Hukum Syar’i Tentang Anaka Perempuan Syiah yang Dihalangi Oleh Pihak yang Berwenang untuk Melangsung Akad Nikah

Hukum Syar’i Tentang Anaka Perempuan Syiah yang Dihalangi Oleh Pihak yang Berwenang untuk Melangsung Akad Nikah

Dari Abdul Aziz bin Abdulllah bin Baz kepada saudari F.H.A – semoga Allah memberikan taufiq kepadanya untuk meraih ridha-Nya, memudahkan urusannya, dan memperbaiki urusannya, amien.

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh, wa ba’d:

Surat anda telah sampai kepada saya, yang berisi pernyataan bahwa anda adalah gadis berusia 23 tahun, bahwa anda bermadzhab Syiah pengikut Dawud Buharawan, toko masyarakat Syiah yang tinggal di Kenya, dan bahwa ia melarang pihak berwenang di kota Mombasa untuk mengabulkan akad nikah anda, lalu anda ingin mendapat penjelasan hukum syar’I tentang ini.

Jawab:

Tidak diragukan bahwa tugas semua pihak yang berwenang di seluruh lapisan masyarakat yang berafiliasi kepada islam adalah berkomitmen terhadap hukum Islam dalam semua hal-hal dan waspada terhadap apa yang menyelisihinya.

Telah diketahui dari syariat Islam bahwa para wali wajib menikahkan para wanita yang menjadi tanggung jawab mereka bila ada pemuda sekufu (sepadan) yang melamarnya. Ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ [٢٤:٣٢]

 Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. [An-Nur [24] : 32].

 Selain itu, ada riwayat dari Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda:

“Bila ada orang yang kalian ridhai din (agama) dan akhlak nya databg nekanar jeoada jakuab, maka nikahkanlah. Jika kalian tidak melakukannya, aka nada fitnah di bumi dan kerusakan yang luas”. (HR. Tirmidzi)

Berdasarkan hal itu, bila salah seorang wali anda yang paling dekat dengan anda menikahkan anda dengan seorang pemuda, maka toko masyarakat Buhrah tidak bisa menghalangi anda, pernikahan tersebut sah jika syarat-syaratnya terpenuhi. Pernikahan tersebut seharusnya melalui pengadilan agama yang legal di Mombasa agara tokoh masyarakat buhrah tidak merasa keberatan dengan pernikahan tersebut.

Jika pernikahan telah dilakukan seperti itu, anak-anak anda kelak menjad anak-anak yang sah. Masyarakat Buhra maupun selain mereka tidak berhak menolak hal itu.

Apabila kerabat anda tidak mau menikahkan anda dengan pemuda yang sepadan demi kerelaan tokoh masyarakat Buhra, maka hak perwalian mereka menjadi batal karena keenganan tersebut. Hakim Syar’I berwenang melangsungkan akad nikah saudari dengan pemdua sepadan yang melamar saudari. Dalil nya adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam. “penguasa adalah wali bagi perempuan yang tidak memiliki wali”. (HR.Ahmad).

Hakim adalah wakil penguasa, ia menempati posisinya dalam hal ini. Wali yang menghalang-halangi kedudukannya layaknya tidak ada.

Ini adalah nasihat saya kepada anda dan orang-orang seperti anda, silahkan meninggalkan afiliasi kepada madzhab Buhrah atau madzhab Syiah lainnya. Karena, itu semua adalah madzhab yang menyelisihi jalan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan islam dari berbagi segi.

Yang wajib adalah meninggalkannya dan berpindah ke madzhab Ahlussunnah wal Jamaah yang meniti jalan sesuai dengan tuntunan Kitabullah, As-Sunnah dan manhaj salaful ummah dari para sahabat Rasul Shallallahu ‘alaihi Wasallam serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Saya memohon kepada Allah semoga member hidaya kepada kelompok Syiah tersebut dan kelompok-kelompok yang menyingpang dari jalan yang benar lainnya. Semoga Allah menuntun mereka ke jalan kebenaran, memberikan taufik kepada kita, anda dan seluruh kaum muslimin. Karena, didalannya ada keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sesungguhnya dia adalah pemilik itu semua dan kuasa atas hal itu. Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

(Majmu’ Fatawa wa Maqalat, Bin Baz, IV : 437)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.