Al-Quran Syiah Beda dengan Al-Quran Sunni

Menurut Ulama Syiah Al-Quran Kaum Muslimin Sudah Mengalami Perubahan

Berikut adalah manuskrip Munyah al-Mumarisin oleh pendeta rafidhah dari kalangan akhbariy, ‘Abdullah bin Shalih As-Samahijiy. Ia berkata terang-terangan berkenaan tahrif Al-Qur’an sbb (fokus yang digaris merah pada pic) :

“Tidak ada keraguan bahwasanya Al-Qur’an telah disusun setelah wafatnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wasallam. Tetapi yang disusun setelah wafatnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi ada dua, salah satunya adalah yang disusun oleh Amirul-Mukminin ‘alaihis-salam dengan perintah Nabi dimana ia adalah hujjah dan dapat diamalkan. Tetapi Al-Qur’an tersebut tersimpan di sisi para Imam ‘alaihim as-salam yang tidak ada pada selain khazanah mereka. Sedangkan yang kedua, adalah Al-Qur’an yang disusun oleh ‘Utsman dimana ia adalah yang sekarang berada di setiap tangan orang-orang, yang terjadi di dalamnya perubahan. Para Imam memerintahkan syi’ah mereka untuk mengamalkannya [sementara] dalam rangka istishlah (pertimbangan maslahat) dan taqiyyah agar tidak terjadi fitnah dan musibah yang besar dalam ushuluddin…”

(Selanjutnya yang merupakan sedikit bagian terakhir tidak saya terjemahkan karena ada beberapa lafazh yang kurang jelas, tetapi secara makna ia melanjutkan bahwa apa yang dikatakannya tersebut berdiri di atas dalil dari riwayat-riwayat dan khabar-khabar yang sharih lagi shahih)

Pic lebih besar :

مخطوطة منية لممارسين ص266  وثيقة
Klik untuk memperbesar gambar

 

Demikian yang dikatakan oleh As-Samahijiy, salah satu dari beberapa pendeta syi’ah yang terang-terangan mengatakan bahwa pengamalan syi’ah dengan Al-Qur’an yang sekarang tidak lebih dari sekedar taqiyyah. Ia bukanlah imamiy rafidhiy yang baru lulus dari Qum 5 tahun yang lalu, apa lagi hanya sekedar tokoh selevel Jalaluddin Rahmat dan istrinya. Tetapi ia adalah ahli hadits Rafidhah yang dipuji oleh pendeta-pendeta kenamaan mereka lainnya. Semisal ‘Abdullah Al-Jazairiy yang menyebutnya dengan seorang ‘alim, fadhil, muhaddits, mutabahhir (yang melaut keilmuannya) dalam khabar-khabar (riwayat). Ironisnya, kaum syi’ah di Indonesia lebih pintar daripada ulamanya sendiri hingga meludahi perkataan mereka.

Wallaahu A’lam.

By: Jaseer

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.