Ajaran Syiah: Taqiyah (Bagian 1)

TAQIYAH PADA ORANG-ORANG SYI’AH

Pembahasan Pertama

TAQIYAH PADA ORANG-ORANG SYI’AH, DAN MEREKA ENGGAN MENYATAKAN SECARA TERBUKA KEYAKINAN-KEYAKINANNYA

Taqiyah pada orang-orang Syi’ah, ialah bersikap menampakkan kebalikan fakta yang sebenarnya. Taqiyah memperbolehkan seorang Syi’ah menipu orang lain. Berdasarkan taqiyah ini, seorang Syi’ah mengingkari lahiriyah sesuatu yang ia yakini dalam batin. Sebaliknya taqiyah juga memperbolehkan orang Syi’ah mempercayai apa yang ia ingkari dalam batin. Itulah sebabnya Anda lihat orang-orang Syi’ah sering mengingkari keyakinan-keyakinan mereka sendiri di depan kaum Ahi Sunnah. Contohnya seperti pendapat tentang perubahan pada Al-Qur’an, mencaci-maki shahabat, menganggap kafir orang lain, menuduh keji kaum Muslimin, dan keyakinan-keyakinan lain yang insya Allah akan kami terangkan nanti dalam tulisan ini.

• Salah seorang ulama Sunni yang begitu bagus mendefinisikan akidah keji ini ialah Syaikh Muhibuddin Al-Khathib Rahimahullah. Ia mengatakan,

“Kendala utama yang menghalangi upaya terwujudnya interaksi yang jujur dan tulus antara kita dan kaum Syi’ah ialah apa yang mereka sebut dengan taqiyah. Sesungguhnya taqiyah ialah suatu akidah keagamaan yang memperbolehkan mereka memperlihatkan kepada kita kebalikan fakta yang mereka sembunyikan. Akibatnya, orang yang berhati sehat di antara kita akan tertipu terhadap kepura-puraan mereka terhadapnya. Mereka ingin dianggap sepaham dan tidak persoalan dengannya. Padahal sejatinya mereka tidak menginginkan hal itu, tidak menyukainya, dan juga tidak mau melakukannya, kecuali dalam keadaan darurat atau kepentingan-kepentingan mereka yang lain.” (Lihat Al-Khuthut Al-Aridhah, hal.10).

• Seorang guru dan tokoh ahli hadits Syi’ah bernama Muhammad bin Ali bin Al-Husain yang dijuluki Ash-Shaduq dalam Risalah Al-I’tiqadat, hal.104, terbitan Markaz Nasyru Al-Kitab (Pusat Penyebaran Kitab Iran) 1370 Hijriyah, mengatakan,

“Menurut keyakinan kami, bahwasanya taqiyah itu hukumnya wajib. Siapa meninggalkan taqiyah, kedudukannya sama dengan orang yang meninggalkan shalat. Taqiyah adalah kewajiban yang tidak boleh dihilangkan sampai munculnya Al-Qa’im. Siapa meninggalkan taqiyah sebelum munculnya Al-Qa’im, berarti ia telah keluar dari agama Allah dan dari agama Imamiyah. Bahkan ia telah berani menentang Allah, Rasul-Nya, dan para imam.”

• Para ulama Syi’ah menaruh perhatian yang cukup besar terhadap masalah taqiyah. Anda lihat Muhammad bin Al-Husain bin Al-Hurru Al-Amili dalam ensiklopedi modernnya, Wasa’il Asy-Syi’ah (XI/472), menulis satu bab dengan judul, Bab Kewajiban Memperhatikan Taqiyah dan Memenuhi Hak-Hak Sesama saudara

• Dalam ensiklopedi tersebut (XI/470), ia juga menulis bab dengan judul, Bab Kewajiban Mempergauli Ahlus Sunnah dengan Taqiyah.

Dan ia juga menulis bab dengan judul, Bab Kewajiban Taat kepada Penguasa Berdasarkan Taqiyah, Wasa’il Asy-Syi’ah (XI/471).
Hal yang sama juga dikemukakan oleh guru dan Ayatullah Syi’ah, Husain Al-Barujardi dalam kitab Jami’Ahadits Asy-Syi’ah jilid XIV, hal. 504 dan seterusnya, terbitan Iran.

Itu tadi hanya sekedar contoh bukan sebagai pembatasan.

Terdapat banyak sekali riwayat yang menganjurkan orang-orang Syi’ah untuk setia pada taqiyah. Dai antaranya seperti yang diriwayatkan oleh Al-Kulaini dalam Al-Kafi, bab “Taqiyah” (II/219), dari Ma’mar bin Khallad, ia berkata,

“Aku bertanya kepada Abul Hasan tentang berdiri untuk menghormat para penguasa. Ia menjawab, ‘Kata Abu Ja’far, taqiyah itu bagian dari agamaku dan agama nenek moyangku. Tidak ada iman sama sekali bagi orang yang tidak mengamalkan taqiyah’.”

• Disebutkan dalam Al-Kafi (II/217) dari Ash-Shadiq, ia berkata, “Aku pernah mendengar ayahku mengatakan,

“Tidak. Demi Allah, tidak ada sesuatu yang paling aku sukai di muka bumi ini dari taqiyah. Wahai habib (putraku tersayang), sesungguhnya orang yang mengamalkan taqiyah, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya. Wahai putraku tersayang, orang yang tidak mengamalkan taqiyah, niscaya Allah akan merendahkan derajatnya. Wahai putraku tersayang, sesungguhnya manusia itu dalam kondisi menahan diri. Jika ia sudah muncul, hal itu akan terjadi’.”

• Disebutkan dalam Al-Kafi (II/220) sebuah riwayat dari Abu Abdullah Alaihissalam, ia berkata, “Taqiyah adalah perisai Allah antara Dia dan makhluk-Nya.”

• Disebutkan dalam Al-Kafi (II/218) sebuah riwayat dari Abu Abdullah Alihissalam, ia berkata, “Allah Azza wa Jalla tidak berkenan menerima kami dan kalian dalam agama-Nya, kecuali taqiyah.”

• Disebutkan dalam Al-Kafi (II/220) sebuah riwayat dari Abu Abdullah Alaihissalam, ia berkata, “Ayahku pernah mengatakan,
‘Sesuatu apa lagi yang lebih menyejukkan mataku daripada taqiyah? Sesungguhnya taqiyah adalah perisai orang Mukmin’.”

• Disebutkan oleh Al-Kulaini dalam Al-Kafi (II/372), dan oleh Al-Faidh Al-Kasyani dalam Al-Wafi (III/159), Dar Al-Kutub Al-Islamiyat Teheran, sebuah riwayat dari Abu Abdullah Alaihissalam, ia berkata,

“Barangsiapa yang membuka harinya dengan menyiarkan rahasia kami, niscaya ia akan dikuasai oleh panasnya besi dan sempitnya majelis-majelis.”

• Disebutkan dalam Al-Kafi (II/222), dan Al-Rasa’il oleh Al-Khomeini (II/185), sebuah riwayat dari Sulaiman bin Khalid, ia berkata, Abu Abdullah Alaihissalam berkata,

“Wahai Sulaiman, sesungguhnya kamu harus berpegang teguh pada suatu agama. Siapa menyimpannya, Allah akan memuliakannya. Dan siapa menyiarkannya, Allah akan menghinakannya.”

• Disebutkan oleh Al-Hurru Al-Amili dalam Wasa’il Asy-Syi’ah (XI/473), sebuah riwayat dari Amirul Mukminin Alaihissalam, ia berkata, “Taqiyah adalah amal paling utama bagi orang-orang Mukmin.”

Disebutkan dalam Wasa’il Asy-Syi’ah (XI/474), sebuah riwayat dari Ali bin Al-Husain Alaihissalam, ia berkata,

“Allah mengampuni setiap dosa orang Mukmin dan membersihkan ia daripadanya di dunia dan di akhirat, kecuali dua dosa; yakni meninggalkan taqiyah dan mengabaikan hak-hak sesama saudara.”

Disebutkan dalam Jami’ Al-Akhbar oleh guru Syi’ah, Tajuddin Muhammad bin Muhammad Asy Sya’iri, hal. 95, Haidiriyah-Naif, sebuah riwayat dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Orang yang meninggalkan taqiyah adalah seperti orang yang meninggalkan shalat.”

• Disebutkan dalam Wasa’il Asy-Syi’ah (Xi/466), sebuah riwayat dari Ash-Shadiq Alaihissalam, ia berkata, “Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak setia pada taqiyah.”

• Disebutkan dalam Jami’ Al-Akhbar, hal. 95, Abu Abdullah Alaihis Shalatu wa Salam berkata, “Bukanlah termasuk pengikut Ali orang yang tidak mengamalkan taqiyah.”

Menurut kami, orang-orang Syi’ah sesuai dengan ideologinya, mereka dituntut untuk selalu berpegang teguh pada taqiyah sampai bangkitnya Al-Qa’im, yakni imam mereka yang kedua belas yang mereka klaim. Barangsiapa meninggalkan taqiyah sebelum kebangkitannya, ia bukan termasuk golongan mereka, sebagaimana yang diceritakan oleh guru dan juru bicara Syi’ah, Muhammad bin Al-Hasan Al-Hurru Al-Amili dalam kitab Itsbat Al-Hudat (III/477), Maktabah Al-Ilmiyah, Qumm-Iran, dari Abu Abdullah Alaihissalam dalam sebuah hadits tentang taqiyah, ia berkata, “Barangsiapa meninggalkan taqiyah sebelum kehadiran Al-Qa’im kami, ia bukan termasuk golongan kami.” Dan juga seabgaimana yang iriwayatkan oleh Asy Sya’iri dalam Jami’ Al-Akhba, hal. 95, dari Ash Shadiq, ia berkata, “Barangsiapa meninggalkan taqiyah sebelum keluarnya Al-Qa’im kami, ia bukan termasuk golongan kami.”

• Ayatullah Ruhullah Al-Mausawi Al-Khomeini dalam kitab Al-Rasa’il (II/174) mengatakan,

“Sekali tempo taqiyah itu dilakukan karena alasan khawatir atau takut, dan pada tempo yang lain karena alasan basa basi. Yang dimaksud dengan basa-basi ialah mempertahankan satu cakupan kalimat yang sama untuk menyenangkan para pembangkang (Ahlus Sunnah) dan menarik simpati mereka, tanpa ada kekhawatiran timbulnya mudharat seperti yang berlaku dalam taqiyah karena alasan takut yang penjabarannya akan dikemukakan nanti. Taqiyah terkadang harus dilakukan karena alasan lain yang bersifat eksternal, dan terkadang pula harus dilakukan dengan sendirinya, dalam arti menyembunyikan sebagai bandingan menyiarkan.”

Perhatikan ucapan basa-basi orang ini “… untuk menyenangkan para pembangkang (Ahlus Sunnah) dan menarik simpati mereka tanpa ada kekhawatiran timbulnya mudharat.”

Perhatikan pula, bagaimana ia memperbolehkan taqiyah tanpa ada alasan kekhawatiran timbulnya mudharat. Renungkan hal itu. Jika yang dianggap para pembangkang adalah saudara-saudaranya seagama sendiri, kenapa harus melakukan taqiyah terhadap mereka?

• Imam Al-Khomeini dalam Al-Rasa’il (II/175) mengatakan,

“Di antara taqiyah ada yang disyariatkan demi basa-basi kepada manusia dalam rangka untuk menarik rasa simpati mereka. Dan ada yang dilakukan dengan mempertimbangkan orang yang menjadi obyeknya. Pertama, taqiyah dilakukan terhadap orang-orang kafir dan orang-orang yang tidak meyakini Islam, baik dari kalangan para penguasa atau rakyat biasa. Kedua, taqiyah dilakukan terhadap para penguasa dan para tokoh kaum Ahli Sunnah. Ketiga, taqiyah dilakukan terhadap para ulama ahli fiqih dan para ulama ahli hukum (qadhi) dari kalangan terpelajar. Dan keempat, taqiyah dilakukan terhadap para ulama ahli fiqih dan ahli hukum hukum (qadhi) dari golongan orang-orang kebanyakan mereka. Kemudian taqiyah terhadap orang-orang kafir dan lainnya terkadang dilakukan dengan cara melakukan suatu perbuatan yang cocok dengan orang-orang Ahli Sunnah, seperti misalnya seorang penguasa yang mewajibkan kaum Muslimin untuk mengikuti fatwa Imam Abu Hanifah, dan terkadang pada selainnya.”

Wahai saudara kami sesama Muslim, coba Anda perhatikan ucapan Al-Khomeni “disyaratkan”. Ini jelas merupakan kewajiban atau penekanan (bukan sifatnya sampingan), bukan kemurahan. Ucapan Muhammad Al-Ghazali Rahimahullah bahwa taqiyah itu disebabkan oleh kezaliman sebagian orang Sunni terhadap kaum Syi’ah –seperti yang akan diterangkan nanti- hal itu tidak perlu digubris. Apalagi kita tahu bahwa Al-Ghazali bukan ulama khusus dalam masalah ini. Barangkali ia mengutip ucapan tersebut dari beberapa penulis Syi’ah yang menggunakan taqiyah.

Bersambung..

Dan kita akan bongkar kesesatan syiah!!

#SyiahBukanIslam #SyiahKafir

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.