Keutamaan para Imam Istna Asyar Atas Para Nabi Alaihimussalam

Sesungguhnya pandangan orang-orang Syi’ah terhadap Ahlul bait Radhiyallahu Anhum, tidak sama seperti pandangan kita kaum Ahli Sunnah wal Jama’ah terhadap mereka. Ahlul Bait yang mereka serukan untuk diikuti, ialah para Imam Itsna Asyar yang mana mereka lebih utamakan daripada para nabi. Benar. Mereka lebih utamakan para imam tersebut daripada nabi-nabi Allah Alaihimussalam.

• Seorang guru Syi’ah, As-Sayid Amir Muhammad Al-Kazhimi Al-Qazwini dalam kitabnya Asy-Syi’ah fi Aqa’idihim wa Ahkamihim, hal. 73, cetakan kedua, mengatakan, “Para imam dari Ahlul Bait Alaihimussalam itu lebih utama daripada para nabi.”

Ayatullah Abdul husain Dastaghib, salah seorang pendukung Al-Khomeini, dalam kitabnya Al-Yaqin, hal. 46, Daar At-Ta’aruf-Beirut, Libanon, 1989 Masehi, mengatakan sebagai berikut, “Dua belas imam kita Alaihimussalam itu lebih utama daripada semua nabi, kecuali Nabi terakhir Shallallahu Alaihi wa Alihi.” Barangkali salah satu sebabnya karena mereka terlalu yakin.

• Hal yang sama juga dikatakan oleh Al-Khomeini dalam kitabnya Al-Hukumah Al-Islamiyah, hal. 52, Al-Maktabah Al-Islamiyah Al-Kubra. Ia yakin bahwa para imam memiliki kedudukan mulia yang tidak akan terjangkau oleh malaikat yang dekat dengan Allah dan juga oleh nabi yang diutus. Banyak penulis dan pemikir dari kaum Ahli Sunnah yang mengutip statemen ini.

• Jauh sebelum mereka, hal itu sudah dikatakan oleh guru Syi’ah, Muhammad bin Ali bin Al-Husain Al-Qummi atau yang oleh orang-orang Syi’ah diberi julukan Ash Shaduq dalam kitab Uyun Akhbar Ar-Ridha; dan guru Syi’ah, Muhammad bin Al-hasan Al-Hurru Al-Amili dalam kitab Al-Fushul AL-Muhimmah.

• Inilah yang dikatakan Al-Khomeini,

“Sesungguhnya seorang imam memiliki kedudukan yang terpuji, tingkatan yang mulia, dan kekhilafahan alami di mana seluruh atom di dunia ini tunduk kepada kekuasaan dan dominasinya. Salah satu hal yang sangat ditekankan dalam mazhab kami ialah bahwa imam-imam kami memiliki kedudukan yang tidak akan dapat dijangkau oeh malaikat yang dekat dengan Allah dan juga oleh nabi yang diutus sekalipun.”

• Ni’matullah Al-Jazairi dalam kitabnya Al-Anwar An-Nu’maniyah (I/20-21) menjelaskan pendapat Syi’ah Imamiyah tentang mana yang lebih utama antara para nabi atau para imam. Ia mengatakan,

“Ketahuilah, sesungguhnya tidak ada perselisihan di antara sahabat-sahabat kami Ridhwanullahi Alaihim tentang kemuliaan Nabi kita Shallallahu Alaihi wa Sallam atas seluruh nabi Alaihimussalam, berdasarkan beberapa riwayat hadits yang mutawatir. Yang diperselisihkan di antara kami ialah tentang keutamaan Amirul Mukminin dan para imam yang suci Alaihimussalam atas para nabi selain moyang mereka.”

Sebagian ulama Syi’ah berpendapat, bahwa para imam lebih utama daripada semua nabi, kecuali nabi-nabi yang bergelar ulul azmi. Sesungguhnya mereka lebih utama daripada para imam Alaihimussalam. Sebagian yang lain berpendapat, bahwa kedudukan mereka sama. Sementara menurut sebagian besar ulama dari generasi belakangan, para imam Alaihimussalam lebih utama daripada nabi-nabi yang bergelar ulul azmi maupun yang lainnya. Dan inilah pendapat yang benar.”

• Seorang mujtahid terakhir Syi’ah bernama Muhammad Baqir Al-Majelisi dalam kitabnya Mir’at Al-Uqul, jilid II, hal. 290, bab Beda Antara Rasul, Nabi, dan Ahli Hadits, mengatakan,

“Sesungguhnya mereka –maksudnya para imam lebih utama dan lebih mulia daripada seluruh nabi, kecuali Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi wa Alaihim.”

• Begitu pula yang disebutkan dalam kitab Ash-Shirath Al-Mustaqim tulisan Al-Allamah ahli hadits, ahli ilmu kalam, dan guru Syi’ah, Zainuddin alias Abu muhammad Ali bin Yunus Al-Amili An-Nabathi Al-Bayadhi yang ditashih dan dikomentari oleh Muhammad Baqir Al-Bahbudi. Pembaca yang budiman, sebelum kami mengajak Anda untuk menyimak isinya, kami ingin mengemukakan kepada Anda pujian dan sanjungan salah seorang ulama yang menjadi rujukan Syi’ah sekarang ini, yakni Ayatullah Abu Al-Ma’ali alias Syihabuddin Al-Husaini Al-Mar’asyi An-Najfi Ali kepada An-Nabathi dalam bentuk terjemah yang ia beri nama Riyadh Al-Afahi dalam biografi Al-Allamah Al-Bayadhi, pada bagian mukadimah.

Al-Mar’asyi mengatakan,

“Salah satu hal terbaik yang menurutku layak ditempatkan pada peringkat pertama ialah kitab Ash-Shirath Al-Mustaqim Ila Mustahiqqi Al-taqdim oleh Al-Allamah Syaikh Zainuddin Abu Muhammad Ali bin Yunus Al-Amili An-Nabathi Al-bayadhi –semoga Allah memurnikan kelembutannya dan membalas kemuliaannya. Sungguh ini adalah kitab yang topiknya sangat mengagumkan. Kata Al-Allamah penulis kitab Ar-Raudhat, selain kitab Asy-Syafi oleh Sayid Al-Murtadha Alamul Huda, saya tidak pernah melihat kitab yang sepertinya. Bahkan dari beberapa segi kitab ini lebih unggul daripada kitab Asy-Syafi.”

Kami ingin mengatakan, ada beberapa teman kami simpatisan Syi’ah yang marah ketika dikatakan kepada mereka, “Bahwa Ar-Rafidhah adalah golongan yang paling dusta yang membawa-bawa nama-nama Islam.” Zainuddin Al-Bayadhi dalam kitabnya Shirath Al-Mustaqim (I/20), cetakan pertama, Maktabah Haidiriyah Al-Murtadhiwiyat li Ihya’ Al-Atsar Al-Ja’fariyat, mengatakan sebagai berikut,

“Imam Malik bin Anas mengutip banyak riwayat tentang keutamaan-keutamaan Ali bahwa ia lebih utama daripada nabi-nabi yang bergelar ulul azmi.”

Wahai hamba-hamba Allah, apakah mungkin Malik bin Anas menganggap Ali lebih utama daripada nabi-nabi yang bergelar ulul azmi? Selanjutnya ia juga menyebutkan bahwa sebagian besar guru-guru Syi’ah menganggap lebih utama Ali daripada sebagian besar nabi-nabi yang bergelar ulul azmi. Lebih lanjut ia mengatakan,

“Sebagian besar guru-guru kami menganggap Ali lebih utama daripada nabi-nabi yang bergelar ulul azmi, karena kepemimpinannya yang bersifat umum dan kekhilafahannya yang memberikan banyak manfaat bagi seluruh penduduk dunia.”

Benarkah seluruh penduduk dunia mendapatkan manfaat dari kekhilafan Ali Radhiyallahu Anhu? Sesungguhnya mereka sepakat bahwa para imam lebih utama daripada para nabi, selain nabi-nabi yang bergelar ulul azmi. Di antara mereka memang ada yang menganggap seperti itu. Tetapi di antara mereka juga ada yang menganggap para nabi yang bergelar ulul azmi lebih utama daripada para imam. Tetapi sebagian besar ulama Syi’ah cenderung pada pendapat pertama. Ini yang berlaku pada zaman Zainuddin An-Nabathi. Sementara sekarang ini mereka semua menegaskan bahwa para imam lebih utama daripada seluruh nabi, selain Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya dan yang kami kutip dari pendapat-pendapat ulama Syi’ah. Tidak perlu diperhitungkan orang yang mengingkari hal ini karena mengamalkan taqiyah.

• Al-Amili An-Nabathi dalam kitabnya Shirath Al-Mustaqim (I/10), tentang kesamaan Amirul Mukminin dengan para nabi, mengatakan,

“Berkat doa Musa, Allah berkenan menghidupkan suatu kaum, sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah Ta’ala surat Al-Baqarah ayat 56, ‘Setelah itu kami bangkitkan kami sesudah kamu mati.’ Dan karena Ali, Allah menghidupkan kembali Ashabul Kahfi, para penghuni gua. Katanya, karena Ali lah Allah menghidupkan kembali Sam bin Nuh, dan Allah juga menghidupkan kembali tengkorak Al-Jalandi, Raja Ethiopia.”

• Al-Bayadhi dalam kitabnya tersebut (I/102), mengatakan, “Ikan-ikan di laut sama mengucapkan salam kepada Ali. Allah menjadikannya sebagai imam bagi manusia dan jin.”

Coba perhatikan, sebelumnya Al-Bayadhi menggunakan kalimat katanya yang berkonotasi tidak yakin. Tetapi kemudian ia menggunakan kalimat “dan Allah juga menghidupkan kembali tengkorak Al-Jalandi, Raja Ethiopia” yang bernada yakin. Ayatullah Al-Mar’asyi tidak mau diam. Ia setuju dengan Al-Bayadhi. Seorang mujtahid Syi’ah di Syiria bernama Muhsim Al-Amin, seperti yang tertulis pada halaman 9 bagian mukadimah menyebut-nyebut kitab ini. Dan ia mengatakan bahwa hal itu menunjukkan keutamaan penulisnya.

Lalu apa jawaban orang yang mengatakan bahwa di kalangan ulama Syi’ah dari generasi belakangan sikap ekstrim itu dianggap biasa-biasa saja. Sesungguhnya orang yang mengatakan seperti itu adalah bodoh dan kekanak-kanakan. Ia tidak tahu tentang propaganda Syi’ah. Kalau pun tahu, yang ia ketahui hanya sekedar kulitnya saja.

• Dalam kitab yang sama (I/105), Al-Bayadhi juga berkata kepada sahabat-sahabat Ali,

“Sesungguhnya Musa dan Isa diperlihatkan mukjizat-mukjizat. Dan seandainya kita diperlihatkan salah satu mukjizat saja, kita akan merasa senang. Dari satu arah Ali Alaihissalam memperlihatkan beberapa surga kepada sahabat-sahabatnya, dan dari arah yang lain ia memperlihatkan neraka kepada mereka. Sebagian besarulama Syi’ah mengatakan, ‘Ali memperlihatkan kepada mereka kerikil masjid Kuffah seperti permata. Salah seorang mereka kufur, dan yang lain tetap percaya’.”

Pada halaman yang sama kitab Ash-Shirat Al-Mustaqim, Al-Bayadhi mengatakan,

“Seorang penganut mazhab Khawarij bertengkar dengan seorang wanita. Mendengar orang itu berteriak-teriak, Ali Alaihissalam berkata kepadanya, ‘Celaka kamu.’ Tiba-tiba kepala orang Khawarij itu berubah menjadi kepala seekor anjing.”

• Dalam kitab yang sama (I/241), Al-Bayadhi mengatakan,

“Pasal kedua puluh tiga ialah keberadaan Ali Alaihissalam sama dengan kedudukan surat Al-Ikhlasm sumur yang kosong, kebajikan, dan ayah para imam.”

• Dan dalam kitab yang sama hal. 105, Al-Bayadhi juga mengatakan,

“Allah menghidupkan kembali seorang lelaki dari Bani makhzum teman dekat Ali. Ia mengatakan, ‘Aku penuhi panggilanmu, aku penuhi panggilanmu wahai junjungan kami.’ Ali Alaihissalam bertanya kepadanya, ‘Bukankah kamu orang Arab?’ Ia menjawab, ‘Benar. Tetapi aku meninggal dunia atas kekuasaan si Fulan dan si Fulan. Lalu lisanku berubah menjadi lisan penghuni neraka.”

Menurut kami, siapa yang dimaksud dengan si Fulan dan si Fulan sudah ejlas, yakni Abu bakar Ash-Shiddiq dan Umar Al-Faruq Radhiyallahu Anhuma. Orang-orang Syi’ah menjadikan si Fulan dan si Fulan sebagai contoh yang mereka maksudkan bagi nama Abu Bakar dan Umar. Secara umum hal itu mereka tafsirkan sebagai pihak orang-orang Ahli Sunnah.

• Dalam kitab yang sama hal. 107, Al-Bayadhi mengatakan,

“Ketika Ali Alaihissalam pulang dari perang Shiffin, ia berbicara kepada Sungai Efrat. Seketika sungai ini bergejolak, dan manusia bisa mendengar suaranya yang mengucapkan dua kalimat syahadat serta mengakui akan kekhilafahannya. Dalam satu riwayat dari Ash-Shadiq Alaihissalam, dari nenek moyang Alaihimussalam, sesungguhnya Ali memukul Sungai Efrat dengan tongkat sehingga sungai ini memancarkan air yang sangat deras. Ikan-ikannya sama mengucapkan salam kepadanya, dan mengakui bahwa ia adalah hujjah Allah.”

Seorang mujtahid besar Syi’ah, Muhammad Al-Amin memuji-muji kitab ini pada bagian mukadimah yang mengisyaratkan atas keutamaan penulisnya. Muhsin Al-Amin dalam kitabnya Asy-Syi’ah Baina Al-Haqa’iq wa Al-Auham membela Syi’ah. Ia mengatakan bahwa para pemeluk Syi’ah terbebas dari khurafat-khurafat dan hal-hal negatif yang dikaitkan kepada mereka. Lihat, bagaimana ajaran taqiyah Syi’ah menganjurkan mereka untuk selalu tampil laksana bunglon.

• Dalam kitab yang sama (III/5), Al-Bayadhi mengatakan,

“Dalam riwayat Abu Dzar disebutkan, bahwa ketika selesai menghimpun Al-Qur’an, Ali membawanya kepada Abu bakar. Karena isinya banyak mengungkap aib-aib para shahabat, Abu Bakar lalu menolaknya. Umar menyuruh Zaid bin tsabit untuk menghimpun Al-Qur’an versi yang lain. Tetapi Zaid berkata, ‘Jika aku melakukannya, usahaku itu hanya akan sia-sia belaka.’ Umar lalu menyuruh Zaid menemui Ali supaya ia mau mengubah isi Al-Qur’an itu. Tetapi Ali menolaknya. Akhirnya Umar berencana untuk membunuh Ali lewat tangan Khalid. Cerita ini sudah populer.”

Riwayat tadi menyatakan bahwa orang-orang Syi’ah tidak meyakini keabsahan Al-Qur’an yang beredar di kalangan kaum Muslimin. Kami akan mengemukakan beberapa riwayat yang memastikan hal itu dalam pasal tentang Mahdi Syi’ah yang akan mengeluarkan Al-Qur’an yang sempurna.

• Al-Bayadhi mengetengahkan sebuah riwayat yang sangat aneh sebagai berikut,

“Ali berkata kepada seseorang yang membawa seorang budak, ‘Orang ini membawa seorang Israil.’ Ia bertanya, ‘Sejak kapan seorang budak berubah menjadi seorang Israil?’ Ali Alaihissalam menjawab, ‘Sesungguhnya orang ini akan meninggal dunia pada hari kelima.’ Begitu meninggal dunia dan sudah dikubur, Ali membongkar kubur orang itu dengan menggunakan kakinya. Ali berdiri seraya berkata, ‘Orang yang berani membantah Ali sama seperti orang yang berani membantah Allah dan Rasul-Nya.’ Ali lalu berkata kepada orang itu, ‘Kembalilah ke kuburanmu.’ Orang itu lalu segera memasuki lagi kuburnya.”

Itulah khurafat-khurafat yang dikemukakan oleh Zainuddin Al-Amili An-Nabathi Al-Bayadhi, dan yang tidak disangkal oleh Ayatullah Al-Mar’asyi. Ini membuktikan bahwa ia menerima khurafat-khurafat tersebut dan juga khurafat-khurafat lainnya, tanpa perlu mencari kesalahannya.

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.