Berinteraksi Dengan orang Syiah Bagian (Tiga)

Berinteraksi Dengan orang Syiah Bagian (Tiga)

Soal :
Semoga Allah memberikan kebaikan kepada Anda. Ada beberapa orang Rafidhah yang sekantor dengan kami. Sebagian dari mereka sudi shalat bersama kami, sedangkan sebagian yang tidak sudi sama sekali. Bagaimanakah  sikap kami terhadap mereka? Pertanyaan lain, orang-orang Rafidhah di Negeri kami walaupun telah mempelajari buku tauhid dan hujjah telah disampaikan kepada mereka, apakah mereka kafir?

Jawab:
Anda wajib menemui kepala kantor tempat anda bekerja dan menyampaikan kepadanya bahwa orang-orang tersebut tidak mau shalat bersama anda. Kepala kantor tersebut harus memanggil mereka dan menanyakan mengapa mereka tidak mau shalat bersama-sama.

Tidak diragukan lagi bahwa mereka tidak punya alas an lain selain keyakinan mereka bahwa kita adalah orang kafir (menurut mereka). Kepala kantor itu hendaknya mengatakan, “Bila kalian tidak mau sholat bersama sama kami karena kalian meyakini bahwa shalat kami tidak sah karena kami kafir, maka orang yang mengkafirkan kami akan kami kafirkan pula. Bila kami telah mengkafirkannya, kami akan memerangi dan menjauhinya”. Dengan demikian, orang itu menjadi kafir. Orang yang mengkafirkan kaum muslimin, maka kekafiran itu kembali kepadanya. Siapa saja berkata kepada seorang muslim, “”Wahai musuh Allah”, atau “Wahai orang kafir”, padahal ia tidak seperti, maka kekafiran tersebut akan berbalik kepadanya.

Inilah sejatinya, bahwa orang-orang Rafidhah tidak mau shalat di belakang (menjadi makmum) Ahlussunnah. Karena, mereka mengkafirkan Ahlussunnah. Kita mengatakan bahwa pada asalnya orang-orang Rafidhah seperti yang telah kita ketahui sejak awal mereka berlebih-lebihan terhadap Ali manakalah mereka mendengar seseorang  menghinanya di Kufah. Mereka bertindak ekstrim dalam menyikapi hal tersebut, lalu perbuatan mereka bertambah parah manakalah mereka menyembah Ali.

Mereke sekarang adalah orang-orang kafir karena mereka menyembah Ahlul Bait – menurut keyakinan mereka. Mereka membatasi Ahlul Bait hanya pada Ali dan dua anaknya saja (padahal anaknya Ali banyak), sedang istrinya hanya Fathimah saja (padahal istrinya juga banyak). Demikian pula, membatasi Ahlul Bait pada keturunan Husain. Berbeda dengan keturunan Hasan, mereka (Rafidhah) tidak terwali kepada mereka (Hasan dan keturunannya) karena mereka ini adalah imam-imam mereka.

Kemudian permasalahannnya semakin melebar sampai-sampai mereka menghujat Al-Qur’an dan menuduh bahwa para sahabat telah menghilangkan keutamaan-keutamaan Ali yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Mereka juga menghujat para sahabat dan menyatakan bahwa keutamaan yang telah dikukuhkan bagi mereka (para sahabat) telah batal lantaran kemurtadan mereka tersebut. Kemurtadan mereka terjadi karena mereka tersebut. Kemurtadan mereka terjadi karena mereka menyembunyikan wasiat yang merupakan pesan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam untuk Ali Radiallahu’anhu bahwa ia adalah Wali (pemimpin). Oleh karena itu, mereka mengkafirkan para sahabat dan menolak hadits-hadits dari mereka. Mereka tidak mengamalkan Al-Qur’an dan ekstrim hingga beribadah kepada selain Allah.

(Kaset tentang Syarh Al-Uddah Syarhul Umdah, tanggal 21/1/1422H)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.