Bersikap Adil Kepada Kalangan Syiah

Bersikap Adil Kepada Kalangan Syiah

Soal:
Wahai syaikh, seperti diketahui bahwa di antara kami di Madinah Nabawiyah terdapat banyak orang Rafidhah. Mereka belajar bersama kami di sekolah-sekolah. Sebagian guru menanyakan, “Apakah saya wajib bersikap adil terhadap mereka dan mahasiswa yang dari Ahlussunnah? Atau kau saya harus mengurangi tidak memberikan hak orang-orang Rafidhah tersebut?

Jawab:
Pertama, Ucapan anda “Madinah Nabawiyah” telah saya membuat kagum. Sebab, yang populer di kalangan orang-orang selama ini adalah Madinah Munawarah. Yang benara adalah seperti yang anda ucapkan karena Munawwarah (nur; cahaya) juga ada di Mekah sebelum ada dimadinah.

Kedua, guru memang harus bertindak dengan adil. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil, berbuat adillah karena itu lebih dekat kepada ketakwaan”. (Al-Madiah [6] : 8).

Bahkan, ulama mengatakan bahwa seorang qadhi bila ada dua orang meminta keadilan, sedangkan satunya seorang muslim dan satunya lagi orang kafir, ia wajib mempersilahkan mereka duduk dalam posisi yang sama. Janganlah ia berkata kepada si muslim, “ Mendekatlah kemari”. Sedangkan kepada si kafir ia berkata “Duduklah disana”.

Ia harus memposisikan mereka berdua sama dihadapannya dan adil dalam berbicara kepada mereka. Ia tidak boleh berkata kasar kepada si kafir, lalu berkata lembut kepada si muslim. Jangan ia mengatakan kepada si muslim, “Semoga Allah membuka pagi anda dengan kebaikan”, namun tidak mengucapkan kata yang sama kepada si kafir. Bahkan, ia harus membuat mereka berduas ama dalam pengadilan. Inilah keadilan.

Bila para siswa Syiah tersebut telah menyelesaikan jawaban tes, hendaknya guru tersebut menganggap mereka bagian dari siswa sekolah umumnya. Ia hendaknya mengoreksi jawaban yang dihadapinya, bila benar katakanlah benar dan bila salah katakanlah salah. Guru tersebut dalam memberikan penilaian tidak boleh mengacuh pada latar belakang siswa. Karena, sebagian orang atau sebagaian guru menentukan rangking siswa-siswanya berdasarkan apa yang ia ketahui tentang siswa tersebut sebelumnya, bukan berdasarkan jawaban tersebut. Ini adalah kesalahan dan kekeliruan. Ia seharusnya menetapkan rangking siswa berdasarkan jawaban erakhir yang sampai kepadanya. Karena, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, “Aku hanya akan memutuskan sesuai dengan apa yang aku dengar”.

Kebanayakan yang terjadi, siswa sering salah persepsi dalam menjawab atau memahami pertanyaan. Ia memahami pertanyaa tersebut bahwa yang diinginkan penanya adalah begini, lalu ia menjawab sesuai dengan pemahamannya tersebut. Atau, ia ragu-ragu dalam menjawab. Ia mengira bahwa jawab dari pertanyaan tersebut adalah begini dan begitu, padahal ini adalah kekeliruan.

Misalnya ada pertanyaan, hadits dibagi menjadi berapa? Siswa mungkin akan mengira bahwa maksud ‘dibagi menjadi berapa’ adalah dari segi jumlah jalan periwayatan, sehingga ia akan menjawab: Mutawatir, aziz, dan gharib. Sementara itu, siswa lain akan mengira bahwa pertanyaan itu tentang peringkat hadits dari segi keshahihan, sehingga ia akan menjawab : Shahih, Hasan, Dhaif, hasan lidzatihi, Hasan Lighairihi, Shahih lidzatihi dan Shahih Lighairihi.

Intinya, seorang guru bila diberi lembar jawaban wajib mengoreksi sesuai dengan jawaban, dengan membuang jauh pertimbangan terhadap siapa yang menjawab. Demikian pula pada waktu mengajar, ia harus berbuat adil terhadap semua siswa lau bagaimanapun persoalannya. Dengan cara seperti ini, ia akan membuka kesadaran yang mendalam yang terkadang tidak pernah ia ketahui. Karena, musuh akan memahami bahwa ia tidak menzhaliminya, sehingga musuh tersebut senang kepadanya. Ia pun akan berkata, “Orang ini adil”. Sikapnya tersebut akan membuat musuh bersikap ramah kepadanya dan mau menerima apa yang ia katakana.

Kami menasihati saudara-saudara kita para guru di Negara-negara yang disana berbaur antara Ahlussunnah dan ahli bid’ah agar berusaha sekuat tenaga untuk bersikap ramah kepada ahli bid’ah dan memikat mereka. Karena, orang yang masih muda itu jiwanya mudah berubah dan mudah tergugah hatinya. Karena itu, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, “Bunuhlah orang-orang musyrik yang sudah tua dan biarkanlah hidup orang-orang yang masih muda diantara mereka”. Maksudnya, para pemuda mereka supaya dibujuk.

Akan tetapi, bila seorang guru memperlakukan mereka dengan kasar, sedangkan sebagian lain dengan lembut atau memperlakukan mereka dengan keras, sedangkan terhadap sebagian lain dengan ringan atau dengan menyalahkan jawaban mereka padahal mereka menjawab dengan benar, tidak diragukan lagi bahwa ini akan melahirkan permusuhan dan kebencian di hati mereka meski terkadang kebenaran berpihak pada sang ustadz pengajar sekalipun.

(Liqa’ul Babil Maftuh, Syaikh Al-Utsaimin, XXI : 37-39, Pertanyaan No.776)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.