Syiah Mengecam Empat Imam Mazhab Ahlussunnah

KECAMAN SYI’AH TERHADAP EMPAT IMAM MAZHAB AHLI SUNNAH

Sesungguhnya ketika orang-orang, Syi’ah pura-pura memperlihatkan sikap hormat kepada empat imam Ahli Sunnah wal Jama’ah, yakni Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah, itu hanya sekedar basa-basi karena mengamalkan taqiyah.

• Diriwayatkan oleh Tsiqat Islam Al-Kulaini dalam Al-Kafi (I/58) di Teheran, dari Sama’ah bin Mahran dari imam Syi’ah yang ketujuh, Abul Hasan Musa Alaihissalam dalam sebuah hadits,
“… Apabila datang kepada kalian sesuatu yang telah kalian ketahui, maka katakanlah hal itu. Dan apabila datang kepada kalian sesuatu yang tidak kalian ketahui daripadanya –sambil menunjuk ke mulut- maka semoga Allah melaknati Abu Hanifah. Istilah yang dikatakan oleh Ali Alaihissalam, aku sendiri, dan para sahabat.”
Riwayat ini juga dikemukakan oleh seorang ulama ahli hadits Syi’ah, Al-Hurru Al-Amili dalam wasa’il Asy-Syi’ah (XVIII/23), terbitan Beirut, maka rujuklah.

• Diriwayatkan oleh seorang sandaran ulama ahli hadits Syi’ah di bidang, Al-Jarah wa At-Ta’dil Muhammad bin Amr Al-Kasysyi dalam kitabnya Ikhtiyar Ma’rifat Al-Rijal, atau yang lebih dikenal dengan judul Rijal Al-Kasysyi, hal. 149, terbitan Masyhad-Iran, dari Harun bin Kharijah, ia berkata, “Aku bertanya kepada Abu Abdullah Alaihissalam tentang firman Allah Azza wa Jalla surat Al-An’am ayat 82,
‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman.’ Ia menjawab, ‘Yaitu sesuatu yang diwajibkan oleh Abu Hanifah dan Zurarah.”

Disebutkan dalam suatu riwayat dari Abu bashir dari Abu Abdullah Alaihissalam, ia berkata, “Aku membaca ayat,

‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman.’ Ia berkata, ‘Semoga Allah melindungi kita dari kezaliman tersebut.’ Aku bertanya, ‘Apa itu?’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, itu adalah sesuatu yang diada-adakan oleh Zararah, dan Abu Hanifah. Itu adalah suatu jenis kezaliman.’ Aku bertanya, ‘Termasuk zina? Ia menjawab, ‘Zina adalah suatu dosa’.”25[Lihat, Rijal Al-Kasysyi, hal. 145.]
Juga disebutkan dalam Rijal Al-Kasysyi, hal. 146, sebuah riwayat dari Abu Bashir, ia berkata,

“Aku bertanya kepada Abu Abdullah Alaihissalam tentang ayat, ‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman.’ Ia menjawab, ‘Mudah-mudahan Allah Allah melindungi kami dan Anda, wahai Abu Bashir, dari kezaliman tersebut. Itulah yang dianut oleh Zurarah berikut murid-muridnya, dan juga oleh Abu Hanifah berikut murid-muridnya.”

• Disebutkan dalam Rijal Al-Kasysyi. 187, dan Majma’ Al-Rijal oleh Al-Qahba’i, (VI/4), terbitan Asbahan,

“Sesungguhnya Abu Hanifah berkata kepada seorang Syi’ah penduduk Thaq, dan ketika itu Ja’far bin Muhammad Alaihissalam telah meninggal dunia ‘Wahai Abu Ja’far, sesungguhnya imammu sudah meninggal dunia.’ Abu Ja’far menjawab, ‘Tetapi pada hari yang telah ditentukan.’ Yang dimaksud ialah syetan.”

• Diriwayatkan oleh Syi’ah, seperti yang terdapat dalam Rijal Al-Kasysyi, hal. 190, bahwasanya Jabir Al-Ju’fi pada suatu hari menemui Abu Hanifah. Abu Hanifah berkata,

“Saya dengar ada suatu masalah tentang kalian golongan Syi’ah.” Ia bertanya, “Apa itu?” Abu Hanifah menjawab, “Saya dengar jika ada yang meninggal dunia di antara kalian, tangan kirinya kalian retakkan supaya kelak ia menerima buku catatan amalnya dengan tangan kanan.” Ia menyangkal, “Itu mendustakan kami, wahai Nu’man. Tetapi saya juga mendengar tentang kalian, wahai pengikut mazhab Murji’ah, apabila ada yang meninggal dunia di antara kalian, anusnya digodam lalu dituangi segenggam air supaya kelak pada hari Kiamat ia tidak akan kehausan.” Abu Hanifah berkata, “Itu mendustakan kami dan juga kalian.”

• Seorang guru Syi’ah, Muhammad Ridha Ar-Radhwi dalam kitabnya Kadzdzabu Ala Asy-Syi’ah, hal. 135, terbitan Iran, mengatakan sebagai berikut,

“Semoga Allah memburukkan kamu, wahai Abu Hanifah. Bagaimana kamu mengatakan kalau shalat itu bukan bagian dari agama Allah? …”
• Dalam kitab Kadzdzabu Ala Asy-Syi’ah, hal. 279, Ridha Ar-Radhwi juga mengatakan,

“Seandainya para penyeru Islam dan As-Sunnah mencintai Ahlul bait Alaihimussalam, tentu mereka akan mengikuti keluarga Nabi tersebut. Dan tentu mereka tidak akan mengambil agama mereka dari orang-orang yang menyesatkan mereka. Contohnya seperti Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, Malik, dan Ibnu Hanbal.”

• Seorang ulama Syi’ah, As-Sayid Ni’matullah Al-Jazairi dalam kitabnya Qishash Al-Anbiya’, etakan kedeapan, hal. 347, terbitan Beirut, mengatakan sebagai berikut,

“Aku katakan ini untuk mengungkapkan kepadamu tentang banyak hal. Antara lain kebathilan ibadah yang dilakukan oleh para penentang. Sebab sekalipun mereka melakukan puasa, shalat, haji, zakat, dan ibadah-ibadah serta ketaatan-ketaatan lainnya, bahkan mereka lebih rajin daripada yang lain, namun mereka mendatangi Allah Ta’ala bukan lewat pintu-pintu yang Dia perintahkan untuk dimasuki. Mereka menjadikan empat imam mazhab sebagai sarana-sarana dan pintu-pintu yang dapat mengantarkan mereka bertemu Tuhan. Mereka mengambil hukum dari empat imam mazhab tersebut. Mereka mengambilnya dari kiyas-kiyas, istinbath-istinbath, pendapat-pendapat, dan ijtihad yang dilarang oleh Allah. Bahkan Allah mencela mereka karena mencampuradukkan sebagian dari hal itu ke dalam agama.”
Kami ingin mengatakan, itulah yang mereka yakini dalam menetapkan diri sendiri. Dan itulah yang mereka ajarkan kepada generasi-generasi muda mereka. Selanjutnya guru mereka, Doktor Muhammad At-Tijani menyatukan terus terang kepada kaum Ahli Sunnah dan mengungkapkan rasa permusuhan yang disembunyikan oleh Syi’ah terhadap mereka, bahwa mereka adalah para pembangkang. Dalam kitabnya Tsumma Ihtadaitu, hal. 127, Muassasah Al-Fikri-Beirut dan London, ia mengatakan sebagai berikut,

“Disebabkan dalam keempat mazhab terdapat banyak perselisihan, maka jelas ini bukan dari sisi Allah maupun dari sisi Rasul-Nya.”
Kitab tulisan At-Tijani ini juga dicetak oleh Persatuan Syi’ah Internasional di India dengan beberapa versi bahasa. Demikian yang diakui sendiri oleh At-Tijani dalam kitabnya Fas’alu Ahla Al-Dzikri, hal. 11, cetakan pertama-Beirut 1992 Masehi.

• At-Tijani dalam kitabnya Asy-Syi’ah Hum Ahlu As-Sunnah, hal. 84, mengatakan,

“Bagaimana kami tidak heran terhadap orang-orang yang mengaku dirinya sebagai Ahli Sunnah wal Jama’ah, sementara mereka terdiri dari beberapa jama’ah, yaitu jama’ah Maliki, jama’ah Hanafi, jama’ah Syafi’i, dan jama’ah Hanbali. Produk-produk hukum mereka berbeda satu sama lain.”

Dalam kitab yang sama hal. 104, ia mengatakan,

“Dengan demikian kami paham kenapa mazhab-mazhab yang diciptakan oleh para penguasa yang tengah berkuasa ini tersebar luas ke mana-mana. Oleh para penguasa tersebut, mazhab ini dinamakan mazhab Ahli Sunnah wal Jama’ah.”
Dalam kitab yang sama hal. 109, ia mengatakan,

“Yang penting bagi kami dalam pembahasan ini ialah menjelaskan berdasarkan bukti-bukti yang kuat, yakni bahwa keempat mazhab Ahli Sunnah wal Jama’ah ialah mazhab-mazhab yang diciptakan oleh politik…”

Dalam kitab yang sama hal. 88, ia mengatakan,

“Kami lihat Abu Hanifah menciptakan suatu mazhab dengan berdasarkan kiyas dan mengamalkan pendapat, bukan berdasarkan nash-nash yang tegas. Kami lihat Malik menciptakan suatu mazhab dalam Islam. Demikian pula yang kami lihat pada Asy-Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal.”

Dalam kitab yang sama hal. 93, ia mengatakan,

“Begitulah yang kami tahu, bahwa alasan tersebarnya mazhab Abu Hanifah sepeninggalnya, karena Abu Yusuf dan Asy-Syaibani, pengikut sekaligus murid Abu Hanifah memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Harun Ar-Rasyid khalifah dari Dinasti Abasiyah. Mereka berdua punya pernana yang besar bagi stabilitas kekuasaan sang khalifah berkat dukungan dan pembelaannya. Harun Ar-Rasyid menolak lelucon dan perkataan yang keji kepada siapa pun tanpa ada rekomendasi mereka berdua. Akibatnya, Abu Hanifah menjadi ulama sangat besar, dan mazhab fiqihnya adalah mazhab yang paling banyak diikuti, kendatipun ulama-ulama lain menganggapnya orang kafir dan zindiq.”
Dalam kitab yang sama hal. 125, ia mengatakan,

“Dengan demikian, sekali lagi kita menjadi jelas berdasarkan bukti-bukti kuat yang tidak bisa ditolak bahwa Syi’ah Imamiyah adalah kaum Ahli Sunnah Nabi yang sejati, dan bahwa orang-orang Ahli Sunnah wal Jama’ah telah tunduk kepada para pemimpin serta pembesar mereka yang menyesatkan dan membiarkan mereka meraba-raba dalam kegelapan. Mereka telah ditenggelamkan dalam lautan kekufuran terhadap nikmat-nikmat, dan dibinasakan dalam belantara kezaliman.”

Dalam kitab yang sama hal. 168, ia mengatakan,

“Ahli Sunnah wal Jama’ah bohong. Sesungguhnya mereka telah melanggar sebagian besar sunnah Nabi.”
Bahkan At-Tijani begitu bersemangat menuduh mereka telah menyalahi ajaran-ajaran Islam. Kalau begitu, apa perlunya ada seruan kerukunan dengan Ahli Sunnah kalau mereka tetap memandang kita dengan pandangan permusuhan seperti tiu? Kenapa ulama-ulama Syi’ah suka bepergian dan melakukan kunjungan-kunjungan ke berbagai negara Islam, terutama At-Tijani ini?
Jawabnya, karena taqiyah yang telah kami bicarakan dalam pasal tersendiri dalam buku ini. Dan di balik itu mereka punya target lain, yakni ingin menyebarluaskan mazhab mereka.

Kami lihat At-Tijani yang culas, tidak punya rasa malu, dan tidak punya sopan santun terhadap para ulama Islam ini, tampil laksana bunglon ketika ia mengunjungi Bombai, India. Ia ditemui para ulama Ahli Sunnah dengan watak dan kebathilan-kebathilan Syi’ah. Ia berbicara di hadapan mereka dengan penuh basa-basai, seperti yang ia tegaskan dalam kitabnya Fas’alu Ahla Al-Dzikri, hal. 12. Ia mengatakan,

“Bertakwalah kepada Allah, wahai saudara-saudaraku. Tuhan kita sama, Nabi kita sama, kitab kita sama, dan kiblat kita juga sama…”
Kami ingin bertanya, bagaimana mereka mau menjadi saudara-saudara At-Tijani yang begitu kejam menjelek-jelekkan mereka serta para pemimpin mereka seenaknya sendiri? Sesungguhnya ini adalah makar, kebohongan dan tipu muslihat.

• Selanjutnya coba Anda simak bagian isi sepucuk surat yang pernah dikirimkan oleh At-Tijani kepada Syaikh Abul Hasan An-Nadwi, seperti yang tercantum dalam kitabnya Fas’alu Ahla Al-Dzikri, hal. 14.

“Aku ingin menyatakan suatu sikap yang tulus dan tegas bahwa Anda adalah termasuk orang-orang yang dibebani tanggung jawab oleh Allah sepanjang Anda berbicara atas nama islam di tempat tersebut…”

Kami ingin mengatakan, bagaimana Allah membebaskan tanggung jawab kepadanya, padahal dalam pandangan At-Tijani, An-Nadwi adalah seorang pembangkang yang memeluk suatu madzab yang diciptakan oleh para politikus, dan bahwa ia adalah termasuk orang yang taat kepada para pemimpin dan para pembesarnya yang membuatnya menempuh jalan sesat?

Apa motivasi di balik ajakan panjang lebar yang mereka serukan untuk merukunkan Ahli Sunnah dan Syi’ah?

Jawabnya, motivasinya ialah untuk menyebarluaskan mazhab Syi’ah di tengah-tengah orang awam Ahli Sunnah seperti yang akan kami bahas dalam pembicaraan tentang target Syi’ah di balik kampanye soal kerukunan dalam buku ini. Target mereka ini tidak akan terwujud, tanpa harus mengamati tulisan-tulisan dan peneliatian-peneliatian yang akan mengungkap keyakinan-keyakinan Syi’ah yang keliru. Ketika membaca kitab mereka yang membahas masalah tersebut –yakni tentang segala kebathilan Syi’ah- Anda akan mendapati mereka menyangkal hal ini dengan dalih bahwa hal itu dapat mengancam persatuan kaum Muslimin dan memecah belah barisan mereka. Tetapi hujatan mereka terhadap para shahabat, kecaman mereka terhadap Al-Qur’an, upaya mereka untuk menggoyahkan keyakinan para pengikut Ahli Sunnah, serta intervensi mereka terhadap para pengikut Ahli Sunnah yang lemah dan bodoh supaya beralih ke mazhab Syi’ah dengan memanfaatkan kefakiran dan kebodohan mereka, semua itu tidak mereka sebut sebagai ancaman dan tidak memecah shaf kaum muslimin dalam pandangan komunitas Syi’ah Imamiyah. Jadi, apa yang dikatakan oleh At-Tijani itu hanya bualan.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.