Mengistimewakan Ali Dengan Mengucapkan Karamallahua Wajhah

Mengistimewakan Ali Dengan Mengucapkan Karamallahua Wajhah

Soal:
Apa hukum mengistimewakan Ali dengan mengucapkan ‘alahis salam atau karamallahu wajhah (semoga Allah memuliakan wajahnya)?

Jawab:
Pengistimewaan ini memiliki dasar. Demikian itu karena pada asalnya doa untuk para sahabat adalah memohonkan keridhaan untuk mereka semua, seperti dalam firman Allah Ta’ala, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah Ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah”. (At-Taubah [9]:100). Firman-Nya, “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon”. (Al-Fath [48]:18).

Oleh karena itu, Ahlussunah menyetujui doa taradhi (keridhaan) bagi setiap sahabat ketika menyebutnya atau meriwayatkan hadits darinya. Misalnya, ucapan dari Umar Radiallahu’anhu, atau Ibnu Abbas Radiallahu’anhu. Sepanjang sepengetahuan saya, ucapan salam tidak dipakai saat menyebut salah seorang di antara sahabat, walaupun kata salam merupakan penghormatan bagi kaum muslimin diantara sesama mereka. Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala. “Maka apabila memasuki suatu rumah dari rumah-rumah ini hendaklah kamu member salam kepada penghuninya yang berarti member salam kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik”. (An-Nur [24]:61). Meskipun demikian, keridhaan tetap lebih mulia daripada keselamatan (salam). Allah berfirman, “Dan Keridhaan Allah adalah lebih besar”.(At-Taubah [9]:72). Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam mengabarkan bahwa Allah Ta’ala berfirman kepada penghuni surga.

“Aku menghalalkan keridhaan-ku sehingga aku tidak akan murka kepada kalian setelahnya, selamanya”. (HR.Bukhari dan Muslim).

Tetapi, para ulama sepakat bahwa salam dikhususkan untuk para nabi, sesuai dengan firmannya, “Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul”. (Ash-Shaffat [37]:181). Firmannya, “Kesejahteraan dirinya pada hari ia dilahirkan. (Maryam [19]:15). Karena ada sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang berkenaan dengan pribadi Ali, “Engkau (Ali) bagi diriku bagaikan posisi Harun di sisi Musa”. (HR. Muslim, Tirmidzi dan Lainnya). Maka orang yang berlebih-lebihan, seperti Rafidhah, dan orang yang semisal mereka mengambil kata itu lalu memakainya untuk mendoakan Ali dengan ucapan, “Alaihis salam” dan “Semoga Allah memuliakan wajahnya”.

Tidak diragukan bahwa Ali layak untuk menyandangkannya. Akan tetapi, seluruh sahabat orang yang mengikuti mereka baik juga layak menerima ungkapan doa seperti itu. Bagaimana pun, kita menyatakan bahwa istilah ini merupakan perkara baru dari orang-orang ekstrim terhadap Ahli Bait, seperti Rafidhah dan Zaidiyah. Selanjutnya, kata tersebut terdapat dalam buku-buku Ahlussunnah, barangkali kata itu muncul dari sebagaian penulisnya yang mengekor mereka berangkat dari persangkaan baik. Karena itu, hendaknya ini diketahui Wallahua’alam.

(Fatawa fit Tauhid, Syaikh Bin Jibrin, hal.37).

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.