Hukum Memberikan Zakat Kepada Orang Syiah

Hukum Memberikan Zakat Kepada Orang Syiah

Soal:
Apa hukum memberika zakat mal Ahlussunnah kepada orang-orang miskin dari kalangan Rafidhah (Syiah)? Apakah seorang muslim yang dipercaya untuk membagikan zakat sudah bebas dari tanggungannya bila ia menyerahkannya kepada orang-orang Rafidhah yang miskim?

Jawab:
Para ulama telah menyebutkan dalam kitab-kitab mereka dalam bab para penerima zakat, bahwa zakat tidak diberikan kepada orang-orang kafir maupun ahli bid’ah. Orang-orang Rafidhah tidak diragukan lagi telah kafir berdasarkan empat alasan:

Pertama, hujatan mereka terhadap Al-Qur’an dan tuduhan mereka bahwa lebih dari dua pertiga Al-Qur’an telah di hapus. Hal itu seperti disebutkan dalam buku mereka yang ditulis oleh An-Nuri. Ia menamakannya : Fashlul Khitaab fi itsbat Tahriifil Kitab Rabbil Arbaab (Pasal penetapan adanya penyimpangan Kitab Rabb Segala Rabb). Hal yang sama juga di sebutkan dalam kita Al-Kafi dan buku mereka yang lain. Orang yang menghujat Al-Qur’an maka ia telah kafir dan mendustakan firman Allah Ta’ala : “Dan sesungguhnya kami benar-benar memelihara (Al-Qur’an)”. (Al-Hijr [15]:9).

Kedua, hujatan mereka terhadap As-Sunnah dan hadits-hadits shahih. Sehingga mereka tidak mengamalkannya karena itu diriwayatkan oleh para sahabat yang merupakan orang-orang kafir, menurut keyakinan mereka. Mereka meyakini bahwa para sahabat telah kafir sepninggal Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, kecuali Ali Radiallahu’anhu dan keturunannya, Salman, Ammar, dan segelintir sahabat lain. Sementara itu, tiga khalifah dan mayoritas sahabat yang berbaiat kepada mereka bertiga telah dianggap murtad. Mereka adalah orang kafir, sehingga hadits-haditsnya tidak mereka terima, seperti yang disebutkan dalam buku Al-Kafi dan buku-buku mereka yang lain.

Ketiga, tindak pengkafiran mereka terhadap Ahlussunah, sehingga mereka tidak mau shalat bersama kalian. Orang dari kalangan mereka yang shalat di belakang (baca: bermamkum) orang sunni akan mengulangi shalatnya. Bahkan, mereka meyakini bahwa kita adalah najis. Kapan saja kita berjabat tangan dengan mereka, makan mereka akan mencuci tangannya setelah berpisah dengan kita. Orang yang mengkafirkan kaum muslimin lebih layak mendapatkan vonis kekafiran tersebut. Karenanya, kita mengkafirkan mereka sebagaimana mereka mengkafirkan kita, dan itu lebih utama.

Keempat, kesyirikan mereka yang nyata dengan tindakan berlebihan mereka terhadap Ali dan keturunannya, serta berdoa kepada mereka sebagai tandingan bagi Allah. Hal ini jelas disebutkan dalam buku-buku mereka. Demikian pula ekstrimisme dan pensifatan mereka tentang Ali dengan sifat-sifat yang tidak layak diberikan kecuali Rabb semesta alam. Kita telah mendengarnya dalam kaset-kaset mereka.

Kemudian hal itu, orang yang memberika zakat kepada mereka hendak nya ia mengeluarkannya lagi sebagai pengganti, karena ia telah memberikan zakatnya kepada orang yang menggunakan zakat untuk kekafiran dan memerangi sunnah.

Orang yang dipercaya untuk membagikan zakat (amil) haram baginya memberikan zakat kepada orang Rafidhah. Bila ia melakukannya, ia belum lepas dari amanahnya dan ia harus menggantinya. Karena, ia belum menunaikan amanah kepada yang berhak.

Bagi orang yang masih ragu tentang itu, hendaknya membaca buku-buku bantahan terhadap mereka, seperti bukunya Al-Qifari dalam membantah doktrin mereka, buku Al-Khuthuth Al-Aridhah, karya Al-Khatib, buku karya Ihsan Ilahi Zhahir dan lainnya. Wallahu al-muwafiq.

(Dari buku Al-Lu’lu Al-Makin min Fataw Fadhilatu Syaikh Ibnu Jibrin, Hal:39).

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.