Darah Kaum Sunni itu Halal

MENURUT SYIAH: DARAH KAUM AHLI SUNNAH ITU HALAL

Sesungguhnya orang-orang Syi’ah menganggap halal darah kaum Ahli Sunnah wal Jama’ah yang dimuliakan oleh Allah. Bahkan mereka dihukumi sebagai orang-orang kafir. Dalam keyakinan mereka, sesungguhnya orang Sunni itu An-Nashib atau pembangkang. Berikut ini adalah fakta-fakta yang membuka kedok kebusukan dan kejahatan mereka.

• Diriwayatkan oleh guru mereka, Muhammad bin Ali bin Babawaih Al-Qummi, seorang ulama ahli hadits terkemuka yang oleh orang-orang Syi’ah diberi gelar Ash-Shaduq dalam kitabnya Ilal Asy-Syarayi’, hal. 601, terbitan An-Najf, dari Daud bin Furqad, ia mengatakan,

“Aku bertanya kepada bapakku Abdullah Alaihissalam, ‘Apa pendapat Anda tentang membunuh An-Nashib ‘pembangkang’?’ Ia menjawab, ‘Halal darahnya, tetapi aku merasa khawatir kepadamu. Sedang jika kamu mampu menimpakan dinding atau menenggelamkannya ke dalam air agar tidak ada seorang pun yang bersaksi atasmu, maka lakukanlah. Aku bertanya lagi, ‘Dan apa pendapat Anda tentang hartanya?’ Ia menjawab, ‘Sedapat mungkin rampaslah’.”

Riwayat yang buruk tadi dituturkan oleh guru Syi’ah, Al-Hurru Al-Amili dalam kitabnya Wasa’il Asy-Syi’ah (XVIII/463), dan oleh Sayid Ni’matullah Al-Jazairi dalam kitabnya Al-Anwar An-Nu’maniyah (II/307). Mereka mengatakan, “Boleh hukumnya membunuh An-Nawashib atau para pembangkang dan harta mereka halal.”

Menurut kami, yang menjadi alasan di sini ialah keinginan kuat supaya orang sYiah tidak terjerat hukum syariat, sehingga ia akan dijatuhi sanksi hukuman qishas. Berdasarkan hal ini, maka orang Syi’ah boleh membunuh orang Sunni dengan cara diracun atau dibakar atau disetrum listrik. Ini dengan adanya taqiyah yang dimaksudkan demi melindungi keyakinan-keyakinan dan semangat Syi’ah. Seandainya tidak ada taqiyah maka praktis akan terjadi pembunuhan massal terhadap orang-orang Ahli Sunnah wal Jama’ah, seperti yang telah kami kemukakan dalam pasal tentang, “Kapan Kaum Syi’ah Mulai Meninggalkan Taqiyah?” dalam buku ini.

Kalau kita menengok sejarah, pemerintahan Dinasti Abasiyah adalah pemerintahan ala Sunni. Karena niat baik kaum Ahli Sunnah wal Jama’ah, seorang khalifah Abasiyah berkEnan menGangkat seorang menteri dari Syi’ah bernama Mu’ayyadin Ibnu Al-Alqami. Tetapi belakangan sang menteri Syi’ah malah tega berbuat khianat terhadap sang khalifah, karena secara diam-diam ia bersekutu dan bersekongkol dengan pasukan Tartar. Akibatnya, terjadi peristiwa pembantaian massal di Baghdad, yang menelan korban ratusan ribu nyawa kaum Muslimin disebabkan pengkhianatan sang menteri Syi’ah tadi. Apakah orang-orang merestui perbuatan pembela mereka orang Thusi, yang belakangan menjadi antek Holago Khan dan berkomplot dengannya terhadap kaum Muslimin?

• Seorang ulama Syi’ah yang biasa mereka panggil Al-Mirza Muhammad Baqir Al-Musawi Al-Khunasari Al-Ashbahani dalam kitabnya Raudhat Al-Jannati fi Ahwal Al-Ismai’iliyan-Qumm, Iran, mengatakan tentang orang culas ini sebagai berikut,
“Ia adalah seorang peneliti, pandai berbicara, bijaksana, alim, dan terpandang. Di antara ceritanya yang cukup terkenal ialah hikayat tentang dukungannya terhadap seorang penguasa yang sangat gigih dalam menjaga Iran bernama Holago Khan bin Tauli Khan Jangis Khan dari kalangan penguasa besar Tartar dan orang-orang Turki Mongol. Kedatangannya dalam rombongan penguasa yang didukung dengan persiapan yang sempurna ke negara damai Baghdad untuk mendidik rakyat, memperbaiki negeri, memutus mata rantai kejahatan, dan menumpas kezaliman, dengan cara menghancurkan daerah kekuasaan Bani Abasiyah dan melakukan pembunuhan massal terhadap para pengikut orang-orang jahat tersebut sehingga darah mereka mengalir bercampur kotoran laksana sungai Dajlah dan sebagiannya ke neraka Jahannam negeri kehancuran dan tempat orang-orang yang jahat serta celaka.”

Kendatipun demikian, Al-Khomeini dalam kitabnya yang cukup populer Al-Hukumah Al-Islamiyah, hal. 142, cetakan keempat, malah mengatakan,

“Jika tuntutan taqiyah mengharuskan salah seorang kita masuk dalam komunitas para penguasa, ia wajib menolaknya, sekalipun penolakan tersebut membuat ia harus dibunuh. Kecuali jika masuknya tersebut hanya sekedar formalitas demi pembelaan yang hakiki terhadap Islam dan kaum Muslimin, seperti dilakukan oleh Ali bin Yaqthin dan Nashiruddin Ath-Thusi Rahimahumallah.”

Coba Anda perhatikan, bahwa ternyata peristiwa pembantaian massal di Baghdad yang telah diatur Nashiruddin Ath-Thusi, oleh Khomeini dianggap sebagai bentuk pembelaan yang sejati terhadap Islam dan kaum Muslimin.7 [Para ulama Syi’ah sangat memuji penjahat dari Thusi ini. Al-Hurru Al-Amili misalnya, dalam kitab Amal Al-Amal juga memujinya.pujian juga disampaikan oleh Abdul Husain Syarafuddin dalam An-Nash wa Al-Ijtihad. Bahkan ia ditempatkan di tempat yang sangat terhormat. Dan masih banyak lagi ulama Syi’ah yang memujinya. Dengan demikian jelas bahwa orang-orang yang bersimpati kepada Syi’ah, karena mereka tidak mengetahui sejarah dan keyakinan-keyakinan Syi’ah. Akibatnya, mereka terkadang begitu bersemangat membelanya jika sedang berdiskusi tentang masalah-masalah ini. Karena ketidaktahuannya itulah, sulit bagi mereka untuk menarik kembali dari posisinya.]

Orang Syi’ah yang berhasil menyusup dalam kekuasaan kaum Ahli Sunnah wal Jama’ah, ia tidak segan-segan membunuh mereka begitu ada kesempatan, seperti yang telah dilakukan oleh Ali bin Yaqthin ketika ia berhasil menjebo penjara yang dihuni oleh seorang ulama Syi’ah yang mereka sebut Al-Kamil Al-Badzil seorang ulama terkemuka, dan juga oleh Ni’matullah Al-Jazairi dalam kitabnya yang cukup populer Al-Anwar An-Nu’maniyah (II/308), terbitan Tibriz, Iran. Berikut ini adalah kisah selengkapnya.

“Disebutkan dalam beberapa riwayat, bahwasanya Ali bin Yaqthin berkumpul di dalam penjara yang dihuni oleh sekelompok kaum pembangkang. Maka ia menyuruh budak-budaknya untuk meruntuhkan atap agar menimpa orang-orang yang ada di penjara, sehingga mereka semua mati. Dan jumlah mereka ada lima ratus orang laki-laki dari kaum Sunni. Ia lalu membunuh mereka semua.”

Karena ingin terbebas dari tanggung jawab dari tindak pembunuhan terhadap mereka, ia lalu berkirim surat kepada Imam Maulana Al-Kazhim. Dan sang imam langsung membalas surat jawaban yang berisi sebagai berikut,

“Seandainya kamu datang menghadapku sebelum membunuh mereka, kamu justru membayar untuk tangan darah mereka dengan seekor kambing hutan, dan kambing hutan itu lebih baik daripadanya.”

Perhatikanlan, diyat atau denda yang sama sekali tidak sebanding dengan diyat saudara mereka yang paling kecil, dua puluh dirham. Tetapi di akhirat kelak nasib mereka pasti sangat buruk sekali.

Riwayat ini juga dikutip oleh Muhsin Al-Mu’alim dalam kitabnya An-Nashbu wa An-Nawashib, hal. 622, Dar Al-Hadi-Beirut, untuk menunjukkan bahwa dalam pandangannya penjahat ini boleh membunuh orang-orang Ahli Sunnah wal Jama’ah.

• Seorang doktor Muslim berkebangsaan India, Yusuf An-Najrami dalam kitabnya Ash-Syi’ah Al-Mizan, hal. 7, terbitan Mesir, mengatakan,

“Sesungguhnya peristiwa-peristiwa Perang Salib yang dilancarkan oleh orang-orang Kristen melawan umat Islam hanyalah sebuah lingkaran yang telah diatur oleh kaum Syi’ah untuk mencelakakan Islam dan kaum Muslimin, seperti yang dituturkan oleh Ibnu Al-Atsir dan para ulama ahli sejarah lainnya. Upaya mendirikan pemerintahan Dinasti Fatimiyah di Mesir dan aksi-aksinya, adalah upaya mengaburkan sosok orang-orang Sunni untuk menjatuhkan sanksi kepada setiap orang yang berani mengingkari keyakinan-keyakinan Syi’ah. Raja An-Nadir dijatuhi hukuman mati di wilayah New Delhi oleh hakim Syi’ah bernama Ashif Khan di depan publik. Darah orang-orang Sunni juga ditumpahkan oleh penguasa Abul Fatah Daud yang juga orang Syi’ah. Tragedi pembantaian orang-orang Sunni di kota Laknao India yang menelan banyak korban, adalah hasil rancangan para pemimpin Syi’ah dengan dalih karena mereka tidak mau berpegang teguh pada Syi’ah yang mengajarkan untuk menghujat ketiga orang shahabat Radhiyallahu Anhum, pelanggaran Mir Shadiqatas tindakan kriminal pengkhianatan terhadap penguasa Tibo, dan tikaman yang dilakukan oleh Mir Ja’far di belakang Al-Amir Sirajud Daulah ….”

Doktor Muhammad Yusuf An-Najrami dalam kitab dan halaman yang sama juga mengatakan,

“Sesungguhnya tindakan-tindakan kejam yang dilaukan oleh pemerintahan Imam Al-Khomeini terhadap kaum Ahli Sunnah bukanlah sesuatu yang asing, karena sejarah secara gamblang mengungkapkan bahwa orang-orang Syi’ah berada di belakang tragedi kemanusiaan yang pernah menimpa umat Islam dalam pentas sejarah.”8[Bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang keadaan kaum Ahli Sunnah wal Jama’ah di Iran, silahkan membaca kitab Ahwal Ahli As-Sunnah fi Iran, oleh Muhammad Abdullah Al-Gharib.]

• Ketika menulis tentang kaum Ahli Sunnah, Abdul Mun’im AN-Namr mengemukakan tentang teror dan ancaman yang dilancarkan kepada mereka. Ia mengemukakan hal itu dalam kitabnya Asy-Syi’ah, Al-Mahdi, Al-Daruz Tarikh wa Watsa’iq, hal. 10, cetakan kedua tahun 1988 Masehi,

“Sesungguhnya orang-orang Syi’ah sama menyimpan rasa dendam, permusuhan, dan kebencian terhadap kaum Ahli Sunnah wal Jama’ah. Tetapi mereka tidak mau menyatakan secara terang-terangan perasaan tersebut karena terikat pada akidah taqiyah yang culas. Akibatnya, mereka hanya bersikap basa-basi terhadap kaum Ahli Sunnah wal Jama’ah dengan memperlihatkan perasaan sayang. Inilah yang membuah kaum Ahli Sunnah tidak pandai memahami sikap orang-orang Syi’ah yang sebanarnya.”

• Dalam hal ini Doktor Abdul Mun’im An-Namr dalam kita kitabnya Al-Mu’amarah Ala Al-Ka’bah min Al-Qaramithah Ila Al-Khomeini, hal. 118, Maktabah At-Turats Al-Islami-Kairo, mengatakan sebagai berikut,

“Tetapi kami orang-orang Arab tidak mengetahui hal itu. Bahkan kami menganggap bahwa selama beberapa kurun waktu yang cukup panjang telah menjamin kalau Islam akan tetap eksis dan tidak akan lenyap atau musnah, sehingga kami tidak perlu mengkhawatirkannya. Kami biasa bergembira bersama orang-orang Iran. Kami yakin bahwa seperti halnya kami, Imam Al-Khomeini akan memaafkan atau melupakan semua persoalan sejarah tersebut. Ia akan berperang sebagai seorang pemimpin Muslim yang membimbing umat Islam pada perdamaian dan kerukunan. Hal itu demi kebaikan Islam serta seluruh kaum Muslimin, tanpa membedakan antara orang Persi dan orang Arab, atau antara orang Syi’ah dan orang Sunni. Tetapi setelah itu terjadi peristiwa-peristiwa yang mengungkapkan bahwa selama ini kami tenggelam di dalamnya sampai sekarang, meskipun telah terjadi peristiwa-peristiwa yang menggelisahkan.”

• Majalah Ruz Al-Yusuf, edisi 3409, tanggal 11 Oktober tahun 1993, memuat berita tentang Hakikat Syi’ah di Mesir. Sebagian berita tersebut kami kutip sebagai berikut,

“Untuk menghilangkan kendala psikologis antara mereka dan perangkat-perangkat keamanan, orang-orang Syi’ah di Mesir berusaha memanfaatkan seagala media yang mereka miliki untuk menghadapi arus jihad dan kelompok-kelompok yang menentang. Soalnya, seperti pengakuan orang-orang Syi’ah, mereka adalah pihak yang paling paling mampu mengatasi masalah ini. Mereka juga mengaku sanggung membuka aib-aib yang disampaikan oleh Ibnu Taimiyah yang oleh kelompok-kelompok penentang tersebut untuk melakukan pembunuhan, melancarkan teror, dan menyebarkan tindakan-tindakan yang anarkis.”

Wahai saudara kami sesama Muslim, waspadalah terhadap sanggahan kaum Syi’ah terhadap kebenaran berita yang terkait dengan mereka tersebut. Anda harus tahu bahwa ulama-ulama mereka telah bersekutu dengan orang-orang kafir untuk melawan kaum Muslimin lewat buku-buku mereka sendiri. Tujuan mereka ialah untuk meyakinkan Anda atas kesepakatan mereka menganggap kafir setiap orang yang tidak mempercayai kedua belas imam mereka, baik dari segi keamanan di Mesir atau kelompok-kelompokIslam. Yakinlah bahwa orang-orang Syi’ah sangat memusuhi kaum Ahli Sunnah yang setia, terutama kepada orang yang sudah mengetahui akan hakikat mereka berikut ajaran taqiyahnya.

Sekarang, tahukah Anda wahai saudara kami sesama Muslim, apa yang dilakukan oleh orang Syi’ah terhadap orang lain yang berani menentangnya ketika ia tengah berkuasa di sebuah negara yang mereka tidak punya wewenang?

• Sebagai jawabannya, mari kita dengar apa yang dikatakan oleh guru Syi’ah, Abu Ja’far alias Muhammad bin Al-Hasan Ath-Thusi dalam kitab fiqihnya yang menjadi pegangan mereka yang terkenal, yakni An-Nihayat fi Mujarradat Al-Fiqhi wa Al-Fatawa, hal. 302, Dar Al-Kitab Beirut tahun 1400 Hijriyah. Ia mengatakan sebagai berikut,

“Barangsiapa yang memangku kekuasan dari seorang penguasa yang zalim dalam menegakkan had atau melaksanakan hukum, ia harus yakin bahwa ia memperoleh kekuasaan tersebut dari seorang penguasa yang jujur, dan ia harus melaksanakannya berdasarkan tuntutan syariat iman. Dan kapanpun jika ia mampu menegakkan hukuman terhadap orang penentang ia harus melaksanakannya, karena hal itu merupakan jihad yang agung.”

Itulah sikap mereka yang penuh permusuhan terhadap orang Sunni yang mereka tetapkan dalam kitab Al-Istibshar, kitab Tahdzib Al-Ahkam, dan kitab-kitab lainnya yang ditulis oleh ulama-ulama Syi’ah.

Itulah sikap mereka ketika sedang memegang suatu kekuasaan di sebuah pemerintahan non Syi’ah. Bagaimana jika orang seperti Ath-Thusi dan lainnya yang sedang berkuasa dalam pemerintahan Syi’ah?

Kita memohon kepada Allah Yang Mahatinggi lagi Maha Agung semoga Dia berkenan tidak memberikan mereka kekuasaan pada kaum Muslimin.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.