Imam Mahdi Syiah Akan Membawa Al-Quran yang Sempurna

Diriwayatkan oleh guru Syi’ah, Muhammad bin An-Nu’man yang diberi julukan Al-Mufid dalam kitabnya Al-Irsyad, hal. 365, cetakan ketiga, Muassasah Al A’lami-Beirut tahun 1979 Masehi, dari Abu Ja’far Alaihissalam, ia berkata,

“Jika nanti Al-Qa’im keluarga Muhammad telah muncul, ia akan memasang beberapa tenda. Di sana ia akan mengajarkan Al-Qur’an sebagaimana yang diturunkan. Ia akan mempersoalkan Al-Qur’an yang dijaga oleh orang-orang sekarang ini, karena ia menyalahi Al-Qur’an yang asli.” Riwayat ini juga dikemukakan oleh Kamil Sulaiman dalam kitab Yaum Al-Khalash, hal. 372.

• Diriwayatkan oleh guru Syi’ah, An-Nu’mani dalam kitab Al-Gaibah, hal. 318, dari Ali Alaihissalam, ia berkata,

“Aku seolah-olah berada di tengah-tengah orang ajam. Aku berada di tenda-tenda mereka di depan Masjid Kuffah sedang mengajarkan kepada manusia tentang Al-Qur’an sebagaimana yang diturunkan. Aku (sang perawi) bertanya, ‘Wahai Amirul Mukminin, bukankah Al-Qur’an tersebut seperti yang diturunkan?’ Ia menjawab, “Tidak. Ada tujuh puluh orang Quraisy berikut nama-nama mereka dan nama-nama bapak-bapak mereka yang dihapus darinya. Yang tidak ditinggalkan hanya nama Abu Lahab, karena ia adalah paman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam’.”

• Dikutip oleh kaum Syi’ah, Muhammad Shadiq Ash-Sadr dalam kitab Tarikh Ma Ba’da Azh-Zhuhur, hal. 637, dari Abu Abdullah Alaihissalam, bahwasanya ia berkata,

“… seakan-akan aku melihat ia berada di antara rukun Al-Yamani dan maqam Ibrahim. Ia sedang membai’at banyak orang untuk percaya kepada kitab baru yang bagi orang-orang Arab sangat berani.”26[Riwayat ini juga dikemukakan oleh guru Syi’ah, Kamil Sulaiman, dalam kitab Yaum Al-Khalash, hal. 371.

• Disebutkan dalam Tarikh Ma Ba’da Azh-Zhuhur, hal. 638, dari Abu Ja’far Alaihissalam, ia berkata, “Al-Qa’im akan muncul pada tahun ganjil …” Lebih lanjut ia mengatakan,

“Demi Allah, seakan-akan aku seperti melihat ia berada di antara rukun Al-Yamani dan maqam Ibrahim. Ia sedang membai’at banyak orang untuk percaya kepada perkara yang baru, kitab yang baru, dan kekuasaan yang baru dari langit.”

• Disebutkan dalam kitab Yaum Al-Khalash oleh Kamil Sulaiman, hal. 373, dari Imam Ja’far Ash-Shadiq, ia berkata,

“Ketika Al-Qa’im Alaihissalam muncul, ia membaca Kitab Allah Azza wa Jalla apa adanya, lalu ia mengeluarkan mushaf yang ditulis oleh Ali Alaihissalam.”

• Diriwayatkan oleh Muhammad bin Muhammad Shadiq Ash-Sadr dalam Tarikh Ma Ba’da Az-Zhuhur, hal. 638, dari Muhammad bin Ali Alaihimas Salam, ia berkata,

“Seandainya Al-Qa’im keluarga Muhammad Alaihissalam telah muncul … ia akan membawa sesuatu yang baru, sunnah yang baru, dan keputusan baru yang bagi orang-orang Arab sangat berat.”

• Disebutkan dalam kitab Yaum Al-Khalash oleh Kamil Sulaiman, hal. 372, sebuah riwayat dari Amirul Mukminin, ia berkata,

“Aku seakan-akan melihat golonganku berada di Masjid Kuffah sedang memasang tenda. Mereka mengajarkan Al-Qur’an sebagaimana yang diturunkan.”

• Dikutip oleh Kamil Sulaiman dalam kitab Yaum Al-Khalash, hal. 373, tentang mushaf yang akan dibawa oleh Al-Mahdi. Ia mengatakan,

“Ali yang akan mengeluarkan mushaf kepada manusia ketika ia selesai menulisnya. Ia berkata kepada mereka, ‘Inilah Kitab Allah Azza wa Jalla seperti yang Dia turunkan kepada Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kami menghimpunnya dari dua lauh (maksudnya dari dua sisi awal sampai akhir).’ Mereka berkata, ‘Kami sudah memiliki mushaf yang lengkap bernama Al-Qur’an. Jadi kami tidak membutuhkan mushaf ini.’ Al-Mahdi berkata, ‘Demi Allah, setelah hari ini. Selamanya kalian tidak akan bisa melihatnya lagi. Ketika menghimpun mushaf ini, sesungguhnya aku sudah bermaksud memberitahukannya kepada kalian supaya dibaca’.”

• Ni’matullah Al-Jazairi dalam kitabnya Al-Anwar An-Nu’maniyah, jilid II, hal. 360, mengatakan,

“Diriwayatkan dalam beberapa hadits, sesungguhnya para imam Alaihimussalam menyuruh golongan mereka untuk membaca Al-Qur’an yang ada ini di dalam shalat dan ibadah-ibadah lainnya, serta mengamalkan hukum-hukumnya sampai muncul maulana sang pemilik zaman, Al-Mahdi. Al-Qur’an yang ada ini akan lepas melayang dari tangan manusia ke langit. Al-Mahdi lalu mengeluarkan Al-Qur’an yang ditulis oleh Amirul Mukminin Alaihissalam. Ia membacanya dan mengamalkan hukum-hukumnya.”

• Abul Hasan Al-Amili dalam kitabnya Mir’at Al-Anwar wa Misykat Al-Asnar, hal. 36, Daar At-Tafsir-Qumm, mengatakan,

“Sesungguhnya Al-Qur’an yang akan dipelihara dari hal-hal tersebut dan yang sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah Ta’ala ialah yang dihimpun dan dipelihara oleh Ali Alaihissalam hingga sampai kepada putranya Al-Hasan Alaihissalam. Demikian seterusnya hingga sampai kepada Al-Qa’im Alaihissalam, Al-Mahdi. Sekarang ini Al-Qur’an tersebut masih ada padanya.”

• Muhammad bin An-Nu’man yang diberi gelar Al-Mufid dalam kitanya Al-Masa’il As-Sarwiyat, hal. 88-89, mengatakan,

“Sesungguhnya ada riwayat shahih dari para imam kita Alaihimussalam bahwa mereka menyuruh untuk membaca Al-Daftain. Kita tidak boleh berlaku curang dengan menambahi atau menguranginya, sampai muncul Al-Qa’im Alaihissalam. Ia akan membacakan kepada manusia apa yang telah diturunkan oleh Allah Ta’ala, dan yang dihimpun oleh Amirul Mukminin Alaihissalam.”

Itulah ideologi orang-orang Syi’ah, bahwa Imam Al-Mahdi adalah imam kedua belas yang akan datang dengan membawa Al-Qur’an yang tidak diselewengkan oleh para sahabat –menurut keyakinan mereka-.

• Guru kaum Syi’ah dan hujjah mereka, Ayatullah Mirza Hasan Al-Hairi seperti yang dikutip dalam kitabnya Al-Din Baina As-Sa’il wa Al-Mujib, hal. 89, cetakan tahun 1394 Hijriyah, disodori pertanyaan sebagai berikut, “Yang sudah terkenal bahwa Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ialah daam bentuk ayat-ayat yang terpisah. Jadi, bagaimana Al-Qur’an bisa dihimpun dalam beberapa surat? Siapa yang pertama kali menghimpun Al-Qur’an? Apakah Al-Qur’an yang kitab baca selama ini memuat seluruh ayat yang diturunkan kepada seorang Rasul paling mulia Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, ataukah di sana-sini sudah ada penambahan dan pengurangan? Lalu bagaimana tentang mushaf Fatimah Az-Zahra’ Alaihissalam?”
Al-Hairi menjawab,

“Benar. Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan dari sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala kepada Rasul-Nya Muhammad bin Abdulah Shallallahu Alaihi wa Sallam selama waktu dua puluh tiga tahun sejak beliau diutus hingga hari wafatnya. Orang pertama yang menghimpunnya dan membikinnya menjadi sebauh kitab ialah Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib Alaihissalam. Al-Qur’an ini kemudian diwarisi oleh imam demi imam yang terdiri dari anak cucunya yang berpredikat Al-Ma’shum Alaihissalam. Al-Qur’an ini akan dikeluarkan oleh Imam Al-Mahdi yang ditunggu-tunggu. Begitu muncul, Al-Mahdi akan segera diberi kemudahan oleh Allah. Kemudian Al-Qur’an ini dihimpun oleh Utsman bin Affan ketika ia sedang menjabat sebagai khalifah. Inilah Al-Qur’an yang telah dihimpun oleh Utsman bin Affan ketika ia sedang menjabat sebagai khalifah. Inilah Al-Qur’an yang telah dihimpun oleh Utsman pada zaman permulaan shahabat, atau yang mereka tulis seperti yang ada di antara kita sekarang ini.”

Saudara kami sesama Muslim, coba Anda perhatikan uraian Al-Hairi di atas tentang adanya dua buah mushaf. Pertama, mushaf yang dihimpun Ali Radhiyallahu Anhu. Dan yang keuda, mushaf yang dihimpun oleh Utsman Radhiyallahu Anhu.

Al-Hairi tidak menyatakan secara tegas bawha kedua mushaf tersebut sinkron. Misalnya, ia juga tidak mengatakan bahwa mushaf Utsman itu berbeda dengan mushaf Ali.

Sesungguhnya mushaf Ali diwarisi oleh para imam yang ma’shum. Mereka tidak memperlihatkannya kepada siapa pun. Tetapi nanti akan diperlihatkan oleh seorang imam mereka yang ditunggu-tunggu pada waktu kemunculannya. Dan orang boleh bertanya, jika mushaf yang akan diperlihatkan oleh imam kaum Syi’ah yang ditunggu-tunggu itu mushaf yang beredar di tangan-tangan kaum Muslimin saat ini, lalu apa perlunya mushaf yang akan dibawa oleh imam yang ditunggu-tunggu tersebut?

Mari kita serahkan jawabannya kepada para ulama Syi’ah.

• Guru Syi’ah, Muhammad bin Muhammad An-Nu’man yang diberi jukukan Al-Mufid dalam kitabnya Awa’il Al-Maqalat, hal. 54, cetakan kedua –Tibriz Iran, dan hal. 91, Daar Al-Kitab Al-Islami-Beirut, mengatakan sebagai berikut,

“Sesungguhnya terdapat banyak riwayat hadits yang menjelaskan tentang para imam pembawa petunjuk dari keluarga Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam yang berbeda dengan Al-Qur’an berikut penambahan dan pengurangan yang diada-adakan oleh sebagian orang-orang yang zalim di dalamnya.”

• Seseorang yang oleh kaum Syi’ah disebut filosofinya para ahli fiqih dan ahli fiqihnya para filosof yang sekaligus guru satu-satunya pada zamannya bernama, Al-Maula Muhsin yang diberi julukan Al-Faidh Al-Kasyani dalam kitabnya Tafsir Ash-Shafi –mukadimah keenam- I/44, cetakan pertama 1979, Muassasah Al-A’lami-Beirut Libanon, mengatakan,

“Kesimpulan yang bisa diambil dari semua hadits tadi dan riwayat-riwayat lainnya dari sanad ahlul Bait Alaihimussalam ialah, bahwasanya Al-Qur’an yang ada di tengah-tengah kita sekarang ini bukan persis seperti yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Bahkan sebagiannya berbeda dengan aa yang telah diturunkan oleh Allah. Sebagian lagi sudah diubah dan diselewengkan. Soalnya ada banyak bagian yang telah dibuang daripadanya. Contohnya seperti nama Ali Alaihissalam yang telah dihapus pada beberapa bagian. Contoh lain seperti kalimat keluarga Muhammad juga dibuang. Contoh lain lagi seperti nama orang-orang munafik yang juga dihapus pada beberapa bagian. Dan masih banyak lagi contoh yang lain. Lagi pula Al-Qur’an yang sekarang ini tidak dalam susunan yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam berikut keluarganya.”

• Ai bin Ibrahim Al-Qummi dalam kitabnya Tafsir Al-Qummi, jilid I, hal. 36, Daar As-Surur-Beirut, mengatakan, “Adapun yang berbeda dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah ialah firman-Nya,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110)

Abu Abdullah Alaihissalam berkata kepada orang yang membaca ayat ini, “Sebaik-baik umat” yang membunuh Amirul Mukminin, Al-Hasan bin Ali, dan Al-Husain bin Ai Alaihissalam?” Seseorang bertanya, “Lalu bagaimana ayat ini bisa diturunkan, wahai cucu Rasulullah?” Ia menjawab, “Sesungguhnya yang diturunkan ialah ayat,

كُنْتُمْ خَيْرَ أَئِمَّةٍ أُخْرِ جَتْ لِلنَّاسِ

“Kalian adalah imam-imam yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.”

Kaliankan tahu, bagaimana Allah memuji mereka dalam ayat berikutnya,

تأْ مُرُ وْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَ تُؤْ مِنُوْ نَ بِاللهِ

“yang menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”

Contoh lain ialah ayat yang dibacakan kepada Abu Abdullah Alaihissalam,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

“Dan orang orang yang berkata ‘Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)
Abu Abdullah Alaihissalam mengatakan, “Mereka memohon kepada Allah sesuatu yang sangat besar, yakni agar Allah berkenan menjadikan mereka seabgai imam bagi orang-orang yang bertakwa.” Ditanyakan kepadanya, “Wahai cucu Rasulullah, bagaimana seharusnya ayat tersebut diturunkan?” Ia menjawab, “Sebenarnya yang diturunkan ialah ayat,

والَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَ بَّنَاهَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَاوَذُرِّيَّاتِنَاقُرَّةَأَعْيُنٍ وَاجْعَل لَنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامَا

“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah untuk kami seorang imam dari orang-orang yang bertakwa.”
Contoh lain lagi ialah ayat,

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللّهِ

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah .” (QS. Ar-Ra’ad: 11)

Abu Abdullah berkata, “Bagaimana menjaga sesuatu atas perintah Allah? Dan bagaimana ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya secara bergiliran di mukanya?” Ditanyakan kepadanya, “Jadi bagaimana hal itu sebenarnya, wahai Rasulullah?” Ia menjawab,

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran dari belakangnya dan malaikat Raqib dari di mukanya. Mereka menjaganya atas perintah Allah.”

Masih banyak lagi contoh yang lain.

• Ali bin Ibrahim Al-Qummi dalam kitabnya Tafsir Al-Qummi, jilid I, hal. 37, Daar AS-Surur-Beirut, mengatakan,

“Ayat yang diselewengkan ialah firman Allah,

لَكِنَّ الله يَثْهَدُ بِمَا أُ نْزِ لَ إِلَيْكَ فِيْ عَلِيٍّ أَنْزَ لَهُ بِعِلْمِهِ وَ الْمَلاَ ئِكَةُ يَثْهَدُ وْنَ

“Tetapi Allah mengakui Al-Qur’an yang diturunkan-Nya kepadamu tentang Ali. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula).”

Firman Allah,

يَاأَيُّهَاالوَّسُوْلُ بَلِّغْ بمَا أُ نْزِ لَ إِلَيْكَ فِيْ عَلِيٍّ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِ سَالَتَهُ

“Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu tentang Ali. Dan jika tidak kami kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.”

Firman Allah,

إِنَّ الَّذِ يْنَ كَفَرُوْا وَ ظَلَمُوْاآلَ مُحَمَّدٍ حَقَّهُمْ لَمْ يَكُنِ الله لِيَغْفِرَلَهُمْ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman kepada keluarga Muhammad, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka.”

وَ سَيَعْلْلَمُ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا آ لَ مُحَمَّدٍ حَقَّهُمْ أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُوْنَ

“Dan orang-orang yang berbuat zalim kepada keluarga Muhammad itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”

Dan firman Allah,

28,27 وَلَوْثَرَ ى إِذِ الظَّا لِمُوْنَ آلَ مُحَمَّدٍ حَقَّهُمْ فِي غَمَرَا تِ الْمَوْ تِ

27 [Ayat dalam Al-Qur’an, وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُوْنَ فِي غَمَوَا تِ الْمَوْ ت]

28 [Yang dimaksud penafsir ini, sesungguhnya kalimat, فِيْ عَلِيِّ dan آلَ مُحَمَّدِ digugurkan dari Al-Qur’an dengan cara diubah.]

“Alangkah dahsatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang berbuat zalim kepada keluarga Muhammad berada dalam tekanan sakaratul maut.”

• Guru kaum Syi’ah terkemuka, Ni’matullah Al-Jazairi dalam kitabnya Al-Anwar An-Nu’maniyah (II/357), terbitan Tibriz, Iran, mengatakan,

“Yang ketiga, konsekuensi menerima qira’at sab’at berstatus mutawatir dari wahyu Ilahi, dan seluruhnya telah diturunkan oleh Jibril, ialah haurs membuang semua riwayat mustafizhah bahkan mutawatir yang secara tegas menunjukkan adanya perubahan pada Al-Qur’an, baik dari segi ucapan atau materi atau i’rab. Sementara teman-teman kami Ridhwanullahi Alaihim telah terlanjur membenarkan dan mengamalkan riwayat-riwayat yang shahih tersebut.”

• Guru terkemuka kaum Syi’ah, Muhammad Baqir Al-Majelisi dalam kitabnya Mir’at Al-Uqul fi Syarhi Akhbar Ali Ar-Rasul (XII/525-526), cetakan kedua, Daar Al-Kutub Al-Islamiyat-Teheran, meriwayatkan dari Abu Abdullah Alaihissalam, bahwasanya ia berkata,

“Sesungguhnya Al-Qur’an yang dibawa oleh Jibril Alaihissalam kepada Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam berikut keluarganya ada tujuh belas ribu ayat.”

Ia mengomentari riwayat tersebut dengan mengatakan, “Riwayat ini dapat dipercaya. Dalam satu lafazh disebutkan bahwa riwayat ini berasal dari Hisyam bin Salim, bukan Harun bin Muslim. Hadits ini shahih. Padahal jelas hadits ini dan hadits-hadits shahih lainnya secara tegas menyatakan tentang kekurangan dan perubahan Al-Qur’an. Menurut saya, hadits-hadits tentang hal ini secara makna adalah mutawatir. Membuang semuanya, mengharuskan menghilangkan terhadap riwayat-riwayat hadits secara langsung, bahkan riwayat-riwayat tersebut menjadi zhanni dalam bab ini karena tidak terbatas tentang hadits-hadits imamah saja. Lalu bagaimana hal itu bisa ditetapkan berdasarkan riwayat hadits?”

• Guru Syi’ah, Abu Manshur Ahmad Ali bin Abi Thalib Ath-Thibrisi dalam kitabnya yang cukup populer Al-Ihtijaj (I/225-228), Syirkah Al-Kutubi, tahun 1414 Hijriyah-Beirut, dan Al-A’lami-Beirut, jilid I, hal. 155, mengutip riwayat dari Abu Dzar Al-Ghifari, bahwasanya ia berkata,

“Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat, Ali Alaihissalam menghimpun Al-Qur’an. Dengan membawa Al-Qur’an tersebut ia mendatangi orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar. Ia memperlihatkan kepada mereka, karena hal itulah yang dipesankan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepadanya. Begitu dibuka oleh Abu Bakar, pada halaman pertama ia mendapati beberapa aib mereka. Umar segera melompat dan berkata, ‘Wahai Ali, tariklah kembali Al-Qur’an itu karena kami tidak membutuhkannya.’ Ali segera menarik kembali lalu pergi. Kemudian muncul Zaid bin Tsabit, seorang shahabat yang ahli membaca Al-Qur’an. Umar berkata kepadaya, ‘Sesungguhnya isinya mengungkapkan aib-aib kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Menurut kami sebaiknya kamu tulis Al-Qur’an yang isinya tidak mengungkapkan aib-aib kaum Muhajirin dan kaum Anshar.’ Zaid memenuhi permintaan tersebut.”

Ketika telah diangkat sebagai khalifah, Umar meminta supaya Ali Alaihissalam menyerahkan Al-Qur’an yang ada padanya untuk diubah isinya, karena mengungkapkan aib-aib kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Umar berkata, ‘Wahai Abul Hasan, tolong kamu bawakan Al-Qur’an yang dulu pernah kamu bawa kepada Abu Abakar, supaya kami dapat mengubahnya.’ Ali Alaihissalam menjawab, “Tidak mungkin. Hal itu tidak ada alasan sama sekali. Aku pernah membawakannya kepada Abu Bakar adalah sebagai hujjah atas kalian, supaya kelak pada hari Kiamat kalian tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan), atau jangan sampai kalian mengatakan kepada Allah, ‘Engkau tidak pernah membawakannya kepada kami.’ Al-Qur’an yang ada padaku ini tidak boleh disentuh kecuali orang-orang yang suci dan para washi dari putraku.’ Umar bertanya, ‘Apakah ada waktu tertentu bagi kemunculannya29? [Kami katakan kepada orang-orang Syi’ah, “Mengapa Umar tidak mengambil mushaf tersebut secara paksa dari Ali sebagaimana Umar telah menikahi secara paksa dengan anak peremuan Ali sebagaimana yang kalian tuduhkan?”] Ali Alaihissalam menjawab, ‘Ya. Yaitu ketika Al-Qa’im dari putraku muncul. Ia yang akan membawakannya kepada manusia. Maka saat itu berlakulah sunnahnya’.”

• Guru dari mazhab Syi’ah Imamiyah, Ath-Thibrisi dalam kitab Al-Ihtijaj (I/371), Al-A’lami-Beirut, jilid I, hl. 149, juga mengatakan,

“Secara umum taqiyah tidak diperbolehkan mengungkapkan terus terang nama orang-orang yang mengubah dan yang menambahi ayat-ayatnya. Untuk jawaban masalah ini kamu cukup dengan apa yang telah kamu dengar saja, karena sesungguhnya syariat taqiyah melarang mengungkapkan lebih jauh lagi.”

• Guru dari mazhab Syi’ah Imamiyah, Ath-Thibrisi dalam kitab Al-Ihtijaj (I/377-378), Al-A’lami-Beirut, jilid I, hal. 254, juga mengatakan,

“Jika aku jelaskan kepadamu semua ayat Al-Qur’an yang dihapus, dirubah, diganti, dan lain sebagainya, akan membutuhkan waktu yang cukup lama dan ini akan mengungkapkan biografi-biografi para wali serta keserakahan para musuh, dan itu dilarang oleh syariat taqiyah.”

• Guru Syi’ah yang biasa dipanggil Al-Arif alias Al-Hajj Sulthan Muhammad Al-Janabidzi yang bergelar Sulthan Ali Syah dalam kitab Bayan As-Sa’adat fi Maqamat Al-Ibadat, hal. 19-20, jildi pertama, Muassasah Al-A’lami, Beirut pada tahun 1408 Hijriyah, mengatakan sebagai berikut,

“Ketahuilah, bahwasanya terdapat banyak riwayat dari para imam yang suci Alaihimussalam tentang adanya penambahan, pengurangan, perubahan, dan penggantian hampir terjadi keraguan pada sebagian sisi dari mereka. Menurut takwil para imam, bahwa penambahan,pengurangan, dan perubahan sesungguhnya berdasarkan pengetahuan mereka tentang Al-Qur’an, padahal pada lafazh Al-Qur’an sebenarnya tidak ada kerancuan sama sekali dan sudah sepantasnya bagi orang-orang yang benar-benar mengerti (menurut klaim mereka –edit) tidak lagi berdebat dengan orang-orang awam ….”

• Guru Syi’ah yang biasa dipanggil Al-Fadhil, Al-Arif, dan Al-Badzil Juhdahu fi Sabil At-Taklif alias Abul Hasan Al-Amili Al-Maula Muhammad Thahir bin Abdul Hamid bin Musa bin Ali bin Ma’tuq bin Abdul Hamid Al-Amili An-Nabathi Al-Fatumi dalam mukadimah Tafsir kitab Mir’at Al-Anwar wa Misykat Al-Asrar, hal. 36, Mathba’at Al-Aftab-Teheran, tahun 1374 Hijriyah, dan ia dari kantor berita Muassasah Ismailiyyan di Qumm, mengatakan sebagai berikut,

“Ketahuilah, bahwasanya kebenaran yang tidak mungkin dapat diingkari berdasarkan riwayat-riwayat yang mutawatir berikut ini dan riwayat-riwayat yang lain ialah, bahwa Al-Qur’an yang ada di hadapan kita ini, sepeninggalan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sudah mengalami perubahan-perubahan. Orang-orang yang menghimpunnya sepeninggalan beliau telah menghilangkan beberapa kalimat dan ayat yang sudah tidak sesuai lagi dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah, yakni seperti yang sudah dihimpun dan dipelihara oleh Ali Alaihissalam sehingga sampai kepada putranya Al-Hasan Alaihissalam. Begitu seterusnya sampai kepada munculnya Al-Qa’im Alaihissalam. Sekarang ini Al-Qur’an yang asli tersebut ada padanya.”

• Dalam Al-Amili Al-Fatuni, hal. 49, juga mengatakan, “Ketahuilah, bahwasanya Tsiqat Al-Islam Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini merasa yakin ada perubahan dan pengurangan pada Al-Qur’an. Soalnya ia telah mengetengahkan beberapa riwayat dalam kitabnya Al-Kafi yang ada pada bagian awal menyatakan, bahwa apa yang diriwayatkan tersebut dapat dipercaya. Tetapi untuk seterusnya ia tidak berani mengungkapkan, karena ada banyak yang cacat pada isinya. Demikian pula yang dilakukan oleh gurunya, yakni Ali bin Ibrahim Al-Qummi. Tafsirnya juga penuh dengan hal-hal seperti itu. Lebih lanjut ia mengatakan dalam kitab tafsirnya tersebut, “Salah satu ayat Al-Qur’an yang menyalahi apa yang telah diturunkan ialah surat Ali Imran ayat 110,

كُنْبُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِ جْتْ لِلنَّاسِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.”
Sesungguhnya Ash-Shadiq Alaihissalam berkata kepada orang yang membaca ayat ini, “… sebaik-baik umat yang membunuh Ali dan Al-Husain bin Ali Alaihimussalam?” Seseorang bertanya, “Bagaimana ayat ini bisa diturunkan?” Ia menjawab, “Sesungguhnya yang diturunkan ialah ayat,

كُنْبُمْ خَيْرَ أُئِمَّةٍ أُخْرِ جْتْ لِلنَّاسِ

“Kalian adalah imam-imam yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.”
Kaliankan tahu, bagaimana Allah memuji mereeka dalam ayat berikutnya, “yang menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”

Setelah menyebutkan beberapa ayat sebagai bandingannya, ia kemudian mengatakan, “Adapun bagian yang dibuang dari Al-Qur’an yang asli ialah firman Allah,

لَكِنَّ الله يَشْهَدُ بِمَاأُنْزِلَ إِلَيْكَ فِيْ عَلِيٍّ

‘Tetapi Allah mengakui Al-Qur’an yang diturunkan-Nya kepadamu tentang Ali.’
Begitulah ayat asli yang diturunkan. Jadi Allah menurunkan Al-Qur’an dengan sepengetahuan Ali, dan para malaikat sama menjadi saksinya.”

Selanjutnya sebagai bandingannya ia juga menuturkan beberapa ayat lainnya. Apa yang dikatakan oleh Al-Qummi dan Al-Kulaini ini disetujui oleh beberapa sahabat kami dari kalangan ulama ahli tafsir. Contohnya seperti Al-Iyasyi, An-Nu’mani, Farat Al-Kufi, dan yang lain. Inilah pendapat sebagian besar muhaqiq dan para ulama ahli hadits dari generasi belakangan. Dan ini juga pendapat syaihk Al-Ajal Ahmad bin Abi Thalib Ath-Thibrisi, seperti yang ia nyatakan dalam kitabnya Al-Ihtijaj. Pendapat ini juga didukung oleh Syaikh Al-Allamah Baqir yang bergelar Alim Ahli Al-Bait wa Khadim Akhbarihim Alaihimussalam dalam kitabnya Bihar Al-Anwar. Dalam kitab ini ia membicarakan masalah tersebut. Dan saya sendiri menilai keabsahan pendapat ini setelah mengamati beberapa hadits dan atsar yang bisa digunakan sebagai dasar untuk menetapkan bahwa hal itu merupakan hal-hal yang sangat dibutuhkan oleh mazhab Syi’ah, dan sekaligus merupakan kerusakan yang terbesar dalam merampas kekhilafahan.”

• Setelah mengemukakan beberapa riwayat tentang adanya perubahan dalam Al-Qur’an, Al-Allamah Al-Hujjat As-Sayid Adnan Al-Bahrani dalam kitabnya Masyariq Asy-Syumus Ad-Durriyat, hal. 126, mengatakan,

“Riwayat-riwayat seperti ini sangat banyak, sehingga tidak terhitung dan sangat mutawatir. Tidak banyak manfaat untuk mengutipnya setelah maraknya penyimpangan dan perubahan di antara kedua golongan, karena keadaan di kalangan para shahabat dan tabi’in hal itu juga diterima. Bahkan sudah disepakati oleh golongan Syi’ah yang sejati, karena keadaannya sudah menjadi kebutuhan-kebutuhan mazhab mereka. Dengan demikian riwayat-riwayat mereka menjadi lemah.”
Setelah mengetengahkan beberapa riwayat hadits yang menunjukkan atas perubahan Al-Qur’an, seorang ulama ahli hadits yang cukup terkenal Al-Allamah Yusuf Al-Bahrani dalam kitabnya Al-Durar An-Najfiyat, Muassasah Alu Al-Bait, hal. 298, mengatakan sebagai berikut,

“Sudah jelas bahwa dalam riwayat-riwayat hadits ini ada petunjuk yang jelas dan perkataan yang dasih yang menjadi pilihan kami. Kalau ada kecaman terhadap riwayat-riwayat ini30[Yakni, riwayat-riwayat tentang kekurangan dan perubahan pada Al-Qur’an.] karena begitu banyaknya dan tersiar di mana-mana, hal itu memungkinkan mengecam riwayat-riwayta pada semua syariat sebagaimana hal itu sudah jelas. Sebab, sumbernya sama. Demikian pula dengan sanad-sanadnya, para perawinya, para gurunya, dan kutipannya. Demi hidupku, sesungguhnya pendapat yang mengatakan tidak adanya peruabhan dan penggantian, hal itu tidak muncul dari baik sangka terhadap para imam yang zalim, dan bahwa mereka tidak akan mengkhianati amanat yang besar dengan munculnya pengkhianatan mereka terhadap amanat lain yang lebih membahayakan agama.”

Al-Allamah Al-Muhaqiq Al-Haj Mirza Habibullah Al-Hasyimi Al-Khau’i dalam kitabnya Minhaj Al-Bara’at fi Syarhi Nahji Al-Balaghat, Muassasah Al-Wafa’-Beirut, jilid 2, pasal pertama, hal, 214-220, juga menyebutkan beberapa bukti atas kekurangan Al-Qur’an. Berikut ini kami kemukakan beberapa dalil tersebut, seperti yang dikatakan oleh seorang ulama Syi’ah:

1. Kekurangan surat Al-Wilayah.
2. Kekurangan sura An-Nurain.
3. Kekurangan sebagian kalimat dalam beberapa ayat.

Selanjutnya ia mengatakan,

“Sesungguhnya para iman tidak dapat mengeluarkan Al-Qur’an yang benar karena khawatir terjadi perselisihan di antara manusia sehingga mereka akan kembali kepada kekufuran yang hakiki.”

Itulah sebagian dari pengakuan-pengakuan para ulama Syi’ah, bahwasanya Al-Qur’an itu kurang dan sudah diselewengkan. Karena anggapan Al-Qur’an sudah diselewengkan merupakan kebutuhan mazhab Syi’ah, maka sejak dahulu sampai sekarang para ulama mereka kemudian menulis kitab-kitab yang khusus membahas tentang keyakinan yang jahat tersebut. Setahu kami, di antara mereka yang terakhir menulis ialah guru Syi’ah yang terkenal alim, Mirza Husain bin Al-Mirza Muhammad Taqi bin Al-Mirza Ali bin Muhammad An-Nuri Ath-Thibrisi. Ia menulis sebuah kitab dengan judul Fashlu Al-Khithab fi Itsbat Tahrif Kitab Rabbi Al-Arbab. Dalam kitab ini ia mengakui terjadi penyelewengan dan perubahan pada Al-Qur’an, berdasarkan keterangan dua ribu riwayat menurut prasangkanya.

Pada bagian mukadimah kitab tersebut ia mengatakan,

“Kitab ini sangat bagus dan barang yang berharga, saya tulis untuk menyatakan adanya penyimpangan Al-Qur’an, dan beberapa aib orang-orang yang zalim. Saya namakan kitab ini Fashlu Al-Khithab fi Itsbat Tahrif Kitab Rabbi Al-Arbab.”

Ulama sesat dan menyesatkan ini mengatakan tentang Al-Qur’an Al-Karim dengan mengemukakan beberapa bukti atas penyimpangan, pada halaman 211. Katanya,

“Kefasihan Al-Qur’an dalam beberapa poin yang baligh dan sampai pada batas i’jaz, dan saling terkait satu sama lain.”

Sepengetahuan kami, tidak ada satu pun ulama Syi’ah yang mengingkari kitab Fashlu Al-Khitab ini.
An-Nuri Ath-Thibrisi adalah ulama yang memiliki kedudukan yang mulia di kalangan Syi’ah. Biografinya disusun oleh Ayatullah Muhsin Al-Amin dalam kitab A’yan Asy-Syi’ah. Ia juga dipuji-puji oleh guru Syi’ah, Abbas Al-Qummi dalam kitab Al-Kuna wa Al-Alqab, dan oleh Agha Bazrak Ath-Thahrani dalam kitabnya yang berjudul Mustadrak Al-Wasa’il wa Mustanbath Al-Masa’il, termasuk kitab-kitab yang dijadikan pedoman oleh Syi’ah, seperti yang dikatakan oleh Al-Hurru Al-Amili dalam Wasa’il Asy-Syi’ah. Bahkan di kalangan Syi’ah, An-Nuri Ath-Thibrisi diberi julukan Khatimah Al-Muhadditsin atau pamungkas para ulama ahli hadits.

Secara global, orang-orang Syi’ah meyakini adanya perubahan dalam Al-Qur’an. Mereka memberikan apresiasi yang positif terhadap para perawi dan para ulama ahli hadits mereka yang berani mempersoalkannya. Jika mereka menyangkal adanya perubahan di depan Ahli Sunnah, tidak lain karena tipu muslihat dan tuntutan taqiyah yang memang memperbolehkan mereka berpura-pura, berdusta, dan bersikap munafik di depan kaum Ahli Sunnah. Kalau tidak, kenapa An-Nuri Ath-Thibrisi, Al-Qummi, Al-Kulaini, dan ulama-ulama lain yang meyakini adanya perubahan Al-Qur’an, begitu dihormati dan dipuji-puji oleh Syi’ah?

Contoh paling nyata ditulis oleh ulama intelektual Syi’ah yang menjadi rujukan di Najf, yakni Abul Qasim Al-Khau’i dalam kitabnya Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an, hal. 278, cetakan keempat tahun 1389 Hijriyah. Ia mengatakan,

“Sesungguhnya pembicaraan tentang adanya perubahan pada Al-Qur’an adalah khurafat dan fiktif belaka. Yang mengatakan hal itu hanya orang yang kurang normal akalnya. Tetapi bagi orang pintar, jujur, dan cermat ia pasti yakin bahwa cerita itu keliru dan hanya khayalan saja.”

Kami jadi ingin bertanya, apakah Al-Kulaini, Al-Qummi, Ath-Thibrisi, Al-Majelisi, An-Nuri, Al-Fatuni, Al-Mufid, dan yang lain adalah termasuk orang-orang yang kurang normal akalnya? Siapa yang menuduh mereka seperti itu dari ulama mereka?

Apakah kita percaya pada Al-Khau’i, atau kita menghukumi ucapannya ini berdasarkan taqiyah yang memperbolehkan mereka untuk berdusta terhadap musuh-musuh mereka?

Berikut masalah-masalah sangat penting yang sengaja kami kemukakan di hadapan para pembaca yang budiman terkait dengan sikap Al-Khau’i terhadap Al-Qur’an. Dan tentang penilaiannya, kami serahkan kepada para pembaca.
Pertama, Al-Khau’i percaya kepada Ali bin Ibrahim Al-Qummi yang mengecam Al-Qur’an. Lihat, Mu’jam Rijal Al-Hadits, oleh Al-Khau’i.

Kedua, sesungguhnya Abul Qasim Al-Khau’i ini adalah termasuk orang yang memberikan fatwa untuk mendoakan celaka dua berhala Quraisy. Dalam doa ini ada dua poin penting yang menuduh Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu Anhuma telah mengubah Al-Qur’an:

1. “Ya Allah, laknatilah dua berhala Quraisy, yaitu dua orang yang telah menyalahi perintah-Mu dan mengubah kitab-Mu.”

2. “Ya Allah, laknatilah mereka berdua dengan setiap ayat yang telah mereka ubah….”

Ketiga, sesungguhnya orang ini dengan sempurna merasa puas bahwa Imam Ali Radhiyallahu Anhu memiliki mushaf yang berbeda dengan Al-Qur’an yang menjadi pedoman seluruh kaum Muslimin dari penjuru timur sampai ke barat. Yang mana ia berkata dalam tafsirnya Al-Bayan, hal. 243, sebagai berikut,

“Sesungguhnya keberadaan mushaf milik Amirul Mukminin Ali Alaihissalam yang berbeda dengan Al-Qur’an yang ada dalam hal urut-urutan surat, jelas tidak perlu diragukan lagi. Para ulama terkemuka juga berdamai menyatakan keberadaan mushaf tersebut. Jadi, kita tidak perlu untuk membuktikannya.”

Keempat, bahwasanya orang ini yang berpendapat bahwa ada nasakh bacaan membuktikan terjadinya perubahan pada Al-Qur’an. Dikarenakan nasakh bacaan ditetapkan dalam Al-Qur’an dan hadits, berarti memang ada perubahan dalam Al-Qur’an. Itu pendapat Al-Khau’i. Terserah Anda menilainya.

Dalam kitab yang sama hal. 219, Al-Khau’i mengatakan,

“Sesungguhnya pendapat yang menyatakan adanya nasakh bacaan, secara otomatis juga mengakui adanya perubahan. Akibatnya, di kalangan para ulama Ahli Sunnah sendiri beredar pendapat yang menyatakan telah terjadi perubahan pada Al-Qur’an.”

Dalam kitab yang sama hal. 224, Al-Khau’i mengatakan,

“Bukan rahasia lagi bahwa pendapat yang mengatakan adanya nasakh bacaan, dengan sendirinya merupakan pendapat yang mengakui adanya perubahan.”
Kelima, dalam kitab yang sama hal. 219, Al-Khau’i juga mengatakan,

“Dan telah dinisbatkan oleh beberapa kumpulan pendapat tentang tidak adanya perubahan (yang dinisbatkan) kepada beberapa ulama besar. Di antara mereka ialah sang maha guru, Al-Mufid…”
Kami ingin mengatakan kepada pembaca, Anda sudah tahu bahwa menurut Al-Mufid, terdapat banyak riwayat hadits yang menerangkan terjadinya perubahan pada Al-Qur’an. Tetapi Al-Khau’i sengaja menyesatkan dan mengaburkannya dengan menggunakan istilah dan telah dinisbatkan. Ia sengaja tidak menunjuk pada pendapat shahih yang dikemukakan oleh Al-Mufid.

Keenam, sesungguhnya Al-Khau’i menguatkan hadits-hadits yang berlaku di kalangan Syi’ah itu tentang perubahan dalam Al-Qur’an. Ia mengatakan dalam kitabnya Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an, hal. 245-246,

“Sesungguh banyak riwayat –meskipun sanadnya dha’if- yang sebagian besar dikutip dari kitab-kitab Ahmad bin Muhmmad As-Sayyari yang telah disepakati oleh para ulama ahli hadits bahwa pendapatnya itu keliru, karena ia mengatakan adanya saling nasakh. Diriwayatkan dari Ali bin Ahmad Al-Kufi, sebagaimana yang dikemukakan oleh para ulama ahli hadits, bahwa ia adalah seorang pendusta, dan pemahamannya rusak. Tetapi banyaknya riwayat menyebabkan kesimpulan dengan timbulnya sebagian riwayat tersebut dari orang-orang yang ma’shum Alaihimussalam dan tidak kridibel. Di sana ada yang diriwayatkan dengan sanad yang dipertimbangkan, sehingga kami tidak perlu membicarakan tentang sanad setiap riwayat secara khusus.”

Ketujuh, Abul Qasim Al-Khau’i dalam Mu’jam Rijal Al-Hadits, hal. 245, jilid XIV, terbitan Beirut tahun 1403 Hijriyah, meriwayatkan dari Barid Al-Ajili dari Abu Abdullah Alaihissalam, ia berkata,

“Di dalam Al-Qur’an Allah menurunkan tujuh nama mereka. Tetapi kemudian orang-orang Quraisy menghapus enam nama, dan hanya membiarkan satu nama Abu Lahab. Aku bertanya kepadanya tentang yang dimaksud dengan firman Allah Azza wa Jalla surat Asy-Syu’ara’ ayat 221-222 berikut ini:

“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syetan-syetan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa.” Ia menjawab, “Mereka ada tujuh orang, yakni: Al-Mughirah bin Sa’ad, Bannan, Sha’id An-Nahdi, Al-Harits Asy-Syami, Abdullah bin Al-Harits, Hamzah bin Ammar Az-Zubairi, dan Abu Al-Khathab.”

Selain riwayat tadi, Al-Khau’i juga mengutip banyak riwayat lain. Dan ia mengomentarinya dalam kitab yang sama, jilid XIV, hal. 259,

“Yang bisa disimpulkan dari riwayat-riwayat ini ialah bahwasanya Muhammad bin Abu Zainab adalah orang yang sesat, menyesatkan, dan rusak akidahnya. Kendatipun sanad sebagian riwayat ini lemah, tetapi yang shahih diantaranya cukup dijadikan sebagai dasar bahwa secara global tidak jauh dari mutawatir.”

Sebagaimana telah jelas bahwa Al-Khau’i memang tidak mau menjelaskan tingkatan riwayat tersebut dari segih shahih dan dha’ifnya. Tetapi dalam kitabnya tersebut jilid IX, hal. 47, ia menjadikan dalil riwayat buruk yang mengecam Al-Qur’an tersebut dengan mengatakan,

“Dalam biografi Muhammad bin Abu Zainab disebutkan tentang tafsir firman Allah Ta’ala, ‘Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syetan-syetan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa.’ Bahwasanya Sha’id An-Nahdi adalah salah seorang dari mereka.”
Seperti yang kita ketahui bersama, apa yang dijadikan dasar oleh Al-Khau’i di sini adalah bagian dari riwayat buruk tersebut. Dan seperti biasanya ia tidak menjelaskan tentang shahih dan dha’ifnya, padahal ada beberapa alasan yang cukup banyak yang dapat menyelamatkan dan membela Kitab Allah Azza wa Jalla. Tetapi, ia tidak mau melakukannya.

Kedelapan, sesungguhnya Al-Khau’i tidak merasa malu untuk melakukan kebohongan secara terang-terangan dalam kitab yang sama hal. 219. Menafsiri ayat tadi ia mengatakan,

“Sesungguhnya yang populer di kalangan ulama-ulama Syi’ah dan para muhaqiq mereka, bahkan yang telah disepakati di antara mereka semua ialah pendapat tidak adanya perubahan pada Al-Qur’an.”

Tetapi kemudian ia membantahnya sendiri dengan mengatakan,

“Selanjutnya beberapa ulama ahli hadits Syi’ah dan beberapa ulama Ahli Sunnah berpendapat, ada perubahan pada Al-Qur’an.”

Perhatikan, begitu berani ia mengatakan “…dan beberapa ulama Ahli Sunnah.”

Itulah Al-Khau’i berikut statemen-statemen dan pikiran-pikirannya. Betapapun kita harus ingat bahwa Al-Khau’i memperbolehkan sumpah bohong demi mengamalkan taqiyah. Dalam kitabnya At-Tanqih Syarah Al-Urwat Al-Wutsqa (IV/278-307), ia mengutip dan membenarkan sebuah riwayat dari Ja’far Ash-Shadiq, bahwasanya ia mengatakan, “Apapun yang kalian perbuat dan sumpah yang kalian ucapkan demi melakukan taqiyah, kalian masih tetap memiliki keluasan (untuk dibenarkan).”

Waspadalah terhadap syetan-syetan pembuat makar tersebut. Mereka adalah orang-orang yang memperbolehkan sumpah yang keji dan jahat untuk menipu dan membohongi kaum Muslimin.

Satu hal sangat penting dan bahaya sekali yang harus Anda perhatikan, wahai saudara kami sesama Muslim, ialah bahwa Al-Khau’i tidak menganggap kafir orang-orang yang mengatakan adanya perubahan pada Al-Qur’an. Kenapa? Karena mazhab Syi’ah dalam segala sesuatu yang menyangkut prinsip dan cabang adalah berdasarkan riwayat orang-orang yang mengatakan adanya perubahan pada Al-Qur’an, kendatipun riwayat dan ucapan-ucapan mereka itu disanggah dan mereka mengkafirkan niscaya akan roboh mazhab dan akan sirna berbarengan dengan hempasan angin.

Saudara kami sesama Muslim, jangan heran atas bacaan orang-orang Syi’ah terhadap Al-Qur’an yang ada sekarang ini yang menurut persangkaan mereka telah diubah. Sebab menurut ucapan mereka, itulah yang diperintahkan kepada mereka.

• Ni’matullah Al-Jazairi dalam kitab Al-Anwar An-Nu’maniyah, jilid II, hal. 363, Mansyurat Al-A’lami-Beirut, menyebutkan alasan kenapa orang-orang Syi’ah tetap mau membaca Al-Qur’an yang ada sekarang ini, meskipun mereka mengatakan ada perubahan padanya. Ia mengatakan,

“Disebutkan dalam beberapa riwayat bahwasanya para imam Alaihimussalam menyuruh orang-orang Syi’ah untuk membaca Al-Qur’an yang ada ini dalam shalat maupun lainnya, serta mengamalkan hukum-hukumnya sampai munculnya Al-Qa’im sang penguasa zaman yang akan merenggut Al-Qur’an ini dari tangan manusia untuk dibawa ke langit. Selanjutnya ia akan mengeluarkan Al-Qur’an yang ditulis oleh Amirul Mukminin Alaihissalam kemudian dibaca dan diamalkan hukum-hukumnya.”

• Muhammad bin An-Nu’man yang bergelar Al-Mufid dalam kitabnya Al-Masa’il As-Sarawiyat, hal. 78-81, dan juga dalam kitab Aara’ Haula Al-Qur’an, oleh Al-Ashfahani, hal. 135, mengatakan,

“Terdapat riwayat shahih dari para imam kami Alaihimussalam bahwasanya mereka menyuruh untuk membaca Al-Qur’an ini, tanpa boleh berbuat kelewat batas dengan menambahi atau menguranginya, sampai muncul Al-Qa’im Alaihissalam yang akan membacakan kepada manusia apa yang telah diturunkan oleh Allah Ta’ala, dan yang telah dihimpun oleh Amirul Mukminin Alaihissalam. Kalau kita dilarang membaca huruf-huruf tambahan yang ada pada mushaf seperti yang diterangkan dalam beberapa riwayat, karena riwayat-riwayat tersebut tidak mutawatir. Tetapi hanya sekedar khabar. Kalau hanya satu orang saja, sangat boleh jadi ia salah dalam mengutip. Alasan lain, jika seseorang membaca sesuatu yang menyalahi apa yang ada di antara dua sampul ini, berarti ia telah tertipu dan menjerumuskan diri sendiri ke dalam kebinasaan. Oleh karena itulah, kita dilarang membaca Al-Qur’an yang isinya berbeda dengan apa yang ada di antara kedua sampul ini.”

Pengakuan orang-orang Syi’ah bahwa yang dimaksud dengan perubahan adalah perubahan tafsir. Ucapan ini jelas bathil. Bukti yang bisa kami ajukan atas kebathilan tersebut ialah:

• Pengakuan mereka bahwa Al-Qur’an yang benar ada pada Al-Mahdi yang ditunggu-tunggu. Ini artinya bahwa Al-Qur’an yang ada sekarang ini tidak benar. Sebab kalau Al-Qur’an yang ada pada Al-Mahdi sama seperti Al-Qur’an yang ada sekarang ini, lalu apa artinya pengakuan orang-orang Syi’ah tersebut?

• Riwayat yang ada dalam Al-Kafi, jilid II, hal. 597, kitab Tentang Keutamaan Al-Qur’an. Di sana disebutkan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam ada tujuh belas ribu ayat. Tetapi yang ada sekarang ini hanya tingal kira-kira enam ribu dua ratus ayat. Ini artinya bahwa dua pertiga ayat Al-Qur’an telah berkurang. Hal ini dikemukakan oleh beberapa ulama ahli hadits Syi’ah. Antara lain oleh Al-Allamah Al-Majelisi dalam kitabnya Mir’at Al-Uqul, jilid XII, hal. 525. Dan juga oleh Al-Allamah Muhammad Shalih Al-Mazandarani dalam kitabnya Syarah Jami’ Al-Kafi, jilid XI, hal. 76 yang mengutip dari dasar-dasar mazhab Syi’ah.

• Beberapa ulama terkemuka Syi’ah mengakui bahwa perubahan pada Al-Qur’an bukan terletak pada tafsirnya saja, melainkan juga pada lafazh-lafazhnya. Contohnya seperti yang dikemukakan oleh Al-Majelisi dalam Mir’at Al-Uqul, jilid XII, hal. 525; dan oleh Habibullah Al-Hasyimi dalam kitabnya Al-Bara’at fi Syarhi Nahji Al-Balaghat, jilid II, pasal pertama, hal. 216.

• Pengakuan para ulama Syi’ah tentang berkurangnya secara penuh beberapa surat Al-Qur’an. Contohnya seperti surat Al-Wilayah dan surat An-Nurain, sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Allamah Al-Majelisi dalam kitabnya Tadzkirat Al-Aimmah, hal. 18-21; oleh Al-Allamah Habibullah Al-Hasyimi dalam kitabnya Al-Bara’at fi Syarhi Nahji Al-Balaghat, jilid II, hal. 217; dan oleh An-Nuri Ath-Thibrisi dalam kitabnya Fashlu Al-Khithab, hal. 180.

• Surat An-Nurain:

يَاأَيُّهَاالَّذِ يْنَ آمَنُوْا بِالنُّوْرَيْنِ أَنْزِلْنَا هُمَا يَتْلُوَ انِ عَلَيْكُمْ آيايِيْ وَيُحَذِّ رَا نِكُم عَذَا بَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ نُوْرَانِ بَعْضُهُمَا مِنْ بَعْضٍ وَأَنَا السَّمْيِعُ الْعَبِيْمُ إِنَّ الَّذِيْنَ يُوْفُوْنَ بِعَدِ الله وَرَسُوْلِهِ فِي آياتٍ لَهُمْ جَنَّاتُ النَّعِيْمِ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ بَعْدِ مَاآمَنُوْا بِنَقْضِهُمْ مِيْثَاقَهُمْ وَمَاعَاهَدَهُمُ الرَّ سُوْلُ عَلَيْهِ يَقْذِ فُوْنَ فِي الْجَحِيْمِ ظَلَمُوْا أَنْفُسَهُمْ وَعَصَوْاالوَصِيَّ الرَّ سُوْلِ أُو لَئِكَ يُسْقَوْنَ مِنْ حَمِيْمٍ إِنَّ الله الَّذِيْ نَوَّرَ السَّمَوَاتِ وَاْ لأَ رْضَ بِمَاشَاءَ وَاصْطَفَى مِنَ الْمَلاَ ئِكَةِ وَ جَعَلَ مِنَ الْمُؤْ مِنِيْنَ أُولئِكَ فِي خَبْقِهِ يَفْعَلُ الله مَا يَشَاءَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّ حْمَنُ الرَّحْيِمُ قَدْ مَكَرَ الَّذيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ بِرُسُلِهِمْ فَأَخَذْتُهُمْ بِمَكْرِ هِمْ إنَّ أَخْذِيْ شَدِيْدٌ أَلِيْمٌ إِنَّ الله قَدْ أَهَلَكَ عَا دًا وَثَمُوْدًابِمَا كَسَبُوْا وَجَعَلَهُمْ تُذَكِّرَةً فَلاَ تَتَّقُوْنَ وَفِرْعَوْنَ بِمَا طَغَى عَلَى مُوْسَى وَأَخِيْهِ هَارُوْنَ أَغْرَ قْتُهُ وَمَنْ تَبِعَهَ أَجْمَعِيْنَ لِيَكُوْنَ لَكُمْ آيةٌ وَإِنَّ أَكْثَرَ كُمْ فَاسِقُوْنَ إنَّ الله يَجْمَعُهُمْ فِي يَوْمِ الْحَشْرِ فَلاَ يَسْتَطِيْعُوْنَ الْجَوَا بَ حِيْنَ يُسْأَلُوْ نَ إِنَّ الْجَحِيْمَ مَأْ وَا هُمْ وَأَنَّ الله عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ يَاأَيُّهَاالرَّ سُوْلُ بَلِغْ إِنْذَايْ فَسَوْ فَ يَعْلَمُوْنَ قَدْخَسِرَ الَّذِيْنٌ كَانُوْاعَنْ آياتِيْ وَحِكَمِيْ مُعْرِضُوْنَ مَثَلُ الَّذِيْنَ يُوْفُوْنُ بِعَهْدِكَ أَنِّيْ جَزَ يْتُهُمُ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ إِنَّ اللهَ لذُوْمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍعَظِيْمٍ وَإِنَّ عَليًّا مِنَ الْمُتَّقِيْنَ وَإِنَّا لَنُوَ فِّيْهِ حَقَّهُ يَوْ مَ الدِّيْنِ مَا نَحْنُ عَنْ ظُلْمِهِ بِغَا فِلِيْنَ وَكَرَ مْنَاهُ عَلَى أَهْلِكَ أَجْمَعِيْنَ فَإِنَّهُ وَذُرِّيَّتَهُ لَصَابِرَ وُنْ وَإِ نَّ عَدُوَّهُمْ إِمَا مُ الْمُجْرِمِيْنَ قُلْ لِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا بَعْدَ مَا آمَنَوُا طَلَبْتُمْ زِيْنَةَ الْحَيَاةِ الدُّ نْيَا وَا سْتَعْجَلْتُمْ بِهَا وَنَسِيْتُمْ مَا وَعَدَكُمُ الله وَرَسُوْ لُهُ وَنَقِّضْتُمُ الْعُهُوْدَ مِنْ بَعْدِ تَوْ كِيْدِ هَا وَقَدْ ضَرَ بْنَا ضَرَبْنَا لَكُمُ اْلأَمْثَا لَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْ نَ يَا أَيُّهَا الرَّسُوْلُ قَدْأَنْزَ لْنَا إِلَيْكَ آياتٍ فِيْهَا مَنْ يَتَوَ فَّاهُ مُؤْ مِنًا وَمَنْ يَتَوَ لَّيْهِ مِنْ بَعْدِكَ يَظْهَرُوْنَ فَأَعْرِضْ عَفْهُمْ إِنَّهُمْ مُعْرِ ضُوْنَ إِنَّالَهُمْ مُحْضَرُوْنَ فِي يَوْمٍ لاَيُغْنِيْ عَنْهُمْ شَيْئُ وَلاَ هُمْ يُرْ حَمُوْنَ إنَّ لَهُمْ فِي جَهَنَّمَ مَقَا مًا عَنْهُ لاَ يَعْلُوْنَ فَسَبِّحْ بِل سْمِ رَبِّك وَ كُنْ مِنَ السَّا جِدِيْنَ وَلَقَدْ أَرْ سَلْنَا مُوْ سَى وَهَا رُوْنَ بِمَا اسْتَخْلَفَ فَبَغَوْا هَا روْ نَ فَصَبْرٌ جَمِيْلٌ فَجَعَلْنَا مِنْهُمُ الْقِرَ دَةَ وَالْخَنَا زِيْرَ وَ لَعَنَّا هُمْ إِلَّى يَوْمٍ يُبْعَثُوْنَ فَاصْبِرْ سَوْ فَ يُبْصِرُ وْنَ وَلَقَدْ آتيْنَا لَكَ الْحُكَّمَ كَا لَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَ مِنَ الْمُرْ سَلِيْنَ وَ جَعَلْنَا لَكَ كِنْهُمْ وَصِيًّا لَعَلَّمْ يَرْ جِعُوْ نَ. وَمَنْ يَتَوِ لَّى عَنْ أَمْرِ يْ فَإِ نِّيْ مَرْ جِعُهُ فَلْيَمَتَّعُوْا بِنُفْرِ هِمْ قَلِيْىً فَىَ تَسْأَلْ عَنِ النَّا كِثِيْنَ يَاأَيُّهَا الرَّ سُوْلُ قَدْ جَعَلْنَا لَكَ فِيْ أَغْنَاقِ الَّذِيْنَ آمَنُوْا عَهْدًا فَخُذْهُ وَكُنْ مِنَ الشَّا كِرِ يْنَ إِنَّ عَلِيًّا قَا نِتًا بِا للَّيْلِ سَا جِدًا يَحْذَرُ اْلآخِرَةَ وَيَرْ جُوْثَوَابَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِ يْنَ ظَلَمُوْا وَهُمْ بِعَذَا بِيْ يَعَلَمُوْنَ سَنَجْعَلُ اْلأَ غْلاَل فِيْ أَعْنَا قِهِمْ وَهُمْ عَلَى أَعْمَالِهِمْ يَنْدِ مَوْنَ إِ نَّا بَشَّرْنَاك بِذُ رِّيَّتِهِ الصَّالِحِيْنَ و إنَّهُمْ لأَ مَرَ بَا لاَ يَخْلِفُوْ نَ فَغَلَيْهِمْ مِنِّيْ صَلَوَا تٌ وَرَحْمَةٌ أَحْيَا ءً وَأَ ْوَا تًا يَوْمَ يُبْغَثُوْ نَ وَ عَلَى الَّذِيْنَ يَبْغُوْ نَ عَلَيْهِمْ مِنْ بَعْدِك غَضَبِيْ إِنَّهُمْ قَوْ مُ سُوْءٍ خَا سِرِيْنَ وَعَلَى الَّذِيْنَ سَلَكُوْا مَسْلَكَهُمْ مِنِّيْ رحْمَةٌ وَهُمْ فِي الْغُرُ فَاتِ آمِنُوْ نَ وَ الْحَمْدُ لِلهِ رَ بِّ الْعَالَمِيْنَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada An-Nurain yang telah Kami turunkan. Mereka berdualah yang akan membacakan kepada kalian ayat-ayat-Ku, dan yang akan memperingatkan kalian dari azab pada hari yang sangat besar. Dua cahaya itu sebagian dari sebagian yang lain. Dan aku Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang memenuhi janji Allah dan Rasul-Nya, pada beberapa tanda bagi mereka surga yang penuh kenikmatan. Dan orang-orang yang kafir setelah beriman, maka disebabkan mereka mengingkari janji mereka dan apa yang telah dijanjikan oleh Rasul kepada mereka, mereka akan dilemparkan ke dalam neraka Jahim. Mereka telah menganiaya diri sendiri, dan mendurhakai Al-Washi Al-Rasul. Mereka akan diberi minum dari air yang sangat panas. Sesungguhnya Allah-lah yang menerangi langit dan bumi sekehendak-Nya, yang memilih para malaikat, dan yang menjadikan orang-orang yang beriman. Mereka berada di antara makhluk ciptaan-Nya. Allah berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya. Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Orang-orang sebelum mereka yang berbuat makar terhadap para rasul mereka, Aku akan menyiksa mereka disebabkan oleh makar mereka. Sesungguhnya siksa-Ku sangat keras dan pedih. Sesungguhnya Allah telah membinasakan kaum ‘Ad dan kaum Tsamud disebabkan apa yang mereka lakukan. Dan Allah menjadikan mereka sebagai peringatan bagi kaian. Oleh karena itu, janganlah kalian takut. Dan Fir’aun atas kezalimannya terhadap Musa dan saudaranya Harun. Aku telah menenggelamkan Fir’aun dan semua orang yang mengikutinya, supaya hal itu menjadi tanda peringatan bagi kalian. Sesungguhnya kebanyakan kalian adalah orang-orang yang fasik. Pada hari kebangkitan nanti sesungguhnya Allah akan mengumpulkan mereka, lalu mereka tidak kuasa menjawab ketika ditanya. Sesungguhnya neraka Jahim adalah tempat tinggal mereka, dan bahwasanya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Wahai Rasul, sampaikan peringatan-Ku, niscaya mereka akan mengetahui. Sungguh merugi orang-orang yang berpaling dari ayat-Ku, dan keputusan-Ku, perumpaan orang-orang yang memenuhi janji-Mu, maka Aku akan memberi balasan kepada mereka surga yang pernah nikmat. Sesungguhnya Allah memilih ampunan dan pahala yang besar, sesungguhnya Ali termasuk orang-orang yang bertakwa, dan sesungguhnya Kami akan mencukupi haknya pada hari Kiamat nanti. Kami tidak akan lalai atas kezaliman yang diperlukan kepadanya.kami telah memuliakannya atas seluruh keluargamu. Sesungguhnya ia dan anak cucunya adalah orang-orang yang sabar, dan yang memusuhi mereka adalah pemimpin orang-orang yang berdosa. Katakanlah kepada orang-orang kafir setelah beriman, ‘Kalian buru-buru mencari perhiasan dunia, dan melupakan apa yang telah dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya kepada kalian. Kalian telah merusak janji yang telah dikukuhkan. Sungguh Kami telah membuat perumpamaan kepada kalian supaya kalian mendapatkan petunjuk.’ Wahai Rasul, sesungguhny Kami telah menurunkan keapdamu ayat-ayat yang jelas. Di dalamya ada orang yang dimatikan oleh Allah dalam keadaan Mukmin. Barangsiapa yang berkuasa sepeninggalanmu berjaya, maka berpalinglah dari mereka. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpaling. Sesungguhnya mereka akan dihadirkan pada hari ketika mereka sangat membutuhkan pertolongan dan tidak ada yang mengasihi mereka. Sesungguhnya bagi mereka di Jahannam ada tempat yang pasti. Oleh karena itu bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu, dan jadilah kamu teramsuk orang-orang yang bersujud. Sungguh Kami telah mengutus Musa dan Harun untuk menyampaikan risalah. Tetapi mereka sama menzalimi Harun yang sangat sabar. Lalu di antara mereka Kami jadikan kera dan babi. Kami laknati mereka sampai pada hari mereka dibangkitkan kembali. Bersabarlah, niscaya mereka akan melihat. Sesungguhnya Kami telah memberimu hikmah, sebagaimana para rasul sebelummu, dan Kami juga telah menjadikan untukmu Washi di antara mereka, supaya mereka mau kembali. Barangsiapa yang berpaling dari perintah-Ku, maka sesungguhnya Aku adalah tempat kembalinya. Biarkan mereka menikmati kekufuran mereka sebentar, dan janganlah kamu bertanya tentang orang-orang yang melanggar sumpah. Wahai Rasul, sesungguhnya Kami telah menjadikan untukmu janji pada leher orang-orangyang beriman. Maka ambillah janji itu, dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur. Sesungguhny Ali adalah orang yang tekun beribadah pada malam hari seraya bersujud karena takut akhirat dan mengharapkan pahala Tuhannya. Katakanlah, apakah sama orang-orang yang berbuat zalim kepada Tuhan mereka, sedangkan mereka sudah mengetahui azab-Ku. Kami akan memasang belenggu-belenggu pada leher mereka, dan mereka akan menyesali perbuatan-perbuatan mereka. Sesungguhnya kami memberikan khabar gembira kepadamu dengan keturunannya yang shalih, dan sesungguhnya mereka tidak menyalahi perintah Kami. Maka bagi mereka yang masih hidup maupun yang sudah mati ada shalawat dan rahmat dari-Ku ada hari mereka dibangkitkan. Bagi orang-orang yang menzalimi mereka sepeninggalanmu, mereka akan terkena murka-Ku. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat dan merugi. Dan bagi orang-orang yang menempuh jejak mereka, ada rahmat dari-Ku. Mereka merasa aman tinggal di kamar-kamar surga. Segala puji bagi Allah Tuhan seru semesta alam.”

• Lagi pula surat ini sudah dibuang seperti yang dituturkan oleh Al-Allamah Al-Muhaqiq Habibullah Al-Hasyimi dalam kitabnya Minhaj Al-Bara’at fi Syarhi inhaj Al-Balaghat, jilid II, hal. 217; dan oleh Al-Allamah Al-majelisi dalam kitabnya Tadzkirat Al-Aimmah, hal. 19-20, dengan bahasa Persia –Mansyurat Maulana- Iran.

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِالنَّبِيِّ وَ الْوَلِيِّ اللَّذَيْنِ بَعَثْنَا هُمَا يَهْدِيَا نِكُمِ إِلَى صِرَا طٍ مُسْتَقِيْمٍ نَبِيٌّ وَ وَلِيٌّ بَعْضُهَمَا مِنْ بَعْضِ, وَأَنَا الْعَلِيْمُ الْخَبِيْرُ, إِنَّ الَّذِ يْنَ يُوْ فُوْ نَ بِعَهْدِ الله لَهُمْ جَنَّاتُ النَّعِيْمِ, فَا لَّذِيْنَ إِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آياتُنَا كَانُوْا بِآياتِنَا مُكَذِّ بِيْنَ إنَّ لَهُمْ فِيْ جَهَنَّمَ مَقَامٌ عَظِيْمٌ, إِذَا نُوْدِيَ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَا مَةِ أَيْنَ الظَّا لِمُوْ نَ الْمُكَذِّبْوُنَ لِلْمُرْ سَلِيْنَ, مَا خَلَفَهُمْ الْمُرْ سَبِيْنَ إِ لاَّ بِالْحَقِّ, وَمَاكَانَ الله لِيُظْهِرَ هُمْ إِلَى أَجَلٍّ قَرِ يْبٍ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَعَلِيٌّ مِنَ الشَّا هِدِ يْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman kepada Nabi dan Al-Wali yang telah Kami utus untuk menunjukkan kalain kepada jalan yang lurus. Nabi dan wali itu sebagian dari mereka berasal dari sebagian yang lain. Aku Maha Mengetahui lagi Maha Berpengalaman. Sesungguhnya orang-orang yang memenuhi janji Allah, bagi mereka surga yang penih kenikmatan. Orang-orang yang apabil dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, tetapi mereka malah mendustakannya, maka bagi mereka ada tempat yang sangat besar di Jahannam. Apabila pada hari Kiamat kelak diserukan kepada mereka, ‘Mana orang-orang yang zalim dan yang mendustakan para rasul’, maka tidaklah di belakang mereka para rasul kecuali kebenaran. Allah tidak akan memeperlihatkan mereka sampai pada waktu yang dekat.bertasbilah dengan memuji tuhanmu, dan Ali adalah termasuk mereka yang menjadi saksi.”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.