Syiah Memperbolehkan Merampas Harta Orang Sunni

Boleh Merampas Harta Orang Ahlussunnah

Tentang halal hukumnya merampas harta milik kaum Ahli Sunnah wal Jama’ah, selain berdasarkan apa yang telah Anda baca tadi, kami juga ingin mengemukakan kepada Anda riwayat yang dikutip oleh beberapa ulama ahli hadits Syi’ah, dari Abu Abdullah Alaihissalam, bahwasanya ia berkata, “Ambillah harta si pembangkang di mana pun kamu dapati, dan serahkan kepada kami bagian seperlimanya.”9 [Riwayat ini juga diketengahkan oleh guru Syi’ah, Abu Ja’far Ath-Thusi dalam kitabnya Tahdzib Al-Ahkam, IV/122, dan oleh Al-Faidh Al-Kasyani dalam Al-Wafi, VI/43, Dar Al-Kutub Al-Islamiyah-Teheran, Riwayat ini juga dikutip oleh guru Syi’ah, Ad-Darazi Al-Bahrani dalam kitabnya Al-Mahasin AN-Nafsaniyah, hal. 167.]

• Riwayat ini juga dikutip oleh Muhsin Al-Mu’alim dalam kitabnya An-Nashbu wa An-Nawashib, Daar Al-Hadi-Beirut, hal. 615. Riwayat ini dijadikan dalilm boleh hukumnya mengambil harta kaum Ahli Sunnah, karena menurut pandangan orang yang sesat ini, status mereka adalah para pembangkang.bahkan menurut Al-Khomeini, menipu, curang, mencuri, merampas, dan cara-cara lain yang diharamkan boleh dilakukan terhadap harta akum Ahli Sunnah. Buktinya ia mengatakan” …dengan cara apa pun.”

Di Iran, beberapa orang Ahli Sunnah yang patut dikasihani suatu hari sama menemui Al-Khomeini untuk mengucapkan selamat kepadanya. Sementara sebagian mereka yang lain sama mengucapkan bela sungkawa atas kematian para pengikutnya. Sangat ironis. Rupanya mereka tidak membaca apa yang ditulis oleh Al-Khomeini. Merekajuga tidak tahu sama sekali apa yang dimaksud oleh Al-Khomeini dengan istilah kaum pembangkang, dan juga tidak tahu dukungan Al-Khomeini dengan istilah kaum pembangkang, dan juga tidak tahu dukungan Al-Khomeini terhadap Nashir Ath-Thusi yang melakukan pengkhianatan terhadap Islam serta kaum Muslimin di Baghdad. Itulah yang tidak diketahui oleh mereka, sehingga mereka berlomba-lomba melakukan sesuatu yang sangat konyol. Dan celakanya orang yang paling beruntung di antara mereka ialah yang paling tidak tahu. La haula wala quwwata illa billah.

• Benar. Mereka adalah orang-orang yang patut dikasihani. Mereka tidak tahu bahwa halal merampas harta dan mengalirkan darah orang Sunni menurut keyakinan Syi’ah. Itulah yang telah disepakati bersama. Seorang ulama ahli fiqih dan ahli hadits Syi’ah, Syaikh Yusuf Al-Bahrani dalam kitabnya yang cukup populer dan yang menjadi pegangan kaum Syi’ah, Al-Hada’iq An-Nadhirah fi Ahkam AL-Itrat Ath-Thahirah (XII/323-324), mengatakan sebagai berikut,

“Sebutan Muslim bagi pembangkang dan tidak boleh mengambil hartanya dalam pandangan Islam, dan dulu sampai sekarang adalah bertentangan dengan kesepakatan golongan Syi’ah sejati yang menganggap kafir dan najis seorang pembangkang. Bahkan merampas harta dan membunuhnya pun dibolehkan.”

• Ni’matullah Al-Jazairi dalam Al-Anwar AN-Nu’maniyah, (II/307), mengatakan, “Boleh hukumnya membunuh dan merampas harta para pembangkang.”

• Yusuf Al-Bahrani dalam kitabnya Al-Hada’iq An-Nadhirah fi Ahkam Al-Itrat Ath-Thahirah (X/360), mengatakan,
“Inilah pendapat yang dijadikan dasar oleh Abus Shalah, Ibnu Idris, serta Sallar. Dan inilah pendapat yang benar, yang dominan, dan yang tegas, karena diperkuat oleh banyak riwayat hadits senada yang menganggap kafir orang Sunni serta menganggap halal darahnya, seperti yang kami paparkan dengan tegas, lengkap, dan jelas dalam kitab Asy-Syihab Ats-Tsaqib fi Bayan Ma’na An-Nashib wama Yatarattabu min Al-Mathalib.”

Kami ingin menutup pasal ini dengan suatu catatan yang menurut kami lepas dari perhatian semua orang, yakni bahwa An-Nashir Ath-Thusi dan Ibnu Al-Alqami bukanlah satu-satunya dari kalangan ulama siah yang menyebabkan jatuhnya ratusan ribu korban kaum Muslimin di Baghdad. Menurut pengamatan kami, mereka dibantu oleh ulama Syi’ah, yakni Jamaluddin AL-Hasan bin Yusuf bin Al-Muthahar Al-Hulli, yang oleh kaum Syi’ah diberi gelar Al-Allamah. Hal ini diungkapkan kepada kami oleh guru Allamah. Hal ini diungkapkan kepada kami oleh guru Syi’ah, Muhammad bin Hasan AN-Najfi dalam Jawahir Al-Kalam (XXII/63). Bahkan hal ini juga dikemukakan oleh ulama-ulama Syi’ah lainnya, meskipun ia tidak menyebut nama-nama mereka dengan jelas.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.