Ajaran Syiah: Taqiyah (Bagian 4)

• Guru Syi’ah bernama Muhammad bin Muhammad bin Shadiq Sadr Al-Musawi dalam kitab Tarikh Al-Gaibah Al-Kubro, hal. 352, cetakan kedua, Maktabah Al-Alfin-Kuwait, 1403 Hijriyah, mengatakan sebagai berikut,

“Perintah melakukan taqiyah itu berlaku pada zaman Al-Ghibah Al-Kubra. Inilah ringkasan isi dari riwayat-riwayat Syi’ah Imamiyah, bukan dari selain mereka. Ash Shaduq dalam Ikmal Al-Din, Syaikh Al-Hurru Al-Amili dalam Wasa’il Asy-Syi’ah, dan Ath-Thibrisi dalam I’lam Al-Wara, mengemukakan sebuah riwayat dari Imam Ar-Ridha Alaihissalam, sesungguhnya ia berkata, ‘Tidak ada agama sama sekali bagi orang yang tidak bersikap wira’i. Dan tidak ada iman sama sekali bagi orang yang meninggalkan taqiyah. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling rajin mengamalkan taqiyah. Barangsiapa meninggalkan taqiyah sebelum munculnya Al-Qa’im kami, maka ia bukan termasuk golongan kami’.”

Kami katakan, lihatlah, bagaimana kesetiaan orang-orang Syi’ah terhadap ajaran taqiyah. Artinya, mereka begitu antusias berpura-pura memperlihatkan kepada kita sesuatu yang menjadi kebalikan fakta yang mereka sembunyikan, sampai munculnya Al-Qa’im alias Al-Mahdi yang mereka tunggu-tunggu. Yaitu imam mereka yang kedua belas bernama Muhammad bin Al-Hasan Al-Askari. Padahal jelas kalau Al-Mahdi, berdasarkan keterangan beberapa riwayat hadits shahih, bernama Muhammad bin Abdullah yang sampai sekarang belum lahir. Tetapi kalau Al-Mahdi versi yang dipercaya oleh orang-orang Syi’ah, ia sudah lahir sejak seratus tahun lebih yang lalu. Tetapi anehnya dalam pandangan mereka, ia masih samar.

• Seorang imam yang menjadi rujukan kaum Syi’ah bernama Muhammad Taqi Al-Musawi Al-Ashfahani dalam kitabnya Wadhifat Al-Anam fi Zaman Gaibah Al-Imam, hal. 43, cetakan pertama, Dar Al-Qari’-Beirut tahun 1987 Masehi, mengingatkan akan tugas-tugas yang harus dilakukan oleh orang-orang Syi’ah pada saat imam mereka belum muncul. Lebih lanjut ia mengatakan sebagai berikut, “Taqiyah harus dilakukan terhadap para musuh –maksudnya ialah kaum Ahli Sunnah-. Makna taqiyah yang wajib ialah seseorang harus menyembunyikan akidahnya ketika muncul mudharat yang kemungkinan dapat mengancam jiwanya atau hartanya atau kedudukannya. Ia harus memperlihatkan apa yang berlawanan dengan akidahnya lewat kata-kata, supaya ia bisa menjaga nyawa dan hartanya. Ia wajib menyembunyikan akidahnya yang benar di dalam hati.”

• Dalam kitab yang sama hal. 44, ia juga mengatakan, “Riwayat-riwayat tentang kewajiban melakukan taqiyah cukup banyak. Dan apa yang saya kemukakan untuk menerangkan makna taqiyah yang wajib, merupakan pemahaman hadits tersebut demi membela Amirul Mukminin Alaihissalam. Tiga kali saya tekankan untuk tidak boleh meninggalkan taqiyah, karena hal itu akan menimbulkan kehinaan.”

Kami katakan, coba perhatikan, bagaimana taqiyah dipahami oleh seorang ulama ysiah yang satu ini dan juga oleh Al-Khomeini. Ternyata menurut mereka, tujuan taqiyah bukan untuk menjaga nyawa, melainkan untuk mewujudkan tujuan-tujuan dan kepentingan-kepentingan tertrentu. Oleh karena itu, bagi mereka tidak ada istilah kejujuran dan kesetiaan, karena akidah Syi’ah menganjurkan kepada orang-orang Ahli Sunnah supaya orang-orang yang lugu di antara kita mengira bahwa mereka itu tidak banyak berbeda dengan kita.

Al-Ashfahani dalam kitabnya tersebut, hal. 44 mengemukakan sebuah riwayat dari Al-Imam Ali yang sanadnya dishahihkan. Sang imam mengatakan, “Janganlah kalian tertipu oleh banyaknya masjid dan oleh postur-postur tubuh kaum yang berbeda-beda.”

Seseorang bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, bagaimana ara hidup pada zaman seperti itu?” Ia menjawab, “Bergaullah dengan mereka secara barraniyah.” Maksudnya, berbaurlah dengan mereka secara lahiriah, dan berbedalah dengan mereka dalam batin. Seseorang akan menuai sesuai apa yang telah ia usahakan, dan ia akan bersama orang yang ia cintai. Walaupun begitu tunggulah kelapangan dari Allah Azza wa Jalla.”

Kata Al-Ashfahani, “hadits-hadits senada ini cukup banyak. Sebagiannya disebutkan dalam pembicaraan secara global tentang ukuran-ukuran akhlak.”

• Guru orang-orang Syi’ah bernama Murthadha Al-Anshari yang mereka beri gelar Syaikh Al-Guaqaha wa Al-Mujatihidin (guru para ulama ahli fiqih dan para ulama mujtahidin (guru para ulama ahli fiqih dan para ulama mujtahid) dalam kitabnya Risalah At-Taqiyah, hal. 53, cet. Daar Al-Hadi Al-Ula 1992 Masehi-Beirut Libanon, mengatakan,

“Pertama-tama, taqiyah itu disyaratkan harus terhadap mazhab kaum Ahli Sunnah, karena hal itulah yang diyakini dari dalil-dalil yang berlaku tentang izin dalam ibadah-ibadah berdasarkan taqiyah, karena yang diutamakan ialah taqiyah terhadap mazhab mereka, bukan taqiyah terhadap orang-orang kafir dan orang-orang Syi’ah yang zalim.”

Kami katakan, perhatikan, bagaimana dalil-dalil yang meyakinkan menurut mereka, yakni bahwa taqiyah itu dilakukan terhadap orang-orang Ahli Sunnah, bukan terhadap orang-orang kafir dan orang-orang Syi’ah yang zalim. Perhatikan pula ucapan Syaikh Musa Jarullah, bahwa mereka menganggap orang-orang Ahli Sunnah wal Jama’ah sebagai musuh bebuyutan mereka.

• Ayatullah yang agung Abul Qasim Al-Khau’i dalam kitabnya At-Tanqih Syarah Al-Urwah Al-Wutsqa (IV/332-333), Mathba’ah Shader-Qumm, dan Daar Al-Hadi-Qumm tahun 1401 Hijriyah, membicarakan tentang taqiyah. Ia mengatakan,

“Hal itu karena yang bisa diambil kesimpulan dari riwayat-riwayat hadits tentang taqiyah ialah bahwa taqiyah dianjurkan untuk menyembunyikan mazhab Syi’ah dari orang-orang yang menentang karena mereka tidak boleh mengenal gerakan tasyayyu’ atau rafidhah, atau untuk berbasa basi dengan mereka. Yang jelas, jika seorang mukallaf memperlihatkan mazhab Hanbali di depan seseorang yang bermazhab Hanafi misalnya, atau sebaliknya, ini berarti ia telah berhasil mewujudkan tujuan-tujaun tersebut. Jika ia shalat di masjid orang-orang bermazhab Hanafi, padahal ia cocok dengan mazhab Hanbali, berarti sama halnya ia shalat di masjid mereka atau sedang bersama mereka. Alasannya, karena yang diwajibkan ialah taqiyah terhadap orang-orang Ahli Sunnah dan berbasa-basi dengan mereka. Tidak ada satu pun di antara dalil-dalil tadi yang menerangkan kewajiban mengikuti berbagai golongan mereka yang berbeda-beda. Dan juga tidak ada satu pun dalil yang menjelaskan atas kewajiban mengikuti orang yang ditakuti mazhabnya. Sebab, yang harus dilakukan ialah bersikap basa-basi dengan orang-orang Ahli Sunnah dan menyembunyikan identitas Syi’ah dari mereka.”

Makna ucapan Al-Khau’i bahwa orang Syi’ah tidak harus menjadi seorang Hanafi ketika berada di antara para penganut mazhab Hanafi, atau ia tidak harus menjadi orang Syafi’i, dan seterusnya dan seterusnya, sudah cukup sebagai bukti bahwa menyembunyikan identitas Syi’ah ia boleh tampil dalam mazhab apa pun dari mazhab-mazhab Ahli Sunnah wal Jama’ah. Artinya, tidak apa=apa seorang Syi’ah tampil dengan mazhab Imam Abu Hanifah misalnya di depan orang-orang penganut mazhab Maliki. Yang penting, jangan sampai terbongkar kalau ia adalah orang Syi’ah.

Al-Khau’i dalam kitab At-Tanqih Syarah Al-Urwah Al-Wutsqa (IV/332), mengatakan,
“Seseorang yang mengamalkan taqiyah di depan orang-orang bermazhab Hanafi, tetapi ia melakukan amal sesuai dengan ajaran mazhab Hanbali, atau Maliki, atau Syafi’i, maka hal itu tidak ada masalah sama sekali.”

• Ayatullah Al-Khau’i dalam kitab Al-Tanqih Syarah Al-Urwah Al-Wutsqa (IV/292) mengatakan, “Contoh lain ialah melakukan wuquf di Arafah pada hari kedelapan Dzulhijjah. Soalnya para imam Alaihimussalam hampir setiap tahun selalu menunaikan ibadah haji. Sementara murid-murid dan para pengikut mereka juga biasa menunaikan ibadah haji bersama orang-orang Ahli Sunnah.”

Perhatikan, bagaimana terkadang mereka menyebut kaum Ahli Sunnah dengan sebutan Al-Ammah, dan terkadang pula mereka menyebutnya dengan sebutan orang-orang yang menentang atau para pembangkang. Al-Khau’i dalam kitab Al-Tanqih Syarah Al-Urwah Al-Wutsqa (IV/354) mengatakan,

“Adapun taqiyah dalam arti yang khusus ialah taqiyah terhadap Al-Ammah. Hal ini secara prinsip hukumnya wajib, berdasarkan beberapa riwayat hadits yang menunjukkan atas kewajibannya. Bahkan secara global mengaku beberapa hadits ada yang mutawatir.”

Perhatikan, bagaimana taqiyah yang dilakukan terhadap Al-Ammah alias orang-orang Ahli Sunnah wal Jama’ah, sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Amin dan lainnya, hukumnya adalah wajib bahkan mutawatir.

• Al-Khau’i dalam kitab Al-Tanqih (IV/255), mengatakan, “Disebutkan dalam suatu riwayat, ‘Bahwasanya taqiyah adalah agamaku dan agama nenek moyangku. Tidak ada agama sama sekali bagi orang yang tidak melakukan taqiyah.’ Ungkapan apa lagi yang lebih kuat dalam menunjukkan sebagai kewajiban daripada ungkapan tersebut? Ditegaskan, bahwa orang yang tidak setia melakukan taqiyah dianggap tidak beragama. Peran taqiyah tampak begitu penting bagi orang-orang Syi’ah, sehingga orang yang berani meninggalkannya juga dianggap tidak memiliki agama sama sekali. Dalam versi riwayat lain disebutkan, ‘Tidak ada iman sama sekali bagi orang yang tidak melakukan taqiyah.’ Ungkapan ini juga menunjukkan atas kewajiban, sebagaimana ungkapan dalam riwayat sebelumnya. Dalam versi riwayat ketiga disebutkan, ‘Seandainya kamu mengatakan, bahwa orang yang meninggalkan taqiyah itu sama seperti orang yang meninggalkan shalat, maka kamu benar.’ Dalil tentang kewajibannya sudah jelas, karena shalat adalah titik yang membedakan antara kekafiran dan keimanan, seperti yang dijelaskan dalam beberapa riwayat hadits. Sementara keuddukan taqiyah itu sama dengan kedudukan shalat, dan sekaligus menunjukkan bahwa taqiyah juga titik yang memisahkan antara kekafiran dan keimanan. Dan dalam versi riwayat keempat disebutkan, ‘Bukanlah termasuk golongan kami roang yang tidak menjadikan taqiyah sebagai semboyannya.’ Dalam riwayat lain disebutkan, orang yang meninggalkan taqiyah itu dianggap termasuk orang yang menyaiarkan kaum Syi’ah dan memperkenalkan mereka kepada musuh-musuhnya. Masih banyak lagi riwayat-riwayat serupa. Tetapi pada dasarnya hukum taqiyah itu wajib.”

Menurut kami, taqiyah yang dihukumi wajib dalam pandangan Al-Khau’i ialah taqiyah dalam arti khusus, yakni taqiyah yang dilakukan terhadap orang-orang Ahli Sunnah wal Jama’ah. Sungguh sangat detail istilah atau ungkapan yang digunakan oleh Musa Jarullah. Adapun taqiyah dalam arti umum yakni taqiyah yang dilakukan terhadap orang-orang kafir, hukumnya hanya boleh, berbeda dengan Ahli Sunnah wal Jama’ah (hukumnya wajib). Coba Anda simak bagaimana hal itu ditegaskan oleh Al-Khau’i. Ia mengatakan dalam Al-Tanqih (IV/254), “Adapun taqiyah dalam arti umum, pada dasarnya dihukumi boleh atau halal.”
Ini merupakan bukti yang menguatkan bahwa di mata kaum Syi’ah, orang-orang Ahli Sunnah wal-Jama’ah itu lebih jahat daripada orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang musyrik. Mengamalkan taqiyah terhadap orang-orang Ahli Sunnah itu hukumnya wajib, dan terhadap orang-orang kafir hukumnya hanya boleh.

• Al-Khau’i dalam kitabnya Shirath An-Najat fi Ajwibat Al-Istifa’at, jilid II, hal. 79, Maktabah AL-Faqih-Kuwait tahun 1996 Masehi, ditanya,

“Apa yang dimaksud dengan taqiyah dalam ibadah? Apakah mungkin menyifatinya dengan kelima hukum agama? Dan apakah taqiyah itu harus dilakukan karena alasan kekhawatiran terkena mudharat atau hanya sekedar memperlihatkan sikap basa-basi begitu saja?”

Al-Khau’i menjawab, “Mengamalkan taqiyah dengan alasan karena khawatir timbulnya mudharat yang dimungkinkan terjadi adalah wajib. Dan taqiyah dalam shalat bersama mereka (kaum Ahli Sunnah) hukumnya sunnat, meskipun tanpa alasan adanya kekhawatiran timbulnya mudharat.”

Di sini tadi Al-Khau’i menegaskan bahwa taqiyah itu dilakukan terhadap orang-orang Ahli Sunnah wal Jama’ah, meskipun tanpa ada alasan kemungkinan timbulnya mudharat.

• Ayatullah yang agung Kazhim Al-Hairi dalam kitabnya Al-Fatawa Al-Muntakhabat, hal. 150, jilid I, Maktabah Al-Faqih-Kuwait, juga ditanya,

“Apa kriteria-kriteria taqiyah yang boleh diamalkan menurut syariat? Apakah ucapan yang menyakitkan kritik terhadap mazhab, dan mendiskreditkan itu termasuk hal-hal yang memperbolehkan untuk melakukan taqiyah?”
Al-Kazhim menjawab, “Seorang Syi’ah sebaiknya menjalin pergaulan sedemikian rupa dengan orang Sunni, sehingga ia selalu berbaik sangka kepada Syi’ah dan bukannya membuat lari dari mereka.”

Sumber: Al-Mushili, Abdullah. Mengungkap Hakikat Syi’ah. Jakarta: Darul Falah

Bersambung…

#SyiahSesat #SyiahBukanIslam

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.