Ajaran Syiah: Taqiyah (Bagian 3)

Baca Artikel Sebelumnya:

  1. Ajaran Syiah: Taqiyah (Bagian1)
  2. Ajaran Syiah: Taqiyah (Bagian 2)

Disebutkan dalam Wasa’il Asy-Syi’ah (XI/466), sebuah riwayat dari Ash-Shadiq, ia berkata,

“Kalian harus melakukan taqiyah, karena sesungguhnya bukan termasuk golongan kami orang yang tidak mau menjadikan taqiyah sebagai semboyan dan kedoknya di depan orang yang ia anggap aman, supaya hal itu menjadi karakter dalam menghadapi orang yang perlu ia waspadai.”

• Di antara keanehan-keanehan yang boleh jadi tidak bisa diterima oleh orang yang tidak punya pengetahuan sama sekali terhadap keyakinan-keyakinan kaum Syi’ah sekalipun, ialah bahwa para ulama Syi’ah memperbolehkan shalat di belakang seorang Sunni karena alasan taqiyah, meskipun mereka menganggap orang Sunni itu najis, kafir, dan halal serta darahnya, sebagaimana yang akan dikemukakan dalam kitab ini nanti. Itulah yang diriwayatkan oleh Ayatullah Al-Khomeini dalam kitab Al-Rasa’il (II/198), dari Zararah bin A’yun dari Abu Ja’far, ia berkata,

“Tidak apa-apa hukumnya shalat di belakang seorang Sunni, dan tidak membaca di belakangnya dalam shalat jahriyah, karena apa yang dibacanya itu mencukupimu.”

Setelah mengemukakan riwayat tersebut, Al-Khomeini mengatakan, “Dan masih banyak lagi contoh lain yang tegas dan jelas tentang keabsahan shalat karena alasan taqiyah.”

• Sementara Al-Khomeini sendiri memperbolehkan merampas harta orang Sunni yang mereka sebut an-nashib atau pembangkang. Ia mengatakan dalam Tahrir Al-Wasilah (I/352) sebagai berikut:

“Menurut pendapat yang paling kuat, orang-orang Sunni itu disamakan dengan kaum pemberontak yang hartanya boleh dirampas sebagai ghanimah dan berlaku al-khumus atau pembagian seperlima. Bahkan menurt pendapat yang populer, boleh hukumnya mengambil harta orang Sunni di mana ditemukan dan dengan cara apa pun. Dan bagian seperlimanya harus dikeluarkan.”

• Perhatikan, bagaimana Al-Khomeini memperbolehkan orang Syi’ah melakukan shalat di belakang orang Sunni yang dianggap najis dan terkutuk, seperti yang ia kemukakan dalam kitabnya Tahrir Al-Wasilah (I/118). Shalat kaum Syi’ah di belakang kaum Ahli Sunnah (yang menurut kepercayaan mereka disebut sebagai an-nawashib), bukan berarti bahwa kaum Ahli Sunnah itu mereka anggap suci dan beriman. Tetapi demi mengamalkan taqiyah dan menipu agar bisa menarik simpati orang yang mau membela mereka.

• Kendatipun demikian, Doktor Izzudin Ibrahim seorang penulis yang bekerja di kalangan kaum Syi’ah, dalam kitabnya As-Sunnah wa Asy-Syi’ah, hal. 47, cetakan keempat, terbitan Pusat Kebudayaan Islam Iran di Roma, mengutip ucapan seorang dosen senior Universitas Al-Azhar Muhammad Muhammad Al-Fahham yang ditujukan kepada salah seorang ulama Syi’ah yang biasa dipanggil Hasan Sa’id. Coba simak kutipannya, “Yang terhormat Syaikh Hasan Sa’id, salah seorang ulama besar Teheran telah membuat aku merasa terhormat karena ia mau berkunjung ke rumahku di jalan Ali bin Abu Thalib No. 5. Beliau datang bersama yang mulia, yang sungguh pandai, teman karibku Sayid Thalib Ar-Rifa’i. Kunjungan tersebut masih terus membangkitkan kenangan-kenangan yang sangat indah dalam jiwaku, kenangan hari-hari yang pernah aku lewatkan di Teheran pada tahun 1970 Masehi. Saat itu aku mengenal sekelompok besar dari kelompok-kelompok ulama Syi’ah Imamiyah. Di tengah-tengah mereka aku mengenal makna kesetiakawanan dan kemudian yang tidak pernah aku kenal sebelumnya. Kunjungan mereka kepadaku pada hari itu adalah demi menunjukkan sikap kesetiakawanan mereka. Semoga Allah berkenan membalas semua kebaikan mereka, dan menghargai usaha mulia mereka dalam upaaya merukunkan antara mazhab-mazhab Islam yang pada hakikatnya memiliki kesamaan dalam soal dasar-dasar akidah Islam yang mampu menyatukan mereka dalam persaudaraan Islam, sebagaimana firman Allah “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (QS. Al-Hujurat 10)

Adalah kewajiban seluruh umat dari mana pun mazhabnya untuk mewujudkan persaudaraan ini. Betapapun mereka harus membuang jauh-jauh segala faktor perpecahan yang dapat menghambatnya dan mengotori kejernihannya, dan yang telah diperingatkan oleh Allah dalam Kitab-Nya, “Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.” (QS. Al-Anfal 46). Semoga Allah merahmati Syaikh Syaltut yang mengabaikan nilai yang sangat mulai ini. Ia tidak henti-hentinya selalu memberikan fatwa yang tegas dan berani yang isinya boleh mengamalkan mazhab Syi’ah Imamiyah dengan pertimbangan karena ia adalah sebuah mazhab fiqih Islam yang juga berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan dalil yang kuat. Kami mohonkan kepada Allah semoga Dia berkenan menolong orang-orang yang menempuh jalan lurus ini guna meperekat tali persaudaraan akidah Islam yang sejati. “Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kami, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu’.” (QS. At-Taubah 105). Akhir seruan kita ialah bahwa segala puji bagi Allah, Tuhan seru semesta alam.”

Kami katakan, Hasan Sa’id yang disinggung dalam pembicaraan syaikh Al-Fahham ini adalah orang yang menulis pengantar kitab Kadzabu Ala Asy-Syi’ah karya Muhammad Ar-Radhwi yang akan kami kutip dalam buku ini. Dengan sombong ia berani menghina Imam Abu Hanifah Rahimahullah. Dalam kitabnya tersebut halaman 135 ia mengatakan, “Semoga Allah membikin kamu celaka, wahai Abu Hanifah. Bagaimana kamu menganggap kalau shalat itu bukan bagian dari agaam Allah?”

Ia juga berlepas tangan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhuma. Dalam kitab tersebut halaman 49, ia menyanggah salah seorang penulis As-Sunnah,

“sikap lepas tangan kami dari Abu Bakar dan Umar adalah karena keharusan agama kami. Ini merupakan lambang syariat atas kejujuran rasa cinta kami kepada imam kami dan rasa sayang kami kepada para pemimpin kami Alaihimussalam.”

Kitab Kadzabu Ala Asy-Syi’ah ini penuh dengan kecaman-kecaman terhadap para shahabat Radhiyallahu Anhum, tokoh-tokoh terkemuka hadits, dan para pemimpin kaum Muslimin. Kami akan mengutip kesalahan-kesalahan tersebut dalam tulisan tersendiri. Dan buku ini bukan tempat yang pas untuk mengungkapkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh Ar-Radhawi dan lainnya. Tetapi satu hal penting yang harus kami tegaskan di sini ialah, bahwa Hasan Sa’id yang disinggung oleh Syaikh Al-Fahham adalah orang yang menulis bagian mukadimah kitab itu. Di sana ia mengatakan,

“Sesungguhnya Al-Allamah yang agung Sayid Muhammad Ar-Radhi Ar-Radhawi menentang tulisan dan pemikiran-pemikiran para ulama yang sumbernya tidak jelas dan rancu. Hal itu ia lakukan demi mengamalkan sabda Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Seorang yang alim harus berani memperlihatkan ilmunya’, untuk menjelaskan statusnya sebagai golongan Syi’ah.”

Benar, dalam kata pengantar kitab karya Ar-Radhi Ar-Radhawi, Hasan Sa’id sama sekali tidak berusaha mengkritik sang penulis yang melancarkan kecaman-kecaman terhadap khalifah, para shahabat, dan para tokoh salafafus sunnah. Syaikh Al-Fahham Rahimahulah idak mengetahui hal itu. Keadaannya sama seperti keadaan kebanyakan kaum Ahli Sunnah. Dan orang-orang Syi’ah begitu antusias untuk mempertahankan orang-orang yang mengaku sebagai para ulama Ahli Sunnah yang seperti itu.

Lihat, kelicikan dan tipu muslihat orang-orang Syi’ah yang nyaris dapat melenyapkan gunung-gunung. Dalam kata pengantar kitab tersebut, Hasan Sa’id tokoh Syi’ah yang satu ini mengecam para shahabat dan para imam Ahli Sunnah. Sementara Al-Fahham Rahimahullah hanya sekedar memiliki kenangan-kenangan sekitar kunjungannya ke Teheran. Mahasuci Allah. Sesungguhnya kami perlu memberikan saran kepada para ulama dan para ahli pikir bahwa betapa pun mereka harus benar-benar sadar kalau kaum Syi’ah selalu berpura-pura memperlihatkan sesuatu yang berlawanan dengan fakta yang mereka sembunyikan.

Dengan demikian anda bisa mengetahui secara jelas bahwa di sana ada hubungan-hubungan antara kedua belah pihak, yaitu antara pihak yang menipu dan pihak yang ditipu. Pihak yang menipu ialah orang-orang Syi’ah yang tunduk kepada para ulama mereka yang sangat piawai bermain taqiyah dalam pergaulan mereka bersama orang-orang yang belum mengetahui siapa mereka sebenarnya. Dan pihak yang telah ditipu ialah sebagian ulama Ahli Sunnah yang tergesa-gesa dan ceroboh mendukung Syi’ah dan menegaskan kepada kaum Muslimin bahwa boleh hukumnya beribadah berdasarkan mazhab Syi’ah, sebagaimana mazhab-mazhab Ahli Sunnah lainnya.

Saudara kami sesama Muslim, tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa orang-orang yang tergesa-gesa dan ceroboh mendukung Syi’ah atau orang-orang yang menyerukan kerukunan dengan Syi’ah, bukanlah orang-orang khusus atau para pengamat di bidang yang mereka geluti. Mereka adalah orang-orang yang menjadi korban taqiyah dan kebodohan. Apakah mereka tidak memperhatikan, bagaimana Al-Khomeini memperbolehkan meletakkan tangan kanan pada tangan kiri sebagai bentuk penipuan dan mempermainkan dagu, padahal di sisi lain ia menganggap hal itu termasuk sesuatu yang dapat membatalkan shalat? Itulah yang ia katakan dalam kitab Tahrir Al-Wasilah (I/186),

“Takfir ialah meletakkan salah satu tangan pada tangan yang satunya seperti yang biasa dilakukan oleh orang lain. Jika dilakukan secara sengaja hal itu dapat membatalkan shalat. Tetapi tidak apa-apa jika untuk mengamalkan taqiyah.”

Bersambung..

Tunggu artikel selanjutnya yang kita kupas taqiyah ajaran syiah ini.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.