya, silahkan baca kitab Man Qatala Al-Husain? oleh Abdullah bin Abdul Aziz, terbitan Kairo.] Kami merasa perlu mengingatkan kepada pembaca yang budiman, bahwa topik buku kecil ini ialah upaya mengungkap hakikat mazhab Syi’ah dan sikapnya terhadap Ahli Sunnah wal Jama’ah. Bukan menyanggah kebathilan para pengikutnya. Soalnya untuk masalah tersebut, secara khusus kami telah menulis buku lain yang tebal lebih dari lima ratus halaman. Kami memohon kepada Allah semoga dengan buku tersebut Dia berkenan memberi manfaat bagi kaum Muslimin, dan menjadikannya sebagai amal yang murni untuk memperoleh keridhaan-Nya.

D. Suka Cita Syi’ah atas Kematian Umar Radhiyallahu Anhu dan Mereka Menganggap Hari Kematiannya sebagai hari Raya Mereka

Sesungguhnya orang-orang Syi’ah Itsna Asyar bersuka cita dan bergembira atas kematian Umar Radhiyallahu Anhu. Mereka menganggap hari kematian Umar sebagai hari raya bagi mereka. Bahkan menurut mereka, hari kematian Umar merupakan kemurahan dari Allah sehingga pada hari itu Dia tidak menulis dosa sama sekali atas orang-orang Syi’ah. Mereka menamakan hari tersebut dengan beberapa nama. Antara lain: hari istirahat, hari berkah, hari suka cita Syi’ah, dan masih banyak lagi.

Diriwayatkan oleh Al-Allamah Syi’ah Al-Majelisi dalam Bihar Al-Anwar, jilid XCV, hal. 351-355; dan juga oleh Ni’matullah Al-Jazairi dalam Al-Anwar An-Nu’maniyah jilid I, hal. 108-111, dengan judul Nurun Sanawi (Cahaya Langit) yang mengungkapkan pahala kematian Umar bin Khaththab.

Salah satu bukti yang menunjukkan orang-orang Syi’ah mempercayai riwayat-riwayat tersebut ialah apa yang ditulis dalam kitab Aqdu Ad-Durar fi Baqri Bathni Umar, hal. 6. Kitab ini masih berupa manuskrip yang belum sempat dicetak, dan masih tersimpan di perpustakaan Ridha di Rambo, India, dengan kode nomer 2003. Sang penulis membuat sebuah pasal dengan judul pasal Keempat Tentang Penjelasan Keadaan Suka Cita Orang-Orang Syi’ah Pada Hari Itu. Ia kemudian menulis beberapa bait lagu tentang hari itu. Ia mengatakan,

“Ini adalah kalimat-kalimat kecil yang elok, dan lafzh-lafazh kecil yang indah. Hari itu terbit harapan dari segenap ufuk. Angin pun berhembus lembut pagi dan petang mengiringi kematian orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari Kiamat, yakni Umar bin Khaththab yang jahat, yang memfitnah banyak orang, dan yang gemar memproduksi kerusakan di muka bumi sampai kelak hari kebangkitan. Gelas-gelas kegembiraan terisi penuh, dan dari saripati arwah yang telah tiada dicampur dengan air jernih dan dengan air yang sangat bening.”

Selanjutnya ia mengakhiri kalimat-kalimat tersebut dengan mengemukakan beberapa bait sya’ir cukup panjang yang menggambarkan rasa suka cita atas kematian Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu, hal. 9-11. Berikut kutipan dari bait-bait sya’ir tersebut:

Aku merasa gembira di hari ketika angin berhembus membawanya
Menyalakan api neraka sa’ir yang sangat panas
Ia tinggalkan si Lata yang menangisi dan meratapinya
Di tengah-tengah para penguasa yang khianat dan kafir
Setiap yang zalim dari golongan manusia dan jin
Pun ikut menangisi atas kesesatannya
Ayo, berteriaklah sekeras-kerasnya
Karena ini adalah hari raya Fatimah
Hari kegembiraan atas tertembusnya perut Umar
Hari ketika sang surya kesesatan mengalami gerhana
Hari ketika segenap keluarga Nabi merasa bersuka cita
Begitu pun dengan semua yang menyayangi mereka baik dari kota maupun desa
Hari ketika iblis yang sesat menjerit-jerit pilu
Di tengah sekumpulan jin dan manusia yang juga sesat
Para pembela Umar terhenyak,
Lalu mereka berduyun-duyun menghampirinya
Dan ketika mereka sudah sama berkumpul sekitarnya
Seseorang mengabarkan kepada mereka
tentang berita kematian Umar yang tidak lama lagi akan tiba
di tengah-tengah mereka ia berpidato:
“Hari ini pilar kekafiran dan kejahatan telah mati
Hari ini pemimpin orang-orang munafik telah mati
Hari ini dedengkot iblis yang menguasai jin dan manusia telah mati
Hari ini orang yang selalu membelaku membikin bid’ah telah mati
Hari ini tokoh kezaliman telah mati
Hari ini tali kejahatan telah lepas dan kekufuran berada di ambang kehancuran
Hari ini guruku yang munafik telah mati
Hari ini orang yang selalu aku banggakan telah mati
Aduh, celaka sepeninggalannya siapa lagi yang bisa aku harapkan
Dapat mengacaukan urusan-urusan agama
Aku sudah terlanjur terpesona
Pada tindakan-tindakannya yang serba mungkar
Berakhir sudah keajaiban-keajaiban kekufuran
Yang sulit dipahami oleh manusia kecuali yang mau berpikir
Wahai Abu Lu’lu23[ia adalah Abu Lu’lu’ah Al-Majusi, dan jangan kamu lupa bahwasanya orang Syi’ah menjuluki pembunuh Umar Radhiyallahu Anhu, dengan julukan, “Baba Syuja’uddin”, lihat Al-Kuna wa Al-Alqab karya Abbas Al-Qummi, 1/147.]
Selamat untukmu yang telah membunuh si culas
Kamu robek perut si musuh Allah pembikin bid’ah
Kamu dapatkan pahala Karun karena telah membunuh
Penyesat yang telah menyakiti Nabi berikut segenap keluarganya yang suci
Telah kau bunuh orang yang pertama kali menentang keluarga nabi
Sepanjang hari dan sepanjang zaman
Telah kau bunuh Fir’aunnya Ahlul Bait
Yang berani menangguhkan berlakunya takdir
Telah kau bunuh lambang kefasikan dan kesesatan
Telah kau bunuh orang yang ingkar kepada Sang Khaliq
Telah kau bunuh orang fasik yang selalu bikin kisruh
Telah kau bunuh orang yang selalu menentang Ali
Telah kau bunuh orang yang selalu mengulang kekafiran,
Secara diam-diam maupun terang-terangan
Hari kematiannya inilah yang disebut hari raya sejati
ketika arwah-arwah kembali kepada sosoknya
hanya Abu Bakar yang pertama kali menanamkan permusuhan
dan hanya Umar yang pertama kali menanamkan kezaliman
keduanya adalah thaghut
yang memfitnah sebagian besar manusia, dari kota dan dari desa
mereka sesat sekaligus menyesatkan
celaka, kelak mereka akan terbaring di neraka Saqar
si Utsman pun menampakkan keanehan di tengah-tengah manusia
ia berjalan di antara mereka dengan rupa yang buruk
di dalam islam aku lepas tangan dan tindakan ketiga orang itu
dalam meneliti jalan kepada allah
aku berharap allah berkenan menolongku
bisa melihat dengan mata kepala sendiri
kedua orang itu dibongkar kuburnya
seperti yang dikatakan Nabi kepada kami24[Ketika itu yang membongkar kubur dua orang tersebut adlaah Al-Mahdi, menurut sangkaan orang Syi’ah.]
mereka pasti akan diperlihatkan di depan seluruh makhluk
mereka disalib pada batang pohon kurma, lalu dibakar.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.