Sampai Kapan Orang Syiah Meninggalkan Taqiyah?

Pembahasan Kedua:

Saudara kami sesama Muslim, sesungguhnya orang-orang Syi’ah mewajibkan untuk berpegang teguh pada taqiyah sampai munculnya Al-Mahdi yang mereka klaim.

• Diriwayatkan oleh seorang ulama ahli tafsir Syi’ah, Al-Iyasyi dalam kitabnya Tafsir Al-Iyasyi (II/351), Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah Al-Islamiyah –Teheran, oleh Al-Hurru Al-Amili dalam Wasa’il Asy-Syi’ah (Xi/467), dan oleh Abdullah Syibr dalam Al-Ushur Al-Ashliyat, hal.321, siaran berita Maktabah Al-Mufiq- Qumm, dari Ja’far Ash Shadiq tentang firman Allah Azza wa Jalla surat Al-Kahfi ayat 88, “Maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh.” Kata Ja’far Ash Shadiq, “Taqiyah dihilangkan ketika kasyaf –muncul imam mereka yang mereka klaim-, lalu membalas musuh-musuh Allah.” Yang dimaksud dengan musuh-musuh Allah ialah orang-orang Ahli Sunnah wal Jama’ah, karena kaum Syi’ah bermu’amalah dengan Ahli Sunnah dengan taqiyah. Dan yang dimaksud dengan kasyaf ialah munculnya imam mereka yang mereka klaim.

• Diriwayatkan oleh Al-Kulaini dalam Al-Kafi II/217 dan oleh Al-Faidh Al-Kasyani dalam Al-Wafi III/122, dari ayahku Abdullah Alaihissalam, ia berkata,
“Wahai habib (putraku tersayang), sesungguhnya barangsiapa yang setia pada taqiyah niscaya Allah akan mengangkat derajatnya. Wahai habib, barangsiapa yang tidak setiap pada taaqiyah niscaya Allah akan merndahkan derajatnya. Dan wahai habib, sesunggguhnya manusia itu dalam kondisi menahan diri. Jika ia sudah muncul, hal itu akan terjadi.”

• Sayid Ali Akbar Al-Ghifari dalam catatan pinggirnya atas kitab Al-Kafi (II/217), mengatakan,
“Yang dimaksud dengan kalimat “ia sudah muncul” ialah munculnya Al-Qa’im. Dan yang dimaksud dengan kalimat hal itu akan terjadi ialah taqiyah pun mulai ditinggalkan.”

• Diriwayatkan oleh seorang ulama ahli hadits sekaligus muhaqiq Syi’ah, Muhammad bin Al-Harrifi dalam Wasail Asy-Syi’ah (XI/57), dari Al-Hasan bin Harun, ia berkata,
“Aku sedang duduk di samping Abdullah Alaihissalam. Lalu Ma’la bin Khunais bertanya kepada beliau, ‘Apakah imam Al-Qa’im akan berjalan tidak seperti berjalannya Ali Alaihissalam?” Beliau menjawab, ;Ya. Hal itu disebabkan Ali Alaihissalam berjalan dengan memberi dan menahan, karena ia tahu bahwa golongannya akan diberikan kemenangan. Sementara Al-Qa’im akan berjalan di tengah-tengah mereka dengan membawa pedang dan tawanan, karena ia tahu bahwa sepeninggalannya golongannya tidak akan diberikan kemenangan untuk selama-lamanya’.”

• Seorang ulama terkemuka Syi’ah, Ayatullah Al-Hajj Mitra Muhammad Taqi Al-Ashfahani dalam kitabnya Mikyal Al-Makarim fi Fawa’id AD-Di’a Lil-Qa’im, jilid I, hal. 246, Mansyiurat Al-Imam Al-Mahdi-Qumm, mengutip penafsiran Ali bin Ibrahim Al-Qummi tentang firman Allah Ta’ala surat Ath Thariq ayat 17, “Karena itu beri tangguhlah orang-orang kafir itu, yaitu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar.” Yaitu sampai pada waktu bangkitnya Al-Qa’im. Ia lalu membalas untukku dari para diktator dan para thaghut dari kaum Quraisy, Bani Umayyah, dan manusia lainnya.”

• Ayatullah Al-Ashfahani dalam kitabnya Mikyal Al-Makarim fi Fawa’id Al-Di’a Lil-Qa’im (I/148), mengutip riwayat dari Ali bin Al-Husain Alaihissalam, ia berkata,
“Ketika Al-Qa’im kami sudah bangkit, Allah Azza wa Jalla akan melenyapkan Ahli Sunnah dari golongan kami, menjadikan hati mereka seperti bubur besi, dan memberikan kepada salah seorang mereka kekuatan empat puluh orang. Mereka semua akan menjadi para hakim dan pemimpin bumi.”

• Diriwayatkan oleh guru kaum Syi’ah, Muhammad bin Muhammad bin Shadiq Sadr Al-Musawi dalam kitabnya Tarikh ma Ba’ada Azh-Zhuhur, hal. 762, cetakan kedua, Daar At-Ta’aruf-Libanon, dari Abu Ja’far Alaihissalam, ia berkata,
“Sesungguhnya manusia itu dalam penantian. Kita akan menikahi mereka,mewarisi mereka, memberlakukan hukuman-hukuman atas mereka, dan menyampaikan amanat mereka. Dan ketika telah muncul Al-Qa’im, maka timbullah perpecahan.” Ia mengartikan makna perpecahan ialah perpecahan dan perselisihan antara para pembela kebenaran dan para pembela kebenaran dan para pembela kebathilan.

Al-Hajj Ayatullah As-Sayid Ibrahim Az-Zanjani dalam kitabnya Hadaiq Al-Ansi, hal. 104, Daar Az-Zahra Libanon, mengutip riwayat dari Amirul Mukminin Alaihissalam, sesungguhnya ia berkata,
“Para ulama ahli fiqih mereka memberikan fatwa berdasarkan apa yang mereka ingini. Para qadhi mereka sama mengatakan sesuatu yang tidak mereka pahami. Kebanyakan mereka memberikan kesaksian dusta. Dan begitu Al-Qa’im muncul, ia akan menghukum para ulama pemberi fatwa.”

Mengomentari riwayat ini, Ayatullah Az-Zanjani mengatakan,
“Yang dimaksud dengan fuqaha ialah para ulama ahli fiqih dari kalangan kaum Ahli Sunnah, karena mereka memberikan fatwa dengan selain yang telah diturunkan oleh Allah. Bukti yang menunjukkan hal itu ialah ucapan Imam Al-Baqir Alaihissalam, ‘Ketika nanti Imam Al-Mahdi ini muncul –semoga Allah mempercepat kemunculannya- maka musuhnya yang nyata hanyalah para ulama ahli fiqih saja. Ia memegang pedang di tangannya (maksudnya ialah kekuasaan dan kekuatan), niscaya para ulama ahli fiqih tersebut akan memberikan fatwa untuk membunuhnya. Tetapi Allah memberinya kekuatan dengan pedang’.”

Demikian yang dikatakan oleh Az-Zanjani.

• Seorang ulama Syi’ah terkemuka Muhammad Baqir Al-Majelisi dalam kitab Haqqu Al-Yaqin berbahasa Persi mengemukakan apa yang pernah dikutip oleh seorang ulama terkemuka berkebangsaan India, Maulana Muhammad Manzhur Nu’mani dalam kitab Al-Tsaurah Al-Iraniyah fi Mizan Al-Islam, hal. 148, bahwasanya mereka sama menikahi kami dan mewarisi kami sampai munculnya Al-Mahdi yang kemudian akan emmulai membunuh para ulama Ahli Sunnah lalu orang-orang awam mereka.

• Diriwayatkan oleh guru Syi’ah, Abu Zainab alias Muhammad bin Ibrahim An-Nu’mani, murid guru Syi’ah Al-Kulaini dalam kitab Al-Gaibah, hal. 233, Maktabah Ash-Shaduq-Teheran, dari Muhammad bin Muslim, ia berkata,
“Aku pernah mendengar Abu Ja’far Alaihissalam mengatakan, ‘Seandainya manusia tahu apa yang akan dilakukan oleh Al-Qa’im ketika ia telah muncul nanti, niscaya kebanyakan mereka akan merasa senang melihat ia membunuh sebagian manusia. Ia akan memulainya dengan membunuh orang-orang Quraisy. Yang ia ambil dan yang ia berikan hanya pedang, sehingga banyak manusia yang mengatakan, ‘Orang ini bukan termasuk keluarga Muhammad. Seandainya termasuk keluarga Muhammad, ia pasti punya rasa kasihan’.”

Riwayat ini dikemukakan oleh Muhammad Ash-Shadiq Sard dalam Tarikh Ma Ba’da Azh-Zhuhur, hal. 567, Maktabah Ash-Shaduq-Teheran. Riwayat ini juga dikemukakan oleh ulama ahli fiqih sekaligus ahli hadits terkemuka Ilzam An-Nashib fi Itsbat Al-Hujjati Al-Gaib II/283, cetakan keempat 1977 Masehi, Mansyurat Muassasah Al-A’lami lil-Mathbu’at-Beirut.

• Disebutkan dalam kitab Al-Gaibah oleh An-Nuqmani, hal. 231, dan kitab Tarik ma Ba’da Azh-Zhuhur, hal. 566, sebuah riwayt dari Zurarah, dari Abu Ja’far Alaihissalam, ia berkata,
“Tolong sebutkan padaku nama salah seorang shalih alias Al-Qa’im.” Ia berkata, “Namanya sama dengan namaku.” Aku bertanya, “Apakah ia berperilaku seperti perilaku Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan keluarganya?” ia menjawab, “Tidak mungkin wahai Zurarah. Ia tidak berperilaku seperti beliau dan keluarganya.” Aku bertanya, “Aku menjadi tebusan Anda. Kenapa begitu?” Aia menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan keluarganya berjalan di tengah-tengah umatnya dengan pemberian yang menyatukan manusia. Sementara Al-Qa’im berjalan dengan membunuh. Dalam kitab yang dibawanya ia disuruh untuk membunuh. Ia tidak meminta bertaubat kepada siapa pun. Bahkan sungguh celaka orang yang berani menantangnya.”

• Syaikh Muhammad Shadiq Sadr dalam kitab Tarikh Ma Ba’da Azh-Zhuhur, hal. 570-571, mengutip dari Rufaid budak Ibnu Hubairah, ia berkata,
“Aku bertanya kepada Abu Abdullah Alaihissalam, ‘Aku menjadi tebusan Anda, wahai cucu Rasulullah. Apakah Al-Qa’im akan berperilaku seperti perilaku Ali bin Abu Thalib di tengah-tengah publik kaum Muslimin?’ Ia menjawab, ‘Tidak, wahai Rufaid. Sesungguhnya Ali bin Abi Thalib berjalan di tengah-tengah publik kaum Muslimin dengan apa yang ada pada sumur hitam. Sedangkan Al-Qa’im berjalan di tengah orang-orang Arab dengan apa yang ada dalam sumur merah.’ Aku bertanya, ‘Aku menjadi tebusan Anda, apa itu sumur merah?’ Sambil menempelkan jari pada leher ia berkata, ‘Penyembelihan’.”

• Disebutkan dalam kitab Al-Gaibah oleh An-Nu’mani, hal. 234, dan kitab Tarikh Ma Ba’da Azh-Zhuhur, oleh Sadr, hal. 115, sebuah riwayat dari Abu Abdullah Alaihissalam, ia berkata,
“Ketika nanti Al-Qa’im muncul, tidak ada di antaranya, dan di antara orang-orang Arab dan suku Quraisy kecuali pedang.”

• Disebutkan dalam kitab Al-Gaibah oleh An-Nu’mani, hal. 236, sebuah riwayat dari ayahku, Abdullah Alaihissalam, ia berkata, “Yang ada antara kami dan orang-orang Arab hanyalah penyembelihan.” Ia lalu memberi isyarat yang menunjuk ke lehernya.
Mereka mengutip ucapan imam mereka yang ma’shum dan tidak berbicara dari nafsu,

“Seandainya kami tidak mengkhawatirkan salah seorang kalian akan membunuh salah seorang mereka, sementara satu orang di antara kalian itu lebih baik dari seribu orang dari mereka, niscaya kami perintahkan kalian untuk membunuh mereka. Tetapi hal itu akan kita serahkan kepada Al-Imam Alaihissalam.”

Riwayat yang buruk ini diketengahkan oleh guru kaum Syi’ah, Al-Hurru Al-Amili dalam kitab Wasa’il Asy-Syi’ah (XI/60), oleh Al-Bahrani dalam kitab Al-Hada’iq An-Nadhirah (Xviii/155), dan Syaikh Husain Alu Ushfur dalam kitab Al-Mahasin An-Nafsaniyah, hal. 166. Riwayat ini juga dikemukakan oleh guru kaum Syi’ah, Al-Faidh Al-Kasyani dalam Al-Wafi (x/59), dengan redaksi,

“Seandainya kami tidak mengkhawatirkan salah seorang dari kalian akan membunuh salah seorang dari mereka, padahal satu orang di antara kalian itu lebih baik daripada seribu bahkan seratus ribu orang dari mereka, niscaya kami perintahkan kalian untuk membunuh mereka. Tetapi hal ini terserah pada Al-Imam.”

Sumber: Al-Mushili, Abdullah. Mengungkap Hakikat Syi’ah. Jakarta: Darul Falah

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.