Menurut Syi’ah, Para Imam itu Ma’shum

Menurut Syi’ah, Para Imam itu Ma’shum

• Muhammad Ridha Al-Muzhaffar dalam kitabnya Aqa’id Al-Imamiyah, hal. 91, Daar Al-Shafwat-Beirut, mengatakan,
“Kami yakin bahwa imam itu seperti seorang nabi. Ia wajib ma;shum (dijaga) dari hal-hal yang nista dan yang keji, secara lahir maupun batin, mulai dari kanak-kanak sampai mati, baik sengaja atau lupa. Seorang imam juga ma’shum (dijaga) dari lupa dan salah.”

• Ia juga mengatakan,
“Bahkan kami yakin bahwa perintah para imam adalah perintah Allah Ta’ala, larangan mereka adalah larangan-Nya, taat kepada mereka sama dengan durhaka kepada-Nya, kekasih mereka adalah kekasih-Nya, dan musuh mereka adalah musuh-Nya. Tidak boleh membantah mereka. Orang yang membantah mereka sama seperti orang yang membantah Rasulullah, dan yang berani membantah Rasul sama halnya membantah Allah Ta’ala.”

• Al-Khomeini dalam kitabnya Al-Hukumat Al-Islamiyah, hal. 91, mengatakan
“Kami yakin bahwa kedudukan yang diberikan oleh para fuqaha kepada para imam akan selalu terjaga, karena para imam adalah orang-orang yang sulit dibayangkan bisa lupa atau lalai. Dan kami pun yakin bahwa para imam pasti akan senantiasa memperhatikan kemaslahatan kaum Muslimin. Mereka tahu bahwa sepeninggalan mereka kedudukan ini tidak akan lenyap dari para fuqaha.”

• Imam besar Muhammad Al-Husain Kasyif Al-Ghitha’ dalam kitabnya Ashlu Asy-Syi’ah wa Ushuluha, hal. 59, mengatakan, “Seorang imam wajib bersifat ma’shum atau terjaga dari kesalahan dan dosa, sama seperti seorang nabi.”

• Seorang ulama Syi’ah Az-Zanjani dalam kitabnya Aqa’id Al-Itsna Asyar (II/158), Al-A’lami-Bairut, mengatakan mengutip dari Ash-Shaduq, tokoh para ulama ahli hadits sebagai berikut,
“Keyakinan kami terhadap para nabi, para rasul, dan para imam ialah bahwa mereka semua bersifat ma’shum dan suci dari segala yang kotor. Mereka tidak akan melakukan dosa yang kecil maupun yang besar. Mereka tidak akan mendurhakai Allah atas apa yang Dia perintahkan kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. Siapa yang menafikan sifat ma’shum dari mereka barang sedikit pun, berarti ia tidak mengenal mereka. Dan siapa yang tidak mengenal mereka ia adalah orang kafir.”
Ketiga: Pandangan yang Berlebihan Orang-Orang Syi’ah tentang Proses Penciptaan Para Imam

• Al-Khomeini dalam kitabnya Zubdat Al-Arba’in Haditsan, hal. 332, cet. Daar Al-Murtadha-Beirut, yang diringkas oleh Sami dan dia berbicara tentang kedudukan para imam; dan dalam kitabnya Al-Arba’una Haditsan karya Al-Khomeini, hal. 604, Daar Al-Ta’aruf-Beirut, mengatakan sebagai berikut,
“Ketahuilah, wahai Al-Habib, bahwasanya Ahlul Bait yang bersifat ma’shum Alaihimussalam itu menyamai Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam kedudukannya yang bersifat rohani dan kasat mata, sebelum terciptanya alam. Cahaya-cahaya mereka bertasbih dan mensucikan sejak saat itu. Dan itu jauh di atas jangkauan kemampuan seseorang, termasuk masuk dari segi ilmiah.”
Disebutkan dalam nash yang mulia, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala selalu dalam otoritas keesaan-Nya. Kemudian Dia menciptakan Muhammad, Ali, dan Fatimah. Seribu tahun kemudian Allah baru menciptakan segala sesuatu, dan Allah meminta kesaksian mereka atas penciptaan-Nya itu. Allah mengharuskan segala sesuatu untuk taat kepada mereka, dan juga menyerahkan semuanya kepada mereka. Mereka boleh menghalalkan dan mengharamkan apa saja yang mereka kehendaki. Dan mereka tidak akan berkehendak kecuali dikehendaki oleh Allah Ta’ala. Selanjutnya Allah berfirman, ‘Wahai Muhammad, siapa yang berani menentang kepercayaan ini berarti ia keluar daripadanya, siapa yang setia kepadanya ia dalam posisi yang benar. Peganglah kepercayaan ini, wahai Muhammad’.”
Itulah hak para imam Alaihimussalam yang terdapat dalam kitab-kitab yang menjadi pegangan Syi’ah. Hal ini sama sekali tidak rasional, karena siapa pun tidak akan sanggup mengetahui hakikat dan rahasia-rahasia mereka selain diri mereka sendiri Shalawatullahi wa Salamuhu Alaihim.

• Seorang ulama Syi’ah yang menjadi rujukan mereka, Al-Mirza Hasan Al-Hairi dalam kitabnya Ad-Din Baina As-Sa’il wa Al-Mujib , jilid II, hal. 72, Maktabah Al-Imam Ash-Shadiq Al-Ammah-Kuwait, ditanya, “Kalau Imam Ali Alaihissalam lebih utama daripada Nabi Musa Alaihissalam, lalu apa rtinya ucapan Ali “Aku adalah tongkat Musa”? Apakah Al-Imam Amirul Mukminin sebagai tanda-tanda besar merupakan mukjizat bagi Musa? Padahal sang imam sudah mengatakan sendiri, “Tanda-tanda apa lagi yang lebih besar daripada aku?”
Dengan hormat kami mengharapkan jawaban yang rinci, lahir maupun batin. Dan terima kasih yang sebanyak-banyaknya atas jawaban Anda. Sekian.
Al-Hairi menjawab,
“Kalimat penuh berkah tadi memiliki dua makna atau penafsiran. Pertama, yang dimaksud kedudukan Ali Alaihissalam sebagai tongkat Musa utusan Allah iaalh bahwa ia merupakan tanda yang paling besar, mukjizat yang paling agung untuk menetapkan nubuwat saudaranya, putra pamannya dalam hal ilmu, mukjizat, dan kemuliaan-kemuliaannya. Kedua, sesungguhnya Ali yang menimbulkan pengaruh pada tongkat Musa Alaihissalam. Tanpa ada pengaruh kekuasaannya yang besar, maka tongkat tersebut akan berubah menjadi seekor ular. Jadi, Ali adalah pembela bagi seluruh nabi dalam pemunculan mukjizat serta karomah-karomah mereka, pengaruh pada hujjah-hujjah mereka, dan faktor penentu terhadap orang-orang yang mengingkari risalah-risalah mereka. Itulah yang ditegaskan oleh riwayat-riwayat mereka atas kekuasaannya yang besar dan universal. Jadi, ia adalah tanda kebesaran sekaligus berita yang besar.”

• Dalam kitab yang sama jilid II, hal. 219, ia ditanya, “Bagaimana hukum seseorang yang shalat membelakangi cungkup Ali Alaihissalam? Bagaimana pendapat Anda dengan cungkup para syuhada’ dan para shaihin dari putra-putra para imam yang ma’shum? Dan bagaimana hukumnya seseorang yang shalat di samping cungkup yang diberkahi?”
Al-Hairi menjawab,

• “Berdasarkan kesepakatan para ulama Imamiyah, tidak boleh hukumnya shalat membelakangi cungkup Ali Al-Ma’shum, dan shalatnya bathil. Sebab meskipun sudah wafat, ia tetap dianggap masih hidup. Sementara hukum shalat membelakangi cungkup Abul Fadhel Al-Abbas Alaihissalam, hanya dinilai tidak hormat dan tidak sopan dengan kedudukannya. Dan tidak apa-apa hukumnya shalat di samping cungkup Ali Alaihissalam, asalkan tidak sampai membelakangi kuburnya yang suci yang ada di dalam cungkup. Mudah-mudahan Allah berkenan selalu menolong kita untuk melakukan hal-hal yang Dia sukai dan diridhai-Nya. Atas kebenaran Muhammad berikut seluruh keluarganya yang suci, tolong kabulkan doa kami.”

• Dalam kitab yang sama jilid II, hal 181, Al-Allamah, Al-Imam, dan Al-Mushlih Mirza Hasan Al-Hairi juga ditanya, “Dari para mubaligh kami mendengar bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memiliki cahaya yang mengalahkan cahaya matahari dan rembulan. Jika sedang melewati matahari, bayangannya tidak terlihat. Kami harap Anda berkenan menjelaskan tentang cahaya ini.”
Al-Hairi menjawab,
“Dengan nama Allah Ta’ala, semoga keselamatan, rahmat, serta berkah-Nya senantiasa dilimpahkan kepada kalian. Wahai putraku yang tercinta, semoga Allah selalu menolongmu memperoleh keridhaan-Nya. Ketahuilah bahwasanya Allah Ta’ala telah menciptakan cahaya Nabi-Nya Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dari cahaya keagungan-Nya, sebagaimana yang telah disepakati di antara Syi’ah dan Ahli Sunnah. Artinya, bahwa pada awal wujud, Allah sudah menciptakan cahaya yang suci, yang mulia, dan yang bersinar terang. Allah mengaitkan cahaya itu kepada diri-Nya berikut sifat-sifat-Nya. Dari cahaya itulah Allah menciptakan Muhammad, lalu Dia menciptakan Ali Amirul Mukminin Alaihissalam dari cahaya Nabi-Nya ini. Jadi, seperti cahaya yang muncul dari cahaya. Atau seperti lilin dari lilin yang lain. Lilin kedua ini menggambarkan lilin yang pertama dengan segala keistimewaannya dari sifat-sifat Ilahi. Keutamaan bagi cahaya yang pertama, karena ia memang diciptakan yang pertama. Demikian pula dengan orang-orang yang ma’shum lainnya, yakni Fatimah Az-Zahra dan putra-putranya yang suci Shalawatullahi Alaihim. Mereka diciptakan dari cahaya tersebut sesudah Ali Alaihissalam. Seperti cahaya yang muncul dari cahaya. Masing-masing dari mereka menggambarkan yang lain dalam seluruh sifatnya yang diberikan oleh Ar-Rahman berkat kebaikan serta kedermawanan-Nya. Kemudian dari lahiriah sinar cahaya tersebut Allah menciptakan para nabi, para rasul, para malaikat, dan seluruh makhluk yang lain.”

• Ayatullah Syi’ah yang besar, Jawwad At-Tibrizi dalam komentar dan fatwa-fatwanya terhadap kitab Shirath An-Najat oleh Al-Khau’i, jilid III, hal. 438-439, Maktabah Al-Faqih-Kuwait, ditanya, “Bagaimana pendapat Anda tentang orang yang meyakini bahwa Nabi dan anggota keluarganya Alaihimussalam sudah ada berikut arwah dan jasadnya, sebelum terciptanya alam, bahwa mereka sudah diciptakan sebelum terciptanya Adam Alaihissalam, dan bahwa Allah Ta’ala menciptakan bentuk mereka di sekitar Arasy. Bagaimana jawabannya?”

At-Tibrizi menjawab,
“Cahaya mereka Alaihimussalam sudah ada sebelum terciptanya Adam Alaihissalam. Tetapi mereka secara materi baru diciptakan setelah penciptaan Adam, seabgaimana yang telah kita ketahui bersama dengan jelas. Wallau a’lam.”

• Ia juga ditanya, “Bagaimana pendapat Anda bahwa struktur penciptaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam itu lebih dahulu diciptakan daripada Adam Alaihissalam? Dan bahwa Rasulullah berikt keluarganyalah yang menciptakan makhluk?”
Ia menjawab,
“Yang dimaksud dengan lebih dahulu diciptakan ialah dari segi cahayanya, bukan fisiknya., sebelumnya telah dikemukakan bahwa Allah Ta’ala adalah yang menciptakan seluruh makhluk. Allah berfirman dalam surat Al-An’am ayat 102, ‘Demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu. Maka sembahlah Dia; dan dia adalah pemelihara segala sesuatu.’
Memelihara itu tidak berarti mencakup memulai menciptakan. Ayat-ayat senada itu cukup banyak. Tetapi kami tidak mungkin menyebutkannya.
Terciptanya sesuatu dari sesuatu yang lain itu seperti terciptanya seonggok daging dari segumpal darah. Terciptanya janin dari seonggok daging itu bukan berarti bahwa yang menciptakan janin adalah seonggok daging. Betapa pun Allah lah yang menciptakan janin tersebut dari seonggok daging. Dari sini tampak jelas bahwa riwayat-riwayat yang menyatakan kalau golongan kami diciptakan dari unsur tanah yang terbaik, atau kalau Allah menciptakan sebagian makhluk dari cahaya kami, bukan berarti bahwa keutamaan unsur tanah kami atau cahaya kami adalah yang menciptakan. Betapa pun sang pencipta adalah Allah. Sama seperti Allah menciptakan manusia dari tanah. Wallahu a’lam.”

• At-Tibrizi ditanya, “Bolehkah percaya bahwa Sayidah yang suci Fatimah Az-Zahra Alaihissalam itu bisa hadir di majelis-majelis kaum wanita dalam waktu yang sama, dan di majelis-majelis yang berbeda dengan segenap jiwa, darah dan dagingnya?”
Ia menajwab,
“Kehadiran Fatimah dalam bentuk cahaya di beberapa tempat dalam waktu yang sama, bukan sesuatu yang tidak mungkin. Sebab, bentuk cahaya Fatimah itu berada di luar tempat dan waktu. Berbeda dengan jisim atau fisik yang memang membutuhkan tempat dan waktu. Wallahu a’lam.”

• At-Tibrizi juga ditanya, “Apakah ada kekhususan atau ciri khas pada penciptaan Fatimah Az-Zahra Alaihissalam, terkait dengan berbagai cobaan yang ia alami sepeninggalan ayahnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, berupa kezaliman banyak orang kepadanya sehingga ia pernah mengalami keguguran. Bagaimana pendapat Anda?”
Ia menjawab,
“Benar. Sesungguhnya penciptaan Fatimah itu sama seperti penciptaan imam-imam yang lain Salamullahi Alaihim, yaitu dengan kelembutan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah memang memberikan keistimewaan pada penciptaan mereka dari manusia yang lain. Ketika Fatimah Alaihimussalam masih dalam perut ibunya, ia sudah dibicarakan. Bahkan malaikat turun kepadanya setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat.”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.